Tak Berkategori

Upaya Redam Angka Kematian Ibu-Anak, RBC Gelar Seminar Kesehatan

SF-UPDATE,– Upaya redam angka kematian ibu-anak, Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) menggelar seminar kesehatan dan Inspiring Motivation di Auditorium Poltekkes Bandung, Sabtu (3/12/2016). Mengusung tajuk “Evidence Based Maternal and Neonatal – Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi”.

Hadir sejumlah pakar dan praktisi kesehatan, seperti Ketua Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (MAKERSI), Dr. H. Hanny Rono S., Sp.OG(K), M, DR. Dr. Jeffry Iman Gurnadi, SpOG(K) FM, M.Kes, Dr. Tita Farida, Sp.A, M.Kes, dan penggagas Inkubator Gratis untuk Dhuafa Prof. Raldi Koestoer, dan peraih Srikandi Award bidan Kesih.

Menurut Direktur RBC, Dr Erni Trisnasari, edukasi pada masyarakat terkait masalah kesehatan dan persalinan, laki-laki maupun perempuan, sudah sangat urgen. Berbagai pihak, tak hanya pemerintah, harus turun tangan mengatasi masalah ini.

“Edukasi dan sosialisasi pengetahuan untuk kebaikan bersama sangat diperlukan. Supaya kesehatan bisa terjaga, sehingga dapat melahirkan generasi yang kuat dan unggul,” kata dr. Erni.

“Dengan seminar ini, kami mencoba bersinergi, sama-sama berjuang menciptakan generasi yang kuat untuk Indonesia ke depannya,” pungkas dr. Erni berharap. 

didieto4 Desember 2016

Tak Berkategori

Milad RBC, Guru Besar UI Hadiahkan Inkubator Gratis

SF-UPDATES,– Dalam rangka milad Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC), Penggagas Gerakan Inkubator Gratis cum peneliti UI, Prof. Raldi Koestoer menghadiahkan satu unit inkubator portable. Serah terima dilakukan dalam acara Seminar Kesehatan “Evidence Based Maternal and Neonatal” yang diadakan RBC pada Sabtu (3/12/2016).

“Suatu kehormatan bisa memberikan inkubator, karena RBC dan Yayasan Inkubator Gratis memiliki tujuan yang sama, yaitu berkhidmat pada dhuafa,” jelas Prof. Raldi ditemui usai acara.

Sejak 2015, RBC sendiri telah menjadi salah satu agen untuk peminjaman inkubator di Kabupaten Bandung. Prof. Raldi mengatakan, pihak mereka sedikitnya lega bisa bekerjasama dengan RBC, yang merupakan tenaga medis profesional.

“RBC bergerak di bidang kesehatan. Jadi kami tenang mempercayakannya, karena RBC bisa membantu edukasi dan nasihat pada dhuafa yang meminjam inkubator kami,” kata socio-techcopreneur ini.

Prof. Raldi telah menginisiasi inovasi inkubator sejak tahun 1989. Pada tahun 2011, ia memulai gerakan Inkubator Gratis yang diprioritaskan untuk dhuafa. Kini, inkubatornya telah bisa dipinjam di 39 daerah di Indonesia.

“Saya mewakafkan diri menjadi bapak bagi bayi prematur di Indonesia,” katanya.

Ia sendiri mengapresiasi kiprah RBC selama 12 tahun. Prof. Raldi berharap, RBC bisa terus melebarkan satelitnya sehingga kaum papa yang mencecap manfaat lebih banyak. “Apalagi di pelosok Bandung Barat, banyak sekali dhuafa yang butuh uluran bantuan,” lanjutnya.

Reporter: Aghniya Ilma Hasan

didieto4 Desember 2016

Tak Berkategori

[Kisah Haru Member RBC] Hingga Bernafasnya Sang Buah Hati…

Ia sedang di pabrik. Bekerja menyortir barang-barang konveksi. Naik-turun tangga membawa benda berat, tanpa peduli kondisi janin di perut. Atau tepatnya, terpaksa tak acuh dengan bakal calon buah hati. Pikir Lisnawati sederhana: kalau ia tak bekerja, bagaimana ia akan menghidupi sang darah daging kelak?

