Uncategorized

BerbagiBersinergi #SaveGarut

doc.republika

SF-UPDATES,– Banjir bandang dan longsor kembali menghempas ibu pertiwi. Kali ini, derasnya guyuran hujan yang berakibat pada musibah besar tersebut terjadi di Kota Intan, Garut, Selasa (20/9/2016) malam. Dari pantauan relawan SF-Rescue di lokasi, bencana mulai terjadi di pucuk daerah Garut Selatan. Longsor menimbun daerah Batu Tumpang Cikajang Garut.

Tak berhenti di sana. Aliran Sungai Cimanuk meluap hingga ketinggian 4 meter. Beberapa bangunan sentral, seperti RSUD Dr Slamet turut terendam dan rusak. Sebanyak 15 jiwa tewas, 30 orang luka-luka, dan 6 kecamatan terkena dampak bencana. Pemerintah Kabupaten Garut itu seketika menetapkan Garut dalam situasi darurat bencana.

Peduli kita ringankan duka mereka! BerbagiBersinergi #SaveGarut

Donasi Sekarang

Atau Salurkan donasi kemanusiaan Anda ke:

BCA 008 305 3485

BNI Syariah 9255 3468

Mandiri 13000 7004 2000

Mandiri Syariah 700 5463108

Bank Muamalat 116 000 1931

a.n Sinergi Foundation

 

Call Center 0851 0004 2009

www.sinergifoundation.org

didieto21 September 2016

Uncategorized

Belajar Kearifan Agama dari Kampung Nagrak – Garut

SF-UPDATE,– Mari ucapkan selamat pagi, di hari yang indah ini Bandung nampak lebih berseri. Menyisakan setangkup rindu yang bersemi. Bagaimana tak demikian, perayaan qurban yang dinanti kan tiba tak lama lagi. Dengan langkah lembut, sinar mentari mulai menyentuh sepertiga daratan. Bulir-bulir embun yang berbaris acak, mulai terangkat dari pucuk-pucuk dedaunan, bergelut dengan pekatnya rutinitas di jalanan.

Menyambut Iedul Qurban, Sinergi Foundation siap menjalankan syariat lewat program Green Kurban. Berangkat dengan niat ketulusan, agar lebih banyak kaum muslim di pelosok daerah yang juga bisa turut berbahagia, merayakan euforia hari raya Islam ini. Ragam klasifikasi daerah distribusi kurban. Dari daerah terpencil, rawan akidah, hingga memang daerah yang masyarakatnya notabene kaum papa. Dan saya, bersama lima anggota lainnya diamanahi memonitoring daerah Garut dan Pangandaran.

Beranjak pukul delapan, beberapa tim telah mendahului ke titik distribusinya masing-masing. Kemudian, setelah semua persiapan dirasa lengkap, berangkatlah tim kedua ini.

Untuk ke Garut sendiri estimasi perjalanan memakan waktu sekira 4-5 jam. Sepanjang perjalanan, meski belokan hanya terbagi dua; kanan dan kiri, namun tingkat lengkungan atau ketajamannya sangatlah beragam. Ada yang memang tumpul-tumpul nanggung, tapi sekalinya tajam berasa nancep banget.. Tapi biarlah, bukankah sebuah petuah bijak pernah berkata, nakhoda yang tangguh lahir dari terjangan badai dan amukan ombak. Begitulah sesuatu yang luar biasa dihasilkan dari kondisi yang memiliki tingkat tantangan yang besar.

Gugusan pohon yang menyelimuti kanan-kiri, deretan tanaman yang menjulang ke langit, serta kelokan jalan-jalan tajam nan curam. Jangan tanya seberapa sering jantung ini seakan berhenti berdetak, karena jalan yang sempit sehingga hampir menyenggol pengendara lain. Silang sengkarut, perjalanan Bandung Garut ditempuh dengan cukup lancar.  Meski tadi, kelokannya ampun dah. Sesekali bercanda dengan saling menggencet satu sama lain,, xixii. Meski untuk kondisi jalannya sendiri, tidaklah terlalu buruk.

