Tak Berkategori

Sinergi Foundation Ajak Anak Yatim Dhuafa Rasakan Berbelanja di Supermarket

SF-UPDATES,– Detik-detik menjelang akhir bulan Ramadhan, anak-anak yatim piatu dari kalangan dhuafa makin banyak yang tersantuni. Pun, Sinergi Foundation bersama Event Organizer (EO) Noesha Organizer, Majelis Ta'lim Roza Alifa, Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IP PAT), DKM Masjid Agung Trans Studio Bandung, dan Komunitas Ned Docs (Motor Dokter) menghelat kegiatan belanja bersama anak-anak yatim piatu.

"Kegiatan ini merupakan acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ramadhan untuk anak-anak yatim piatu,'' jelas Koordinator Lapangan EO Noesha Organizer, Deni Kustia, di Transmart, Jl. Jendral Gatot Subroto No.289, Bandung, Selasa (20/6/2017).

Acara ini, tuturnya, merupakan bentuk empati dan kepedulian terhadap anak-anak yang harus kehilangan orangtuanya di usia yang masih sangat muda. "Tidak semua anak yatim piatu dapat merasakan berbelanja di supermarket karena keterbatasan orangtuanya. Maka kami menggagas kegiatan ini agar mereka pun dapat merasakan berbelanja di supermarket seperti orang-orang pada umumnya. Semoga dengan kegiatan ini dapat meringankan beban yang mereka rasakan.''

Kegiatan berbelanja kali ini, lanjutnya, dihadiri oleh 100 orang anak. "Sebenarnya ada banyak yang tertarik dengan kegiatan ini, namun kami hanya bisa menampung sebanyak 100 orang.''

Nominal berbelanja bersama anak-anak yatim piatu ini dibatasi sebesar 50 ribu per anak. Namun, diakhir acara, panitia memberikan santunan sebesar 200 ribu per anak dan bingkisan berupa alat-alat sekolah.

"Kami berharap, semakin banyak orang-orang yang diberi rezeki berlebih untuk ikut berpartisipasi, sehingga kami dapat menampung anak-anak lebih banyak lagi serta dapat bermanfaat lebih besar lagi, tidak hanya 200 anak untuk kesempatan berikutnya, mungkin bisa menampung 300 bahkan 1000 anak,'' ujarnya.

Irma Kurniawati, salah seorang peserta kegiatan mengaku senang bisa berbelanja di Transmart. "Kebanyakan untuk beli snack, nanti dimakan sebagian untuk berbuka. Sisanya dibagikan ke kakak dan saudara.'' []

didieto20 Juni 2017

Berita

Sinergi Foundation dan MT Roza Alifa Berbagi Kado Lebaran untuk Anak Yatim

sinergi-foundation-dan-mt-roza-alifa-berbagi-kado-lebaran-untuk-anak-yatim

SF-UPDATES,– Majelis Ta’lim Roza Alifa bekerja sama dengan Sinergi Foundation, Lotte Mart, dan Festival Citylink mengadakan kegiatan Berbagi Kado Lebaran untuk anak yatim dari kalangan dhuafa. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 18-19 Juni 2017. “Kami mengundang pengunjung Lotte Mart di Festival Citylink untuk menyisihkan sedikit rezekinya untuk disalurkan pada yang membutuhkan,” jelas Penanggung Jawab Acara Majelis Ta’lim…

Baca selengkapnya

didieto19 Juni 2017

Berita

Sinergi Foundation Gelar THR untuk Petani Dhuafa di Ciwangi Garut

sinergi-foundation-gelar-thr-untuk-petani-dhuafa-di-ciwangi-garut

SF-UPDATES,– Sinergi Foundation kembali menggelar THR untuk Petani Dhuafa. Kali ini, kegiatan yang dihadiri 80 orang anggota kelompok tani mitra tersebut dilakukan di Lumbung Desa Ciwangi, Limbangan Garut, pada Sabtu (17/6/2017). “Kita tahu, petani tidak pernah mendapat THR. Maka dari itu, melalui uluran tangan muzakki Sinergi Foundation, kami mengapresiasi kerja para petani dengan adanya program…

Baca selengkapnya

didieto19 Juni 2017

Tak Berkategori

Firdaus Memorial Park Salurkan Paket Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim

SF-UPDATES,—Firdaus Memorial Park Sinergi Foundation bersama Keluarga Beasiswa Pemimpin Bangsa (Gamapinsa) bagikan 100 paket donasi perlengkapan sekolah untuk anak yatim di Taman Pemakaman Muslim, Firdaus Memorial Park (FMP) Kamis (15/06/2017) setelah sebelumnya digelar pesantren kiilat di Madrasah Abdurrahman bin Auf, Ciptagumati.

