Tak Berkategori

CEO Sinergi Foundation Jadi Pembicara Konferensi Internasional Filantropi Islam

 

SF-UPDATE,– Ratusan akademisi, pakar, dan praktisi penggerak wakaf, zakat, dan keuangan mikro syariah berkumpul dalam 5th Southeast Asia International Islamic Philanthropy Conference (SEAIIPC) di Hotel Avillion, Melaka, Malaysia, Rabu (15/2/2017) esok. Acara ini dihelat oleh Center for Islamic Philanthropy and Social Finance (CIPSF-UiTM), Institut Manajemen Zakat (IMZ) Jakarta, dan Institut Kajian Zakat (IkaZ-UiTM).

Sebagai salah satu lembaga yang memiliki kiprah panjang dalam menggiatkan wakaf, Sinergi Foundation (SF) diminta menjadi salah satu pembicara dalam konferensi. CEO SF, Ima Rachmalia berkesempatan menjelaskan terkait salah satu program SF, Firdaus Memorial Park, dan mengupas masalah di balik pemakaman di Indonesia.

"Masalah keterbatasan lahan pemakaman sudah begitu kompleks bagi seluruh lapisan masyarakat, apalagi ini mengakibatkan melangitnya harga sebuah kavling kuburan,” kata Ima.

“Bagi kaum dhuafa bahkan jauh lebih rumit, sebab mereka harus sanggup menyediakan dana yang mencapai jutaan rupiah untuk dapat memakamkan sanak saudaranya dengan layak,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, ada banyak hal lagi yang akan dikupas dalam konferensi. SF mencoba meretas solusi atas permasalahan ini dengan membuat aset wakaf yang dimiliki umat, melalui program Firdaus Memorial Park.

Ima bersyukur. Sebab melalui kegiatan ini, ia bisa menyosialisasikan program keumatan ini secara lebih global. Terutama, menambah jejaring dan melihat inovasi filantropi di negeri-negeri tetangga.

SF sendiri merasa tak kalah saing. Ia menyatakan kiprah Sinergi Foundation tak sebatas FMP. Dengan wakaf dari segenap insan peduli, SF juga menggiatkan sejumlah aset wakaf produktif. Sebut saja Rumah Makan Ampera Pasteur. Dalam waktu dekat, SF pun hendak mencanangkan pembangunan Rumah Sakit Wakaf (RSW) Ibu dan Anak. (Agh)

 

didieto14 Februari 2017

Berita

Temu Ilmiah Regional Jawa Barat, Dua Mahasiswa BPB Torehkan Prestasi

temu-ilmiah-regional-jawa-barat-dua-mahasiswa-bpb-torehkan-prestasi

SF-UPDATES,– Mahasiswa BPB kembali menunjukkan torehan prestasi. Adalah Eko Ruslamsyah dan Faqih Adam, yang berhasil mendapatkan prestasi dalam acara Temu Ilmiah Regional Jawa Barat. Helatan bertema “Implementing Halal Lifestyle to Develope Economy” ini diadakan Forum Studi Ekonomi Islam bersama KSEI Imeis di IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada tanggal 9 – 12 Februari 2017. Acara ini diikuti…

Baca selengkapnya

didieto13 Februari 2017

Berita

Sinergi Foundation Silaturahim Bersama IDI Kabupaten Bandung Bahas Rumah Sakit Wakaf

sinergi-foundation-silaturahim-bersama-idi-kabupaten-bandung-bahas-rumah-sakit-wakaf

SF-UPDATE,– Sinergi Foundation (SF) menjalin silaturahim bersama pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bandung, Jumat (10/02/2017). Agenda silaturahim membahas rencana inisiasi pembangunan aset umat, Rumah Sakit Wakaf (RSW) Ibu dan Anak, yang sedianya akan berlokasi di Soreang Kab. Bandung. Dalam kesempatan tersebut, dihadiri Deputy CEO SF, Asep Irawan, Strategic MarComm HB Sungkaryo dan Budimansyah Manager…

Baca selengkapnya

didieto13 Februari 2017

Tak Berkategori

Forum Wakaf Produktif Tetapkan Target Kontribusi 10 Persen pada PDB Negara

SF-UPDATE,– Usai peluncuran di pengujung 2016, Forum Wakaf Produktif (FWP) menggelar rapat membahas hal-hal yang penting. Di antaranya, penentuan visi misi forum tersebut, pembentukan struktur organisasi, dan program kerja.