Perjalanan pertama bertolak ke kawasan Cisompet Garut, Ahad (11/09/2016). Tepatnya dilakukan di dua tempat, Kampung Nagrak dan Kampung Lengkong Jaya. Masing-masing memiliki kesan tersendiri.

Tiba di Kampung Nagrak, sebagai lokasi pertama droping monitoring green kurban. Jarum jam dengan antengnya bertengger di angka dua siang. Kita pun bertemu dengan Pak Jajang sebagai nara hubung dan tokoh masyarakat di sana, Ustaz Wawan.

Sambil melepas lelah dan rehat-rehat manja, kita pun bercengkrama akrab dengan Pak Jajang. Tentang seluk beluk desa sekaligus tentang kondisi qurban di tempat tersebut.

“Karena di sini mayoritas buruh tani, ya termasuk yang langka ada yang bisa membeli hewan kurbannya,” jelas Pak Jajang.

“Sudah dua tahun ini, tidak ada yang kurban di sini,” kisahnya kemudian.

Kendati demikian, pembaca, tak bolehlah kita memandang remeh tempat tersebut. Keguyuban masyarakat Kampung Nagrak sungguhlah luar biasa. Sekekurangan apa pun mereka, namun tetap berusaha untuk saling membantu.

Hal ini diutarakan Ustaz Wawan, selaku pengasuh pondok pesantren Nurul Hikmah. “Alhamdulillah, kita sudah punya madrasah dan masjid, pesantren sedang dalam masa pembangunan. Sedikit-sedikitnya hasil swadaya masyarakat. Ada yang menyumbang uang ada juga yang menyumbang tenaga,” kenang Ustaz Wawan.

“Mereka ingin terlibat sekecil apa pun kontribusi yang bisa diberikan. Karena mereka merasa ingin memiliki juga,” lanjutnya.

Di Kampung Nagrak, anemo masyarakat menghadapi Iedul Qurban begitu terasa. Selepas Shalat Isya, sejumlah anak-anak, pemuda, baik laki-laki dan perempuan tumplek blek di area Masjid Nurul Hikmah. Ada yang menabuh bedug, sisanya bershalawat. Tak sedikit dari mereka yang lari-lari ceria.

Senandung takbir dan shalawat terus menggema, diiringi sahutan suara domba-domba yang terikat. Perayaan setahun sekali yang begitu terasa khidmat. Kendati gemuruhnya memekik telinga, namun suara-suara khas anak kecil yang bershalawat meningalkan kesan tersendiri. Hingga fajar menyeruak, barulah gema takbir berganti tadarusan lalu azan. Bocah-bocah yang tertidur kelelahan, kemudian dibangunkan untuk menunaikan shalat Subuh.

Detik terus berdetak, hingga jarum jam merangkak manis di angka enam. Hampir semua warga Kampung Nagrak bersiap menunaikan Shalat Ied. berpakaian sederhana, pakaian terbaik yang mereka punya, nampak dengan bangga mereka pakai. Mayoritas baju koko berwarna putih, lengkap dengan peci dan sarung. Pun yang perempuannya, kian meneduhkan dengan mukena-mukena yang menutupi tubuh.

Lokasi Shalat Ied sendiri memang bukan di Kampung Nagraknya, karena langgar yang mereka punya terlalu kecil. Kita harus berjalan lagi sejauh 500 meter dengan kondisi jalan yang menanjak. Dinginnya suasana pagi tersebut, membuat hati kian merasa nyaman. Apalagi, melihat senyum dan sapaan hangat dari para warga sekitar, meski kita tak saling kenal..

Setiba di lokasi shalat Ied, di Masjid Al Hikmah, ratusan jamaah sudah memadat. Beberapa orang menggelar sajadah di halaman masjid. Shalawat dan takbir kembali menggema. Tapi eh tapi,, ada yang terlihat kelelahan, mungkin capek menabuh bedug semalam suntuk kali ye..

Tak lama Sang khotib naik mimbar, mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus memahami nilai penting yang terkandung dalam syariat qurban ini. Di antara materi yang disinggung sang khotib adalah meneladani dua sosok insan mulia, Nabi Ibrahim dan Ismail kecil.