“Adapun kegiatan yang dilakukan selama sanlat yakni tausiyah yang disampaikan oleh mahasiswa yang merupakan penerima manfaat beasiswa dari Sinergi Foundation, Ada juga aktivitas membaca Al Quran, buka bersama dengan santri dan warga sekitar. Pada acara puncak ini terdapat penyaluran paket alat-alat sekolah kepada anak-anak yatim piatu jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) dan santunan kepada mustahik,” jelas Ketua Umum Gamapinsa, Yayu Wahyudin di FMP, Cikalong, Kabupaten Bandung, Kamis (15/6/2017).

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, dapat menumbuhkan rasa kepedulian dan kepekaan terhadap sesama dalam diri mahasiswa sehingga dapat memahami kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan. “Intinya berbagi manfaat dengan masyarakat dengan mengamalkan ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah.”

“Saya berharap ilmu yang disampaikan dapat memotivasi anak-anak ini untuk semakin bersemangat dalam menuntut ilmu sehingga dapat terus berjuang hingga menggapai cita-cita yang diharapkan,” katanya..

Salah seorang warga Desa Mandala Mukti, Yani, sangat bersyukur dengan perlengkapan sekolah yang diberikan. “Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada Sinergi Foundation atas bantuan yang telah diberikan, terutama paket perlengkapan sekolah, sebab, tas anak saya sudah berlubang-lubang. Semoga dengan tas baru ini jadi pendorong semangat untuk bersekolah," pungkasnya.

didieto18 Juni 2017

Tak Berkategori

Mudahkan Layanan Berbagi, Sinergi Foundation Rilis Aplikasi ZakatApp

SF-UPTADES,–Sajikan layanan kemudahan berbagi khususnya Zakat, Infak-Sedekah dan dana filantropi Islam lainnya, Sinergi Foundation (SF) meluncurkan aplikasi “ZakatApp”  di 10 hari terkahir Ramdahan 1438H/ 2017. Aplikasi yang kini sudah dapat diunduh di PlayStore ini memiliki sejumlah fitur, antara lain: program Sinergi Foundation (SF), kalkulator zakat, rekening zakat, Klik Donasi, dan info penyaluran donasi.

“Tak hanya memudahkan masyarakat dalam berdonasi, aplikasi ini pun berupaya mengedukasi muzakki dan segenap insan peduli agar mampu menghitung zakatnya sendiri,” ungkap CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia dalam Launching ZakatApp, di RM Ampera Pasteur Bandung, Kamis (15/6/2017).

Menurutnya, kehadiran ZakatApp dinilai sangat penting, seiring dengan bertumbuhnya minat ber-ZISWAF masyarakat muslim dari kalangan middle class.  Sehingga, masyarakat membutuhkan wadah yang memudahkan mereka berbagi pada sesama. 

“Aplikasi ini mudah, lantaran tinggal mengunduh aplikasi, dan masyarakat bisa berbagi kapanpun di manapun. Juga menenangkan, karena disalurkan melalui lembaga pengelola yang insya Allah terpercaya,” lanjutnya.

Ima menuturkan, keberadaan ZakatApp ini diharapkan akan secara sustain menyokong keberlanjutan program-program sosial di Sinergi Foundation. Beragam kreativitas program pemberdayaan yang inspiratif di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan pembangunan sosial SF hadir menyentuh langsung masyarakat lapisan paling bawah di negeri ini. 

Program-program tersebut antara lain: Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC), Lumbung Desa (LD), Beasiswa Pemimpin Bangsa (Sinergi Scholarship), Firdaus Memorial Park (FMP), Sinergi Pelayanan Masyarakat, dan beberapa program lainnya.