Ketua FWP Bobby P. Manulang menjelaskan, rapat tersebut menghasilkan tiga bulir kesepakatan. Pertama, menjadikan wakaf sebagai sektor ekonomi nasional, kedua, menjadikan wakaf sebagai salah satu instrumen ekonomi nasional. Ketiga, memberikan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan sosial.

“Visi kami di mana dengan gagasan wakaf produktif ini bisa turut berkontribusi sebanyak 10 persen untuk PDB,” kata Bobby di kantor Badan Wakaf Indonesia (BWI) Jakarta, Kamis (9/2/2017).

Ia juga mengaku ingin memperluas cara pandang masyarakat terkait wakaf produktif. Juga, mengoptimalkan sinergitas para stakeholder wakaf di kalangan akademisi, bisnis, dan civil society.

Sementara itu, FWP telah menggagas sejumlah program kerja eksternal dalam waktu dekat ini. Di antaranya: edukasi dan sosialisasi wakaf produktif kepada masyarakat, sinergi penghimpunan wakaf tunai, optimalisasi aset wakaf, dan optimalisasi hubungan kerja sama dengan LKS-PWU dan mitra strategis.

Sebelumnya, ketua BWI, Slamet Riyanto sempat menegaskan terbentuknya FWP ini untuk mengarahkan gerakan wakaf produktif ke arah yang lebih maju, lebih massif, dan lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat.

Forum Wakaf Produktif ini beranggotakan lembaga professional yang concern membahas hal ini. Di antaranya Badan Wakaf Indonesia (BWI), Sinergi Foundation (Wakafpro), Dompet Dhuafa, Wakaf Al-Azhar, Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa (ESQ), Perhimpunan BMT Indonesia, Global Wakaf, Rumah Wakaf, Wakaf Daarut Tauhiid, dan Wakaf Bani Umar. [agh]

didieto9 Februari 2017

Berita

Wujudkan Indonesia Berdaulat Pangan, Sinergi Foundation Survey ke Desa Pelosok

wujudkan-indonesia-berdaulat-pangan-sinergi-foundation-survey-ke-desa-pelosok

SF-UPDATES,– Demi mewujudkan cita-cita Indonesia berdaulat pangan melalui program Lumbung Desa, Sinergi Foundation melakukan survey ke pelosok. Salah satunya, survey ke Desa Cikadu Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang dilaksanakan pada Selasa (07/02/2017). CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia menerangkan, kedatangan mereka ke desa tersebut dalam rangka meninjau kondisi masyarakat, potensi desa, serta keseriusan para…

Baca selengkapnya

didieto8 Februari 2017

Berita

Kementrian Agama Akan Sertifikasi Profesi Amil Zakat

SF-UPDATES,– Forum Zakat (FoZ) menggandeng Kementerian Agama dalam program Sertifikasi Amil Zakat. Sertifikasi tersebut selain untuk mendata, juga meningkatkan kapasitas amil zakat agar lebih profesional dalam bertugas. "Untuk menjadi amil zakat yang profesional, harus ada standar kemampuan yang dimiliki, agar ia tidak asal-asalan menyalurkan dana zakat," kata Ketua Forum Zakat, Nur Effendy, saat Konferensi Zakat…

Baca selengkapnya

didieto8 Februari 2017

Berita

Buah Manis Menimba Ilmu, Sejumlah Mahasiswa BPB Selesaikan Pendidikan dengan Gemilang

SF-UPDATE,– Serupa memetik manis dari perihnya perjuangan, sejumlah mahasiswa penerima manfaat Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB) berhasil lulus dengan nilai prima dari universitas-universitas ternama di Indonesia. Tak hanya itu, sejumlah prestasi pun diukir oleh mereka. Berikut informasinya yang berhasil Redaksi himpun ;   Dinda Listya Bestari Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad ini telah menyelesaikan pendidikan S1-nya. Pada…

Baca selengkapnya

didieto8 Februari 2017

Tak Berkategori

[Kisah Member RBC] Sedekah di Kala Susah

illustrasi

Dinding-dinding ruangan itu berwarna merah muda. Binar terangnya mengelabu, seiring dengan cat-catnya yang mulai mengelupas. Suminarni berdiri di muka pintu. Bersenandung, sesekali membelai bayi dipangkuannya yang terlelap tidur. Pelan-pelan, ia memasuki kamar, menidurkan puterinya di kasur yang bertumpuk-tumpuk di sudut ruangan.

Ia terduduk di lantai. Kamar yang telah ia tinggali selama empat tahun itu hanya menyisakan sedikit ruang untuk sekadar menyelonjorkan kaki. Seluruh ruangan padat diisi perabot. Lemari pakaian, rak, dan peralatan masak. Fungsi-fungsi tempat tidur, dapur, juga ruang tamu tumplek dalam ruangan 2×3 meter itu.