Masalah ekonomi telah menjerat sedemikian rupa. Pekerjaan fisik itu yang dilakoni, meski diwanti-wanti bidan yang merawat Lisnawati agar tak berlebihan. Tapi justru, terpaksa di usia ketujuh kandungan, Lisnawati masih ‘bandel’ bekerja. Kadang, meski sudah terasa sesak, ia memaksakan diri bergerak. Beradu dengan hiruk pikuk pabrik.

Lalu tiba-tiba, ada air merembes deras keluar dari bawah celana. Lisnawati menahan nafas, mencoba tak panik. Ada apa ini? Terjadi sesuatukah dengan kandungannya? Bukankah persalinan dua bulan lagi? Jantung Lisnawati berdegup kencang. Semakin mencoba tenang, perasaannya jadi tak keruan.

Teman-teman wanita di pabrik itu memapah Lisnawati perlahan. “Ketubanmu pecah duluan,” kata mereka. “Lebih baik segera bawa ke bidan.”

Mereka membantu menghubungi sang suami. Tak perlu berlama-lama. Lisnawati segera memohon izin meninggalkan pabrik lebih awal. Ia tahu harus menuju ke mana. Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC), sebuah tempat layanan kesehatan pratama bagi para ibu dari golongan papa.

Lisnawati kembali mengingat masa-masa di belakang. Sejak usia kandungan tiga bulan, Lisnawati telah mendaftarkan diri sebagai member RBC. Seorang teman menganjurkan ia ke sana. Karena memang, keuangan keluarganya sulit. Sang suami, Yusup, hanya buruh lepas dengan penghasilan tak tentu. Dalam satu hari, belum tentu ia pulang membawa nafkah.

Pun pekerjaan Lisnawati sebagai pekerja pabrik, tak banyak menjanjikan. Ia harus mencari cara agar persalinan kedua ini berjalan lancar, dan tentu sedikitnya melegakan leher yang lama tercekik biaya hidup melangit.

Ada banyak yang ia dapatkan di RBC. Layanan kesehatan? Tak perlu ditanya. Secara rutin, ia diharuskan memeriksakan diri atau sekadar ikut senam hamil. Atau, petugas sana akan membagikan makanan gratis. Misal, bubur kacang. Lumayan, bisa mengganjal perut yang keroncongan.

Tapi tidak, maksudnya lebih dari itu. Di sana, ia disirami secara spiritual. Diperdengarkan kalam-kalam suci, juga gelaran kajian Islam setiap bulan. Kegiatan yang membuat Lisnawati tentram.

Dan kini, di sanalah ia berada. Di sebuah ruangan sejuk, Al Ma’tsurat dan ayat suci mengudara. Menunggu kelahiran sang buah hati, ditemani sang suami yang ikut tergopoh-gopoh karena panik. Bidan telah memberikan asupan yang diperlukan, juga menginfus Lisnawati.

“Kemungkinan infeksi. Bisa jadi karena sanitasi yang tak terjaga atau kekebalan tubuh buruk karena gizi kurang, sehingga mudah infeksi,” kata dokter. “Nanti (selepas pecah ketuban), akan membuat perut berkontraksi.”

Namun anehnya, ia tak merasa mulas. Bahkan hingga tiga hari berada dalam perawatan bidan RBC, sakit perut yang ditunggu itu tak kunjung muncul. Begitulah, hingga bidan mengizinkan Lisnawati pulang.

Qadarullah, rupanya ketika menghenyakkan diri di bangku angkot, mulas itu justru mulai datang. Lagi-lagi panik membayang di wajah Lisnawati dan Yusup. Keduanya turun dari angkot, bergegas kembali ke RBC. Di sana, bidan segera sigap menanganinya.