“Inovasi kami tak akan berhenti hanya di ZakatApp. Dengan sinergi antar segenap elemen peduli, SF akan terus meningkatkan kreativitas, kapasitas, serta memperluas jangkauan pengabdian, demi terwujudnya masyarakat yang mandiri, produktif dan berkarakter,” pungkasnya. 

didieto16 Juni 2017

Berita

Semangat Saling Menguatkan, SPM Bentuk Komunitas Orang Tua Anak Penyandang Epilepsi

semangat-saling-menguatkan-spm-bentuk-komunitas-orang-tua-anak-penyandang-epilepsi

SF-UPDATES,– Para orangtua anak penyandang epilepsi, terkadang merasa hanya dirinya sendiri yang berjuang melakukan pengobatan untuk sang buah hati. Sebab itu, guna menumbuhkan semangat saling menguatkan, Sinergi Pelayanan Masyarakat (SPM) Sinergi Foundation menggelar Silaturahim dan Pembentukan Komunitas Orang Tua Anak Penyandang Epilepsi. “Dengan adanya komunitas, mereka bisa saling sharing informasi dan saling menguatkan. Sampai saat…

Baca selengkapnya

didieto12 Juni 2017

Tak Berkategori

Bersinergi, Hidupkan Filantropi

Geger. Berita meluapnya air sungai Cimanuk Garut telah tersiar ke seluruh penjuru Nusantara. Banjir bandang menghempas Kota Intan. Tak terelakkan, foto-foto di TKP tersebar di dunia maya. Air bah berwarna kecoklatan nampak merendam daratan. Mobil-mobil terseret tak tentu arah, sementara warga terpaksa ‘bertengger’ di atap rumah. Dalam waktu kurang dari 24 jam, tagar #SaveGarut mendadak viral.

Jutaan klik itu beralih rupa menjadi jutaan uluran tangan. Orang-orang terketuk hatinya, bersedia menyisihkan sedikit dari biaya hidup sehari-hari, demi saudara mereka yang terdampak banjir. Tak hanya uang. Ada pula, yang rela mengetuk rumah satu persatu, mencari tahu apakah sang penghuni memiliki baju layak pakai untuk disumbangkan.

Sementara itu, tim-tim kemanusiaan mulai terjun ke lapangan. Kondisi di lokasi banjir rupanya jauh lebih buruk. Pemukiman warga porak poranda, bangunan-bangunan rusak parah. Reruntuhannya terserak. Sampah dan lumpur melebur, menumpuk di bantaran sungai. Wajah-wajah di pengungsian begitu nelangsa.

Lalu, di temaramnya sudut surau malam itu, mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan, sekelompok orang berkumpul. Membawa baju lengan panjang bertuliskan ‘RESCUE’ di belakang punggung. Sebagian, membalut diri dengan rompi hitam. Semua mengenakan emblem dari lembaga sosial masing-masing.

Mereka berbincang serius, mencoba mencari jalan cepat dan solutif untuk menolong para korban banjir. Seraya menyesap kopi hitam, mereka membagi tugas. Ada yang membuka posko kesehatan dan trauma healing, menyediakan logistik bagi korban, hingga rencana gotong royong membersihkan perkampungan dari sisa banjir.

Tak ada yang saling sikut. Semua bersinergi. Bahkan ketika resik kampung, mereka tak ragu saling bahu membahu. Tujuannya satu: kemanusiaan. Menolong mereka yang terpaksa menahan sesak di dada karena semua harta tak bersisa tersapu banjir. Dan tentu, menjadi perantara uluran tangan segenap masyarakat peduli. Pantang pulang sebelum dana umat itu tersalurkan.

Syahdan, konsep berbagi itu tak hanya soal materi. Perkara pikiran dan tenaga yang dikerahkan pun adalah bagian dari mendermakan diri. Jika satu sungging senyum saja bisa melenyapkan rasa khawatir di wajah-wajah pilu itu, bukankah itu adalah bagian dari sedekah pula?

***

Pembaca, ilustrasi di atas dapat ditemukan di sudut mana pun di bumi pertiwi. Gemar tolong-menolong, sebuah perilaku yang tak bisa dilepaskan dari rakyat Indonesia. Bahkan, seiring dengan pemahaman Islam yang semakin baik, kesadaran masyarakat untuk berfilantropi terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Menurut anggota Badan Zakat Nasional, Nana Mintarti, filantropi Islam di Indonesia semakin menggeliat selama dua puluh tahun terakhir. Nana memberi contoh, filantropi di Nusantara meningkat secara signifikan, hampir 100 persen setiap tahunnya, pada 2005 dan 2007.

“Ini diperkirakan sebagai implikasi dari tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta. Dua tragedi yang dianggap sebagai bencana nasional,” ujarnya, dalam helatan Konferensi Filantropi Islam Internasional Asia Tenggara (SEAIIPC), sepenggal Februari lalu. 