“Syariat qurban ini, tak bisa terlepas dari sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,” kata sang khotib membuka ceramahnya.

“Keteladanan dua manusia yang teramat bersejarah. Contoh keteguhan dalam menjalankan perintah Allah Swt,” lanjutnya.

Kemudian, sang khotib pun mengilaskan cerita syariat qurban yang sekarang diikuti umat Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Dari mulai turunnya perintah menyembelih Ismail sampai purna cerita digantinya Ismail kecil dengan seekor hewan (gibas).

Usai khutbah, tibalah waktunya untuk menunaikan shalat Ied. Takbir kembali memantul di sudut-sudut dinding Masjid Al Hikmah. Terasa sekali bagaimana kekhusyukan para jamaah dalam shalatnya. Tak berhenti di sana, selepas shalat, para jamaah membentuk barisan kemudian saling bermusafahah. Masyaa Allah, betapa indahnya persatuan dan bermaafan.

Kampung Nagrak memang bukan tempat yang begitu luas, hanya berjumlah 400 KK, namun meninggalkan segudang kearifan agama yang membekas di hati. Iedhul qurban kian menjadi momentum perekat ukhuwah. Tak yang senja, para pemuda dan bocah-bocah turut menyemut di sekitaran pemotongan hewan kurban. Walaupun ada yang masih malu-malu, namun mereka cukup mudah diatur untuk direkam testimoni dan sepenggal ucapan terima kasih dengan kamera. Yah, berkali-kali take, rasanya gak masalah. Anggap saja tontonan komedi gratis. Hehe

Golok dan pisau telah diasah, satu persatu domba pun mulai diakadkan untuk dikurbankan. Selain basmalah, takbir, dan do’a juga disebutkan nama pequrban. Terselip juga harapan dan ucapan terimakasih yang tulus.

Langit Garut agaknya sedikit ‘galak’, pukul 10 pagi saja, badan sudah dibuat berkeringat. Belum lagi, bau domba dan darah-darah yang meleleh hanyir, sungguh menusuk hidung. Beberapa domba yang telah purna tersembelih, mulai disayat- dan dicacah kecil-kecil. Meski bau yang tak sedap menyeruak, namun nampak segali gurat bahagia dari para panitia lokal penyembelihan qurban tersebut. Bahkan saking bahagianya, ada dari mereka yang nyeletuk, “Asyik, tiasa ngegel daging uy (asyik, bisa makan daging, uy_terj).”

Saat simbolis penyerahan pun, sering sekali terdengar ucapan yang membuat hati merasa gerimis. Do’a-do’a yang tulus mereka panjatkan, untuk para tim monitoring, lembaga Sinergi Foundation, cum para muqarib yang telah menyisihkan sebagian hartanya.

“Aamiin.. sama-sama!” begitulah balas kami atas do’a-do’a yang telah dipanjatkan.

Berusaha komitmen dengan konsep green (hijau), ada yang berbeda dari penyerahan daging kurban dari tim monitoring ke masyarakat. Di antaranya yang kentara adalah tidak menggunakannya plastik saat pembagian. Penggantinya adalah belahan daun-daun pisang yang masih hijau mencolok. Hal ini dilakukan salah satunya sebagai ikhtiar merawat bumi dengan meminimalisir sampah plastik.

Sebagian dari daging tersebut, kemudian dimasak secara berbarengan di beberapa rumah warga. Puluhan ibu dan para kembang desa berkumpul, berlomba-lomba menyajikan olahan daging dengan peralatan masak seadanya. Kebanyakan masih menggunakan kayu bakar, walaupun ada yang sudah memakai kompor gas. Hasilnya, kebahagiaan yang terpancar sesaat kuat dan empuknya daging dilumat bersisa tulang oleh para warga, khususnya anak-anak yang sedari awal begitu antusias dengan kedatangan kami. []

 

Penulis : Maharevin

didieto16 September 2016

Uncategorized

Bagikan Daging Kurban Jangan Pakai Kresek, Yuk Ikuti Cara Masyarakat Kampung Sadarbakti Ini!