Di sanalah, bayi bernama Ahmad Maulana Habibie itu hadir di dunia. Ada rasa haru saat melihat putra yang dinanti itu. Tapi, usai persalinan, perasaan bahagia itu langsung berbaur sedih. Darah daging yang terlahir prematur itu, beratnya hanya 1,6 kilogram. Tapi ada satu hal yang membuat bibir Lisnawati bergetar, tangis tak berhenti tumpah. Sang buah hati ternyata tak bisa bernafas.

Awalnya, ia heran mengapa putranya itu tak mengeluarkan tangis, bahkan tak bergerak. Bidan telah mengambil alat bantu oksigen, namun sang bayi bergeming. Lisnawati mencelos, separuh jiwa seakan terenggut. Air mata tak mau berhenti membanjiri pipinya. Di samping Lisnawati, sang suami nampak sama kalut.

“Bu, bayinya harus dirujuk ke rumah sakit. Peralatan medis di sana akan lebih lengkap,” kata bidan. Ia tak mengerti, tapi Lisnawati hanya mengangguk-angguk. Cara apa saja, tolong, yang penting putraku selamat…

Dengan ambulans RBC, sang buah hati diboyong ke sebuah RS tak jauh dari rumah. Ada satu dokter dan satu bidan yang menemani, membantu mengurus segala keperluan. Akan tetapi, sampai di sana, tak ada alat medis yang perlu dipakai sang bayi. Lisnawati sudah lemas, khawatir dengan kondisi putranya.

Tapi mereka tak boleh larut dalam kekecewaan. Ambulans itu kembali melaju, meraung-raung di tengah padatnya kota. Mereka menuju RS di Pajagalan. Derap langkah cepat bidan dan dokter yang mengiringi Lisnawati kembali terdengar. Namun, setelah lama bertanya dan mengurus sana-sini, lagi-lagi, pil pahit harus ia telan. Tak ada ruangan kosong.

Mereka tak mau berputus asa, bergegas menuju RS Hasan Sadikin. Di sana pun, hingga berlipat-lipat kekecewaan ia cecap. Bayinya tak mendapat ruang. Semua penuh. Lisnawati dan sang suami mulai bersusah hati. Peluh sudah bercucuran, tapi tak ada RS yang bisa merawat putra keduanya.

“Bu Lisnawati, kita kembali ke RBC. Biar bayinya kami rawat. Namun kami tekankan, peralatan medis yang ada belum selengkap di rumah sakit. Tapi kami bisa berikan oksigen dan merawatnya dalam inkubator,” sayup-sayup suara dokter terdengar di tengah tangis Lisnawati. Lagi, ia mengangguk.

Begitulah, bayi kecil bernama Ahmad Maulana Habibie itu kemudian dirawat secara intensif di RBC. Setiap hari, siang malam, Lisnawati ikut menjaga sang putra. Memandanginya dari balik inkubator. Ayat-ayat suci yang mengalun, mengiringi setiap doa yang ia panjatkan untuk buah hati.

Sang suami dan putrinya, kerap menemani usai menyelesaikan pekerjaan dan sekolah. Malam hari, keduanya akan pulang ke kontrakan. Tapi lambat laun, entah karena keinginan menggebu untuk selalu bersama keluarga, juga rasa ingin melihat setiap perkembangan bayi kecil mereka, akhirnya ayah beranak itu ikut menetap dengan Lisnawati.

Satu dua hari, dokter memantau pernafasan putranya itu. Sampai menginjak genap satu bulan, buah hati Lisnawati disebut telah bernafas dengan normal. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Syukur tak lepas menggumam dari bibir Lisnawati. Keluarga kecil itu akan segera berkumpul kembali.

Usai dirawat pun, ia tetap memeriksakan diri ke RBC setiap dua minggu sekali. Memastikan darah dagingnya itu senantiasa dalam kondisi yang sehat. “Saya selalu berdoa, agar putra saya bisa terus sehat hingga ia besar nanti. Dan semoga, ia menjadi anak yang bermanfaat,” harapnya.