Ini membuktikan, tambah Nana, kepedulian sosial masyarakat memang sangat baik. Hal ini ditambah pula dengan kesadaran mereka berfilantropi, terutama dalam perkara zakat. Ia menyatakan perkembangan zakat di negeri ini meningkat secara signifikan ketika UU Zakat No. 38/1999 diluncurkan. Masyarakat semakin termudahkan.

“Berdasarkan UU ini, zakat dapat dikelola oleh lembaga zakat pemerintah (Badan Amil Zakat) dan juga pribadi yang dibuat oleh masyarakat (LAZ). Namun, seiring waktu, perubahan besar terjadi dengan digantinya UU Zakat No. 38/1999 menjadi UU No. 23/2011,” kata Nana.

Dalam aturan baru tersebut, ia melanjutkan, UU Zakat No 23/2011 bertindak sebagai dasar dari seluruh operasi zakat di Indonesia. “Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan zakat, mengoptimalkan manfaat zakat untuk kesejahteraan masyarakat, dan pengentasan kemiskinan," imbuhnya.

Semakin besar kesadaran masyarakat, Nana meyakini makin besar pula potensi di dalamnya. Ia menuturkan, dalam dekade terakhir, zakat memang mengalami pertumbuhan yang pesat. Nana mengutip satu studi dari Public Interest Research & Advocacy Public (PIRAC) yang menunjukkan bahwa potensi zakat di Indonesia memiliki kecenderungan meningkat setiap tahun.

Dalam data Baznas sendiri, potensi zakat Indonesia bisa mencapai 217 triliun. Kendati demikian, Nana mengakui bahwa besarnya potensi ini tak sesuai dengan realisasi. Menurutnya, ada kesenjangan yang tinggi antara kedua hal tersebut. Jika dilihat dari data penghimpunan ZIS semua lembaga zakat pada 2015, realisasi hanya tercapai Rp 3,7 triliun. 

“Dengan kata lain, ini kurang dari 1,3 persen dari potensi yang besarnya mencapai 217 triliun itu,” katanya.

Atas hal ini, setidak-tidaknya, Nana Mintarti melihat tiga sebab. Pertama,  kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat, dan kecenderungan filantropi muzakki yang masih berorientasi jangka pendek. Kedua, masyarakat masih memahami zakat hanya sebatas zakat mal dan zakat fitrah saja.

“Ketiga, masih rendahnya insentif bagi muzakki untuk membayar kewajiban ini, khususnya terkait zakat sebagai pengurang pajak, sehingga muzakki tidak terkena beban ganda,” terang Nana.

Namun, ia sendiri tak lantas pesimis. Nana memprediksi, pertumbuhan zakat di masa depan akan terus berkembang seiring dengan kemajuan ekonomi, dan meningkatnya jumlah muslim kelas menengah.  Oleh karena itu, dengan proyeksi yang tepat atas tiga permasalahan tadi, ia yakin zakat bisa menjadi kekuatan besar untuk merentas kemiskinan.

Potensi Wakaf

Sementara itu, wakaf yang juga menjadi salah satu pilar ekonomi Islam, tak kalah besar potensinya di Indonesia. Baik wakaf harta bergerak, maupun yang tidak bergerak. Menurut Kasubdit Edukasi, Inovasi dan Kerjasama Zakat dan Wakaf Kemenag RI, M Fuad Nasar, kini wakaf, terutama wakaf uang, terus dikampanyekan oleh nazhir.

Ia menuturkan, wakaf bisa ditujukan untuk banyak hal yang berorientasi kemaslahatan umat. Misalnya: sarana dan kegiatan ibadah, sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan, bantuan kepada fakir miskin, yatim piatu, beasiswa, kemajuan dan peningkatan ekonomi umat, dan kemajuan kesejahteraan umum lainnya.

Semua itu, katanya, tidak boleh bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan data Kemenag, Indonesia memiliki potensi tanah wakaf sebesar 21.441 hektar, yang tersebar di 195.029 lokasi. Lahan-lahan tersebut masih belum dioptimalkan, dan baru terpusat di tiga provinsi besar: DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kendati demikian, peranan wakaf dalam upaya menyejahterakan umat terus hidup. Di penjuru Indonesia, sejumlah program berbasis wakaf terwujud, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi. Misalnya saja, kehadiran Smart Ekselensia Indonesia, sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak dari golongan papa, yang dibangun di atas lahan wakaf seluas 20.446 m2.