Suminarni merogoh saku celananya. Ada uang seribu, sisa ia membeli sayuran pagi tadi. Ia meraih sebuah box dari rak. Transparan, dengan garis-garis berwarna hijau muda memenuhi sisi-sisinya. Serupa celengan uang, namun di bagian depan tertulis ‘Daily Sedekah’. Ia tersenyum. Kotak sedekah itu sudah mulai penuh. Bayangan bisa berbagi pada yang membutuhkan tergambar di pelupuk matanya.

Baginya, sedekah serupa membagi harapan hidup dengan orang lain. Ia memang bukan orang kaya, yang bangga menenteng tas seharga ratus jutaan. Untuk makan saja Suminarni harus berhemat! Banyak pula kebutuhan hidup yang harus diprioritaskan, misalnya uang sewa kontrakan yang saat ini ia tinggali. Lalu kenapa?  Bukankah sedekah tidak hanya diperuntukan bagi orang kaya? Keinginan berbagi Suminarni toh tak hancur tergerus rintangan hidup.

Sejak kecil, ia kerap diajari memberi oleh orangtuanya. Berbagi kebahagiaan, baik berupa uang atau makanan, dengan saudara-saudaranya walau sedikit. Kian lama ia tumbuh dewasa, kebutuhan ekonomi mereka tak bisa dikatakan baik. Pun ketika menikah dengan Ikin Sodikin, suaminya. Ia yang lama menetap di Cilacap akhirnya diboyong ke Bandung demi mencari penghidupan yang lebih baik. Berharap bisa mendapat upah hasil jerih payah untuk dikirim ke kampung halaman.

Penanaman orangtuanya tentang sedekah itu terus membekas di hati Suminarni. Tak hanya berbagi dengan keluarga, namun secara luas pada masyarakat yang lebih tak beruntung darinya. Sebab itu, saat ada yang menawari konsep derma melalui kotak Daily Sedekah, ia langsung menerimanya.

Awalnya, ia terkesima saat seorang ustaz menyampaikan materi keutamaan sedekah di Majelis Taklim Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) yang dia ikuti. Mendapat syafaat, terhalang dari api neraka, pahala yang mengalir, dan lainnya. Sebegitu banyak kah ganjaran berlipat-lipat yang akan ia terima dari-Nya?

Bersemangat, ia mengambil salah satu dari kotak-kotak Daily Sedekah itu. Jika kotak telah penuh, uang tersebut ia berikan pada lembaga Sinergi Foundation, yang nantinya akan mereka salurkan ke masyarakat membutuhkan melalui program sosial dan pemberdayaan masyarakatnya. Suminarni pulang ke rumah dengan perasaan tak sabar menjelaskan tentang kotak Daily Sedekah pada suami dan anak pertamanya.

“Kalau ada sisa uang, receh pun tak apa, masukkan ke kotak ini. Nanti kalau sudah banyak, akan dipakai untuk membantu orang-orang yang membutuhkan,” katanya semangat. Dua orang di hadapannya menyimak antusias. Suminarni pun menjelaskan ulang materi sang ustaz, tentang kelapangan hati yang didapatkan orang-orang yang bersedekah.

Sebenarnya, kalau Suminarni mau menengok ke kehidupannya, ia bisa saja dengan egois menolak bersedekah. Suaminya hanyalah buruh sablon, dengan gaji Rp300.000 perminggu. Untuk menghidupi empat orang anggota keluarga, bayar sewa kontrakan, juga keperluan sekolah anak, tentu pas-pasan. Sering jika terdesak, mereka terpaksa tak mengirim uang ke kampung halaman mereka.

Bahkan, merunut finansial keluarga Suminarni satu tahun lalu, mereka kekurangan uang untuk persalinan si bungsu. Pada akhirnya, ia mendaftarkan diri sebagai mustahiq di Rumah Bersalin Cuma-Cuma. Ia terbantu. Suminarni bersalin tanpa perlu mengeluarkan biaya.

Namun, di tengah kegembiran atas lahirnya puteri mereka, Allah memberikan ujian. Pasca kelahirannya, bayi mereka sakit-sakitan, terindikasi menghisap air ketuban saat dalam kandungan. Ia terpaksa diinapkan di salah satu RSU Pajagalan. Dua belas hari puteri mereka dirawat, bukan main kagetnya mereka melihat tagihan yang diterima. Sembilan juta.