Lisnawati bahagia, akhirnya ia bisa menggendong, dan memberi sang putra ASI sepuas hati. Setelah melahirkan, ia tak lagi bekerja. Lisnawati curahkan semua waktu untuk bayi dan keluarga. Ia tak khawatir soal rezeki, semua diserahkan pada-Nya. Lisnawati tahu sang suami telah bekerja keras, dan Sang Maha Pemberi Rizki pasti akan membalas setiap keringat yang ditorehkan.

Reporter: Aghniya

didieto30 November 2016

Tak Berkategori

Asah Kemampuan Menulis, Aktivis Dakwah BPD Berlatih Citizen Journalism

SF-UPDATE,– Asah kemampuan menulis, aktivis dakwah BPD berlatih menjadi Citizen Journalism, Ahad (27/11/2016). Materi pembinaan diisi Redaktur Pelaksana Tabloid Alhikmah Muhammad Rizki Utama. Dalam pembinaan tersebut disampaikan bagaimana menjadi seorang citizen journalism yang baik.

Rizki mengatakan bahwa semua masyarakat dibebaskan menyampaikan berita apa pun yang terbukti kebenarannya. Ia pun menghimbau kepada peserta, dalam hal ini anggota BPD diminta untuk lebih cerdas dalam menerima berita yang banyak beredar di mass media.

“Dalam menulis kita harus ingat bahwa Bukan bagaimana kita menulis tapi bagaimana kita bercerita,” kata Rizki Lesus, sapan karibanya di Gedung Wakaf 99 Jalan Sidomukti No 99, Sukaluyu-Bandung.

“Sebenarnya kini semua orang bisa menjadi wartawan, dengan media HP saja orang sudah bisa mempublikasikan ke internet seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan masih banyak lagi,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, imbuh, Rizki Lesus juga menyampaikan bagaimana caranya kita tau berita yang sebenarnya yaitu mencari tau dari berbagai Sumber yang banyak, makna dan fakta yang sebenarnya, karena kebenaran akan tetap terungkap,” pungkasnya.

Tidak hanya penyampaian materi, semua anggota BPD diminta untuk langsung praktek turun ke lapangan mencari berita serta melaporkan semua aktivitas yang terjadi di sekitar Gd. Wakaf.

 

Reporter : Siti Rohimah dan Irwanto

Editor: Maharevin

didieto29 November 2016

Tak Berkategori

Jenazah Dhuafa Kembali Disemayamkan di Firdaus Memorial Park

SF-UPDATES,– Innalillahi wa innailahi raaji’un. Lagi, Firdaus Memorial Park kembali mengebumikan seorang fakir dhuafa. Wanita yang tak diketahui identitasnya ini ditengarai mengalami serangan jantung mendadak. Sempat dilarikan ke RSUD Cililin, Bandung Barat, namun nyawanya tak dapat ditolong. Ia tutup usia pada Sabtu (26/11/2016).

Sebelumnya, diketahui wanita yang wafat di usia 40 tahun itu mengidap gangguan jiwa, dan menggelandang di sekitar wilayah Bandung Barat. Almarhum tak memiliki alamat pasti, dan tak pula mempunyai sanak saudara yang menemani. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi sebatang kara.

RSUD Cililin setempat pun sempat kebingungan, karena tak ada kerabat yang bisa dihubungi. Pun, tak ada pemakaman umum yang menerima jenazah tanpa identitas. Akhirnya, jenazah tersebut diserahkan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung

Qadarullah, Dinkes mengajukan diri, dan mengubungi pengelola Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park (FMP), Sinergi Foundation, agar jenazah bisa dimakamkan di sana. Pemakaman yang berlokasi di Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalong Wetan ini adalah aset umat, yang berasal dari wakaf segenap kaum peduli.

Almarhum merupakan satu di antara jenazah dhuafa lain yang telah dimakamkan di Firdaus Memorial Park. Sebelumnya, ada sembilan jenazah dari kalangan papa yang dikebumikan di sana.