Atau, ada pula inovasi lain di bidang pemakaman. Adalah keberadaan Taman Wakaf Pemakaman Muslim, Firdaus Memorial Park yang mencoba meretas solusi atas permasalahan mencekiknya biaya pemakaman bagi dhuafa. Sebab berkonsep wakaf, pengelolaannya tak lagi berbicara bisnis atau komersil yang merugikan kaum papa. Baik pemulasaraan maupun lahan makam, semua dibebaskan dari biaya.

Jauh sebelum dua program tersebut, institusi pendidikan Pesantren Gontor telah lama mempraktekkan wakaf produktif di Indonesia. Pada 1958, aset wakaf yang dimiliki Gontor seluas 4.995 m2. Sebagian di antara lahan tersebut, kemudian diproduktifkan melalui Koperasi Pondok Pesantren La Tansa.

Dalam satu wawancara bersama Alhikmah, Ketua Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern Gontor, KH Imam Shobari menyebut hasil wakaf disalurkan dalam banyak bentuk. Misalnya beasiswa, biaya pengiriman kader, biaya pembangunan, perbaikan dan pemeliharaan gedung, pembelian aset tanah, dan pemberdayaan kehidupan keluarga pondok agar seluruh elemen mengabdi dengan maksimal.

”Manfaat wakaf pondok juga dirasakan masyarakat sekitar pondok. Selain menambah peluang kerja, hasil wakaf ini juga untuk kegiatan dakwah sosial masyarakat,” jelasnya.

Menyinergikan Seluruh Elemen

M Fuad Nasar menyatakan, problematika yang menghimpit Indonesia telah semakin merongrong kehadiran pilar-pilar ekonomi Islam sebagai alat menyejahterakan umat. Ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial, katanya, menjadi persoalan krusial bangsa Indonesia dewasa ini.

“Jurang antara orang kaya dan miskin di Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara,” kata konsultan The Fatwa Center ini.

Ia mengutip penelitian Oxfam Indonesia dan INFID, yang menyebut bahwa dalam 20 tahun terakhir, Indonesia berada di peringkat enam terbawah dunia dalam hal ketimpangan. Bahkan, ia melanjutkan, harta dari empat orang terkaya Indonesia setara dengan harta 100 juta orang miskin di Indonesia.

Atas masalah-masalah tersebut, pemerintah sendiri mulai memfasilitasi pengembangan dan pemberdayaan filantropi Islam. Ini ditunjukkan melalui pembentukan regulasi di bidang zakat dan wakaf, penataan institusi kelembagaan, dan sebagainya. Fuad Nasar menerangkan, filantropi Islam pun telah masuk dalamArsitektur Ekonomi dan Keuangan Syariah di Bappenas.

“Saya kira, usaha ini juga akan mendorong pengembangan sektor filantropi Islam,” kata Sekretaris Baznas periode 2004-2015 ini.

Namun, dalam hal ini, ia menilai pemerintah tak bisa bekerja sendirian. Masalah-masalah tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Ia menegaskan, sangat penting adanya political will untuk meluruskan kiblat ekonomi bangsa.

Pun, Fuad Nasar mengapresiasi geliat pertumbuhan LAZ. Jika para pengelola zakat bersatu berorientasi pada kepentingan umat, katanya, maka sumbangan LAZ pada kesejahteraan akan tampak nyata. Akan tetapi kalau masing-masing hanya berpikir membesarkan lembaganya sendiri daripada saling menguatkan, maka dunia perzakatan di tanah air belum akan mampu membuat lompatan besar.

Senada dengan Fuad Nasar, Ketua Forum Zakat (FOZ), Nur Efendy menegaskan bahwa gerakan filantropi umat telah memasuki fase kolaborasi. Semua elemen harus bahu membahu dalam merentas kemiskinan di negeri ini. Ia sendiri menawarkan 4 pola sinergi.

Pertama, sinergi dengan pakar dan akademisi. Dua elemen ini yang kemudian melakukan evaluasi, analisis, dan rekomendasi program umat yang berkelanjutan. Kedua, sinergi organisasi sosial dan media. Pada poin kedua ini, seluruh elemen terkait perlu secara aktif mendorong lembaga zakat untuk mempublikasikan portofolio program.

