Meski dengan suara terbata, Sangaji (74) berusaha mengeja huruf demi huruf di Al-Qur’an. Di usia yang sudah tidak muda, menurutnya ia masih suka ikut pengajian di masjid dekat rumah.
Kerap kali, merawat ‘anak istimewa’ menguras emosi lebih banyak para orangtua, terutama ibu. Apalagi berjuang mendidik dengan metode yang berbeda. Tentu tantangan yang tak mudah.
Kepedulian kepada sesama tak hanya terlahir dari orang berpunya. Pun kepedulian dapat tumbuh subur dalam dada mereka yang qanaah, seperti yang dilakukan oleh salah satu penerima manfaat zakat Sinergi Foundation, ibu Sutresnawati.
Sebab sebaik-baik perjalanan adalah pulang. Meski banyak hal indah yang kau temui di luar rumah, tapi kehangatan keluarga mungkin tak pernah bisa tergantikan dengan mudah.
Dari sosok almh. ibu, Asep Witana (53) belajar empati kepada orang lain. Karena itu, sebelum mengabdikan dirinya kepada negara sebagai anggota Satpol PP Div. Kebencanaan, Asep lebih dulu aktif sebagai relawan di berbagai organisasi penyelamatan.
Dari darat ke laut, dari puncak lalu ke pantai. Sejumput gambaran kecil yang bisa tergambar dari kemeriahan program nikah massal yang digagas oleh Senyum Indonesia, berkolaborasi dengan Sinergi Foundation dan beberapa lembaga lainnya, Sabtu (30/3/2019).
Pekerjaan Sutendi adalah pegawai instalasi listrik. Tak mudah baginya, untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Apalagi ketika anak perempuannya Siti Azka, terdiagnosa epilepsi sejak usia enam bulan.
Menderita Cerebral Palsy sejak usia 11 tahun, Mega hanya mampu terbaring tak berdaya di tempat tidur. Putri kedua Pak Rofingi ini bahkan tak mampu menggerakkan tangannya untuk sekadar makan. Sepenuhnya ia bergantung kepada keluarga setelah tubuhnya lumpuh total.