Ketika orang miskin ‘dilarang’ mati, lantaran tingginya biaya untuk penyediaan lahan pemakaman, Firdaus Memorial Park hadir sebagai solusi. Mulai dari prosesi memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga memakamkan, plus penyediaan lahan pemakaman itu sendiri, murni cuma-cuma tanpa ada pungutan dalam bentuk apapun.

Reporter: Aghniya Ilma Hasan

didieto28 November 2016

Tak Berkategori

Pesan Ilmuwan Muslim Khoirul Anwar untuk Para Pemimpin Bangsa Masa Depan

SF-UPDATE,– Jika kita memandang bahwa tujuan  yang akan kita capai adalah sesuatu yang besar, maka masalah dan ujian yang hadir hanyalah seujung kuku dari cita-cita besar itu. Demikian sepenggal motivasi dari inovator jaringan 4G (Long Term Evolution (LTE)) Khoirul Anwar kepada penerima manfaat Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB).

“Tugas kita adalah terus fokus meraih cita-cita besar itu,” ungkap Khoirul Anwar saat pembinaan rutin Temu Tokoh di Gedung Wakaf Bandung, Sabtu (19/11/2016).

Dalam pembinaan rutin tersebut, Khoirul juga berpesan bahwa hidup yang dijalanani, kematian yang dinanti, hanyalah untuk Allah. Mengharap ridha Allah.

“Semakin bervariasi aktivitas dalam kehidupan -dan kita dapat mengatur waktunya dengan baik, maka pertumbuhan kapasitas diri kita dan kebermanfaatan pada sesama akan semakin cepat dan besar,” kata ilmuwan muslim ini.

“Pemuda tidak boleh seperti musim semi. Di mana masa performa terbaiknya hanya sesaat,” lanjutnya.

Peneliti yang saat ini bekerja di Japan Advanced Institute of Science and Technology menganggap jika berdekat-dekat dengan orang shaliih, walau belum sewangi mereka, setidaknya akan tertular semerbak harumnya. 

“Maka, jika berdekat-dekat dengan orang besar yang padat akan karya serta kontribusi, walau saat ini belum seperti mereka, mudah-mudahan akan tertular pula semangat untuk mulai berkarya dan berkontribusi,” pungkasnya.

 

Reporter : Nenon S

Editor: Maharevin

didieto24 November 2016

Tak Berkategori

Berlaga di Surabaya, Dimas Putra Permadi Sabet Juara 1 di Ajang Airlangga Politics

SF-UPDATE,– Prestasi gemilang kembali ditorehkan penerima manfaat Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB) angkatan V, Dimas Putra Permadi. Mewakili Universitas Indonesia, ia membawa pulang gelar juara umum dalam ajang Airlangga Politics 2.0.

Mahasiswa semester tiga program studi Ilmu Komunikasi menulis essay berjudul “Konstruksi Identitas Perempuan Perkotaan dalam Media: Sebuah Kajian Filsafat Identitas & Kekuasaan”. Tulisan ini berhasil menjadi juara 1 untuk kategori Essay Competition.

Tidak hanya itu, ia juga membawa pulang gelar best presentator. Gelar yang diberikan kepada tim dengan nilai presentasi dan penyajian makalah terbaik.

Dalam cabang tersebut, Dimas harus berhadapan dengan 15 tim finalis dari seluruh Indonesia. Di antaranya adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Sepuluh November.

Airlangga Politics merupakan salah satu ajang tahunan para mahasiswa Ilmu Sosial Ilmu Politik se-Indonesia. Tahun ini, event tersebut digelar di Universitas Airlangga, Surabaya pada 9-13 November 2016.

