Di awal perkembangan Islam, para sahabat belum memiliki madrasah atau tempat belajar seperti saat ini. Saat itu, kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan di masjid-masjid.
Sebagian Sahabat Sinergi mungkin sudah tak asing dengan sosok Malik bin Anas, Syaikh Ibnu Mubarak, dan Imam Abu Abdish Shamad. Mereka adalah beberapa cendekiawan muslim yang membawakan kejayaan kepada Islam di masa itu.
Salah satu pembelajaran yang diajarkan di Kuttab Al Fatih – Sinergi Foundation adalah dialog iman. Seraya mempelajari Al Qur’an, para santri juga disematkan dalam dialog-dialog iman.
Sejak pagi, kegiatan Parade Tasmi yang diselenggarakan di Masjid Ansharullah Cileunyi ini ramai dihadiri para wali santri. Sebagian besar orangtua begitu antusias menanti penampilan putra putrinya di atas panggung.
Kesadaran berwakaf perlu ditingkatkan, sebabnya ketika meninggal nanti hanyalah wakaf sebagai amalan jariyah yang bisa dibawa pulang ke haribaan Allah, tutur Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation, Prof. Dr. KH Miftah Faridl dalam suatu kesempatan.
Al Quran sebagai pedoman hidup umat Islam, mengandung begitu banyak kisah yang dapat kita petik hikmahnya. Metode penyampaian dengan kisah ini pun diterapkan di Kuttab.
Siang itu, (8/4/2019), kantor Sinergi Foundation dipadati oleh sebanyak 100 orang siswa-siswi SMAIT Insantama yang tengah melakukan studi banding. Di sini, para siswa diberikan edukasi tentang ZIS dan wakaf produktif, serta program-program yang tengah dikembangkan Sinergi Foundation.
Pakar sejarah Islam ustaz Budi Ashari mengatakan bahwa wakaf menjadi ‘panglima’ ekonomi negara sepanjang sejarah dan peradaban Islam, mulai zaman Rasulullah hingga runtuhnya Daulah Turki Utsmani, bahkan peninggalannya masih banyak menyebar hingga sekarang.