Ketiga, sinergi dengan pemerintah. Nur Efendy mengharapkan pemerintah mampu membuat regulasi yang mendukung pertumbuhan zakat di Indonesia. “Dan terakhir, sinergi antar lembaga filantropi. Perlu ada interkoneksi antar lembaga, baik penghimpunan maupun distribusi. Dan terpenting, meningkatkan kompetensi lembaga dan amilnya sendiri,” tandasnya. (agh)

didieto8 Juni 2017

Berita

Permintaan Meningkat, Lumbung Desa Siap Suplai Beras untuk Kebutuhan Zakat Fitrah

permintaan-meningkat-lumbung-desa-siap-suplai-beras-untuk-kebutuhan-zakat-fitrah

SF-UPDATES,– Mitra Lumbung Desa Sinergi Foundation (LD-SF) di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang siap menyuplai 20 ton beras berkualitas untuk keperluan zakat fitrah. Menurut CEO SF, Ima Rachmalia, di momen Ramadhan 1438 H ini, komoditas beras Compreng menjadi primadona. Permintaan beras semakin tinggi, terutama dari lembaga-lembaga sosial penyalur zakat. “Sebetulnya permintaan reguler di Compreng…

Baca selengkapnya

didieto2 Juni 2017

Tak Berkategori

Apa Saja Kegiatan Seru di RBC? Yuk Simak!

SF-UPDATES,– Di Ramadhan 1438 H, Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) Sinergi Foundation kembali mengajak untuk berlomba-lomba memberi manfaat bagi sesama muslim. Serangkaian kegiatan spiritual pun digelar untuk para member dhuafa guna mengoptimalkan ibadah di bulan suci.

Menurut Direktur RBC, Dr Erni Tresnasari, kegiatan-kegiatan tersebut dihelat tak hanya untuk menambah wawasan saja, namun juga me-recharge iman para member. Lebih lanjut, kegiatan ini bisa memperat sinergi ukhuwah antara penerima manfaat RBC.

Para member sendiri, diakuinya sangat antusias dengan rangkaian acara Ramadhan. Sebab, mereka diberi wadah untuk menimba ilmu keislaman lebih dalam. Yayan, misalnya, salah satu dhuafa yang juga menjadi member, turut senang dengan program-program yang digelar di RBC.

“Acara ini memudahkan saya belajar Al Qur’an dan ilmu agama. Daripada saya belajar sendiri di rumah, lebih baik mengkaji bersama member lain. Kami jadi saling kenal,” tutur Yayan.

Apa saja kegiatannya?

Pertama, RBC menghelat Pesantren Kilat khusus Member RBC. “Kegiatannya dibuat berkelompok guna memaksimalkan pembinaan materi keislaman. Kegiatan ini diadakan selama 1 pekan terhitung dari tanggal 27 Mei – 2 Juni 2017,” kata Dr Erni.

Kedua, Gerebek Rumah Sehat Dhuafa. Acara ini dilaksanakan setiap Rabu dan Jumat selama bulan Ramadhan. Ketiga, Lomba Anak Shaleh (aneka lomba untuk anak member) yang digelar pada tanggal 4 Juni 2017. Perlombaan yang diadakan di antaranya lomba hafalan surat pendek, lomba mewarnai, lomba merangkai puzzle, lomba azan, serta lomba ekspresi bayi muslim.

Yang ketiga, Tebar 1000 Takjil yang dilakukan setiap Jumat selama bulan Ramadhan. Terakhir, RBC menggelar tabligh akbar bersama Ketum MUI Bandung cum Dewan Pembina Sinergi Foundation, Prof KH Miftah Faridl dan tebar paket hari raya untuk dhuafa, yang diadakan pada 20 dan 17 Juni 2017.

RBC merupakan sebuah institusi kesehatan, khususnya di bidang persalinan cuma-cuma, khusus bagi ibu hamil dari kalangan dhuafa. HIngga kini sejak digagas Sinergi Foundation Oktober 2004 lalu, RBC telah memfasilitasi lebih dari 149.687 layanan kesehatan untuk ibu dan anak. []

didieto31 Mei 2017

Berita

Ummahatul Firdaus Gaet Sinergi Foundation Sukseskan Kajian Islam Selama Sepekan XIV

ummahatul-firdaus-sukseskan-kajian-islam

SF-UPDATE,– Majelis Taklim Ummahatul Firdaus menggandeng Sinergi Foundation menggelar Kajian Islam Selama Sepekan (KISS) XIV. Bertajuk ”Aku Bangga Menjadi Muslim”, taklim ini berlangsung selama sepekan dari Ahad-Sabtu, 28 Mei s/d 3 Juni 2017 di Hotel Horison Bandung. Acara ini juga menghadirkan ragam ulama, ustaz dan ustazah yang berkiprah dalam dunia keislaman dan mumpuni di bidang…

Baca selengkapnya

1 323 324 325 326 327 365
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!