Tema yang diangkat pada konferensi Airlangga Politics tahun ini adalah seputar identitas kota, termasuk di dalamnya tata kota, infrastrukstur, dan kondisi perekonomian sosial budaya dan perpolitikan di perkotaan Indonesia. []

 

Reporter : Nenon S

Editor: Maharevin

didieto24 November 2016

Tak Berkategori

Guruh Sutrisno Utomo BPB 4 Terpilih Sebagai Mahasiswa Berprestasi FPOK UPI 2016

SF-UPDATE,– Penerima Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB) angkatan 4 Guruh Sutrisno Utomo terpilih sebagai mahasiswa berprestasi FPOK UPI tahun akademik 2015/2016. Atas karya tulis ilmiahnya berjudul "Meningkatkan Semangat Psikologi Atlet Menggunakan Kardus Bekas Berbasis Virtual Reality dan Imagery"

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Ketua Departemen PKR/Prodi Ilmu Keolahragaan Agus Rusdiana,M.Sc.,Ph.D

Dalam sambutannya, Guruh pun banyak mengucapkan terimakasih kepada pelbagai pihak yang telah menjadi wasilah atas prestasinya.

“Yang pertama, tentu saya ucapkan terima kasih banyak kepada Allah Swt. Kedua, saya ucapkan terima kasih kepada org tua saya yang selalu sabar dalam mendidik saya. Tak lupa kepada adik-adik yang menjadi indikator utama dalam menjaga semangat saya untuk terus berkarya dan keluarga lainnya yang selalu mendoakan saya,” kata Guruh.

Ketiga, imbuh Guruh, ia mengucapkan terima kasih kepada departemen/prodi Ilmu Keolahragaan FPOK UPI baik itu para dosen maupun para karyawan.

“Terakhir, saya ucapkan banyak terima kasih kepada lembaga luar biasa yang sudah membesarkan saya, lembaga yang sangat berperan penting dalam kehidupan dan masa depan saya, yaitu Sinergi Foundation dalam program Beasiswa Pemimpin Bangsa,” lanjut Guruh.

Dengan diberikannya penghargaan ini, Guruh mengaku akan lebih meningkatkan prestasi dengan terus berkarya, khususnya di bidang keolahragaan. []

 

Reporter : Nenon S

Editor : Maharevin

didieto24 November 2016

Tak Berkategori

Riung Mungpulung Bersama Karyawan FMP, Bahas Meretas Jalan Menuju Surga dengan Bekerja

SF-UPDATE,– Managemen Firdaus Memorial Park (FMP) menggelar kegiatan rutinan "ngariung mumpulung" seluruh pegawai. Kegiatan itu diisi dengan tausiyah dari alumnus Beastudi Pegiat Dakwah (BPD) pertama Ustaz Maptuh Supriadi dengan tema "Meretas Jalan Menuju Surga dengan Bekerja."

“Bekerja merupakan salah satu ibadah yang dapat mengantarkan kita meraih ridho-NYA,” kata Ustaz Maptuh di Aula FMP, Kamis (25/11/2016).

“Dengan bekerja yang ikhlas dan semangat, maka setiap satu kebaikan yang kita lakukan akan dibalas berlipat ganda oleh Allah,” lanjutnya.

Ustaz Maptuh memungkas, begitupun para pegawai di FMP, dengan bermodalkan alat parang,pacul dan lainnya ketika diniatkan "Bismillah" itu akan menjadi nilai kebaikan untuknya. []

 

Reporter : Sri A

Editor : Maharevin

didieto24 November 2016

Tak Berkategori

Save Muslim Rohingya, Sinergi Foundation Ajak Umat Bantu Sesama

SF-UPDATE,– Rumah-rumah dan masjid dibakar, laki-laki dan perempuan diburu dan dibantai, ribuan orang terusir dari kampung halamannya. Sejak Oktober 2016, kejahatan kemanusiaan kembali diderita muslim Rohingya di Arakan, Myanmar. Sungging senyum itu telah lama padam dari bibir mereka.

"...Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya..." (QS. Al-Maidah: 32)

Persaudaraan seiman tak mengenal batas negara. Ayo ulurkan tangan!

Salurkan kepedulian Anda ke:
Mandiri Syariah 700 546 3108
Rekening a.n Sinergi Foundation

Info Lengkap : 
Call Center : 0851 0004 2009
WA/Sms Center : 081 321 200 100
Telp. : 022-6032281 / 022-2513991
Website : www.sinergifoundation.org

didieto24 November 2016

1 337 338 339 340 341 368
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!