“Saya tak punya uang sebanyak itu. Akhirnya, keluarga saya di kampung datang, memberi sedikit bantuan,” kisahnya. Suminarni dan Ikin pun membatalkan rencana cukuran puteri mereka. Uangnya, ditambah hasil pinjaman dan pemberian keluarga, dipakai untuk menutup biaya perawatan sang anak di RS.

Sekali lagi, andai ia tak mengambil kotak Daily Sedekah, tentu kelihatannya akan lebih mudah. Uang sedekah itu bisa mereka pakai untuk kehidupan mereka.  Tapi tidak. Suminarni tetap mengambil kotak itu, tanpa sedikitpun terbersit perasaan, bahwa sedekah akan memberatkan hidup mereka.

“Tak apa, uang masih bisa dicari lagi. Kan Allah yang Maha Pemberi. Rezeki lebih sedikit pun, harus tetap dibagi, jangan dimakan untuk sendiri,” katanya. Pun, ia menuturkan, ia tak mengharap apapun dari sedekah yang ia berikan. Semata karena ingin menabung pahala, dan beribadah dengan baik pada-Nya.

Maka terus terisilah kotak sedekah itu. Ia kerap menyisihkan uang belanja hariannya. Begitu juga dengan sang suami. Dari sisa uang makannya di tempat sablon, Ikin bisa bersedekah karena ia tak merokok sebagaimana kawan-kawannya yang lain. Barang sekadar seribu, dua ribu, mereka masukkan ke dalam kotak tersebut.

Dan sebagaimana yang diajarkan orangtuanya, Suminarni pun mengajak putra sulungnya yang masih menginjak kelas 4 SD untuk bersedekah. Ia sering meminta anaknya agar tak langsung menghabiskan uang saku. Meski receh, Fikri, putranya  itu, sering pula memenuhi kotak Daily Sedekah.

Seperti yang dijanjikan Allah pula, Suminarni merasakan hatinya menjadi lapang. Ditambah, perasaan bahagia karena bisa berbuat baik. Uang-uang yang disedekahkan tak menyempitkan keluarga mereka. Allah tak pula membuat mereka merasa berkekurangan. Dengan rezeki yang diperoleh, Suminarni sudah merasa bersyukur.

“Kalau rezeki yang ada dikatakan tak cukup, kita tidak bersyukur. Selama ini, saya merasa cukup,” tukasnya. [agh]

didieto6 Februari 2017

Tak Berkategori

Harta Hakiki, Harta yang Kita Beri

Dalam kehidupan dunia, kita dikelilingi hal-hal atau benda-benda yang diklaim sebagai milik kita. Keluarga, rumah, pekerjaan, pancaindera, harta, ilmu pengetahuan, keahlian, dan lain sebagainya semua kita sebut sebagai milik. Tapi benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita?
 
Memang berbagai perangkat keduniaan semisal surat-surat resmi bisa menjadi bukti bahwa keluarga, pekerjaan, tanah, dan sebagainya itu adalah milik kita, namun status kepemilikan kita adalah pemilik nisbi. Pemilik mutlak dari segala sesuatu hanyalah Allah SWT. Bahkan, diri kita yang lemah ini pun adalah milik-Nya.
 
Hal ini sering kita lupakan. Kita kerap lupa bahwa kita bukanlah pemilik mutlak, sampai-sampai bersikap seolah-olah pemilik sepenuhnya segala hal yang kita anggap milik kita. Sehingga, kita memperlakukannya sesuai dengan selera dan nafsu duniawi, bukan disesuaikan dengan keinginan sang pemilik mutlak, Allah SWT.
 
Hal itu juga terjadi pada harta. Kita sering lupa bahwa ia hanyalah titipan dari Allah SWT. Di balik itu sebenarnya ada tanggung jawab, ada amanah, bahkan ada sebagian darinya milik orang lain yang harus kita salurkan kembali.
 
Kala pertama kali menyebarkan Islam di Mekah, salah satu misi Nabi Muhammad SAW adalah memberantas sikap ketergantungan kepada materi yang menjangkiti masyarakat Arab pada waktu itu. Mereka begitu terlena dalam pusaran materialism, hingga sikap dan pandangan hidup mereka senantiasa diwarnai cara pandang materialistis.
 
Itu menjadi salah satu sebab mengapa dakwah Rasulullah SAW tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Mereka tidak peduli kepada dakwah Rasulullah SAW bukan karena apa yang beliau sampaikan tidak masuk akal atau karena Rasulullah SAW adalah orang yang tidak bisa dipercaya. Namun, karena Rasulullah SAW bukan dari golongan kaya–di mana kala itu Klan Hasyim, keluarga Rasulullah, sedang menurun pamornya. Kaum kafir Mekah hanya ingin mendengarkan kata-kata dari mereka yang berharta. Jadi, begitu kuat pesona harta benda hingga ia mampu menutup cahaya Ilahi (hidayah). 
 
Oleh karenanya, ada beberapa hal yang mesti dicamkan oleh umat Islam dalam menyikapi harta benda, yaitu:
 
Pertama, harta adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari Allah SWT untuk memikul tanggung jawab amanah harta benda. Karenanya, ia harus disyukuri sebab jika mampu memikulnya, pahala yang amat besar menanti. 
 
Kedua, harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggung¬jawab-kan. Setiap kondisi–entah baik atau pun buruk—yang kita alami sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT, dan mesti kita hadapi secara baik sesuai dengan keinginan yang memberi amanah. Harta benda yang dititipkan kepada kita juga demikian. Di balik harta melimpah, ada tanggung jawab dan amanah yang mesti ditunaikan. Harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah akan menjadi kotor, karena telah bercampur bagian halal yang merupakan hak pemiliknya dengan bagian haram yang merupakan hak kaum fakir, miskin, dan orang-orang yang kekurangan lainnya. Firman Allah SWT dalam surah at-Taubah (9) ayat 103, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
 
Ketiga, harta adalah ujian. Yang jadi ujian bukan hanya kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Persoalannya bukan pada kaya atau miskin, tetapi persoalannya adalah bagaimana menghadapinya. Kedua kondisi itu ada pada manusia, yang tujuannya dibalik itu cuma satu, yaitu Allah ingin mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Bagi yang berharta, tentunya, ada kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu.
 
Keempat, harta adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai. Allah SWT menciptakan bagi manusia banyak hiasan hidup. Keluarga, anak, dan harta benda adalah hiasan hidup. Dengannya, hidup menjadi indah. Namun, patut disadari bahwa pesona keindahan hidup itu sering menyilaukan hingga membutakan mata hati dan membuat manusia lupa kepada-Nya, serta lupa kepada tujuan awal penciptaan hiasan itu. Semua itu sebenarnya merupakan titipan dan ujian. Allah SWT berfirman di dalam surah at-Taghabun (64) ayat 15, "Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah pahala yang besar".
 
Kelima, harta adalah bekal beribadah. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Karenanya, segenap perangkat duniawi, baik yang materil maupun yang non materil, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan manusia untuk beribadah. Kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan hanya menjadi ibadah kala dinafkahkan di jalan Allah, ia bahkan sudah bernilai ibadah kala manusia dengan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya dan selebihnya untuk kemaslahatan umat. Jika harta dipergunakan sebaik-baiknya, pahala yang amat besar menanti. Namun jika tidak, siksa Allah amatlah pedih.
 
Di atas terlihat bahwa Islam begitu menekankan harta benda sebagai kepemilikan yang tidak terpusat pada satu atau segolongan orang. Namun, itu tidak bisa dipahami bahwa Islam mengabaikan sama sekali hak individu untuk menikmati harta yang telah diusahakannya dengan susah payah. Allah SWT. berfirman di dalam Al-Quran, surah Al-Isra (17) ayat 29, "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal".
 
Demikianlah, semoga kita tergolong orang-orang yang pandai menyikapi harta benda sesuai dengan ketentuan-Nya. Aamiin. Barakallahu li wa lakum, walhamdu lillahi rabbil 'alamin.

didieto6 Februari 2017

Tak Berkategori

Keluarga Besar Sinergi Foundation Sampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Ustaz Taufik Ridho

SF-UPDATES,– Keluarga besar Sinergi Foundation sampaikan duka cita mendalam atas wafatnya ustaz Taufik Ridho Lc, tadi pagi. CEO Sinergi Foundation Ima Rachmalia mengatakan bahwa almarhum Taufik Ridho merupakan salah satu pegiat sosial dan zakat di Indonesia.

“Semoga Allah mengampuni kesalahannya dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya,” doa Ima. Seperti diberitakan Alhikmah.co sebelumnya, Taufik Ridho wafat dini hari tadi di Jakarta, Senin (6/2/2016).

Beliau wafat pada usia 52 tahun. Beberapa kolega beliau menyampaikan ucapan belasungkawa seperti Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Anies Baswedan,dll. "Mari kita doakan almarhum dalam hati sanubari masing-masing. Kami tidak menyangka dia punya penyakit yang sudah diidap lama," kata Fahri. [mr]

didieto6 Februari 2017

1 336 337 338 339 340 371
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!