SF-UPDATES,– Hari Raya Idul Adha 1437 H telah tiba. Di momen sakral ini, masyarakat berbagi kebahagiaan dan menikmati hasil kurban bersama-sama. Selalu mampu melahirkan sebersit pengalaman baru yang tak terlupakan.

Tapi, pembaca, ada yang beda. Mari kita tengok perayaan Idul Adha di Kampung Sadarbakti Desa Sukasirna Cianjur. Jika umumnya masyarakat gemar menggunakan kantung plastik sebagai media distribusi, di sini justru lain. Ada pelepah daun pisang, dan ganting (irisan bambu) yang digunakan untuk wadah daging yang siap diibagi ke masyarakat.

Menurut Ahmad Nurjen, mitra Green Kurban di wilayah tersebut, masyarakat setempat telah lama memelihara kebiasaan ini. Mereka umumnya mendayagunakan bambu tak terpakai untuk mengaitkan daging. Pun dengan penyembelihan Senin (12/9/2016), wadah yang digunakan nerasal dari pepohonan sekitar.

Hal ini selaras dengan tujuan Green Kurban untuk melestarikan bumi. Tentu kita tahu, plastik yang selama ini dipakai masyarakat, memiliki unsur yang sulit diurai. Alih-alih bermanfaat, efeknya justru mencemari lingkungan. Dengan warga memakai bahan organik, Green Kurban menjadi yang terdepan mendukung kebiasaan ini.

“Masyarakat saat ini betul-betul tergantung dengan plastik. Usai Idul Adha, banyak plastik yang tercecer. Sehingga harus ada yang memahamkan pada mereka untuk menggunakan media organik,” kata Saji Sonjaya, koordinator Green Kurban 2016, beberapa waktu lalu.

Fauziah, salah seorang tim monitoring Green Kurban, menuturkan, “Biasanya ada edukasi dulu dari kami, bahwa masyarakat harus menggunakan pelepah pisang atau bahan organik lain. Tapi, Alhamdulillah, di Kampung Sadarbakti ini, mereka sadar sendiri untuk memakai media alami,”

Tak hanya edukasi soal media dari lingkungan, Green Kurban pun turut maju menggerakkan penghijauan bumi. Dari setiap satu hewan yang dikurbankan, akan ditanam satu pohon. “Hanya sebagian kecil dari ikhtiar menghijaukan bumi. Namun, insya Allah akan terasa manfaatnya di masa mendatang,” tandas CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia.

Reporter: Aghniya Ilma Hasan

didieto12 September 2016

Berita

Tiga Tahun Berkiprah Green Kurban Tanam 18.501 Bibit Pohon

… dalam kurun waktu 2013-2015 sendiri, Green Kurban telah menanam sejumlah 18.501 bibit pohon melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah dan juga tempat-tempat khusus di pelbagai pelosok negeri.

 

Jelang Idul Adha 1437 H (2016), Green Kurban – Sinergi Foundation kembali menyapa kita. Sebuah inisiatif program Kurban Plus Penghijauan, dimana dari satu hewan yang Anda kurbankan, turut ditanam satu pohon sebagai ikhtiar hijaukan bumi.

Ima Rachmalia, CEO Sinergi Foundation, mengatakan bahwa dalam kurun waktu 2013-2015 sendiri, Green Kurban telah menanam sejumlah 18.501 bibit pohon melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah dan juga tempat-tempat khusus di pelbagai pelosok negeri.

”Sejumlah 18.501 bibit pohon yang kami tanam, merupakan buah sinergis masyarakat peduli melalui program Green Kurban dan Program Sedekah Pohon Produktif, yang juga digagas Sinergi Foundation,” Ungkap Ima Rachmalia.

Ima menambahkan, bahwa total kepedulian yang dihimpun sampai dengan tahun 2015 lalu mencapai 13.730 hewan kurban (setara kambing/domba), dengan akumulasi penerima manfaat mencapai satu juta warga miskin, terpencil, rawan gizi dan wilayah minus lainnya di negeri ini. “Dari Aceh hingga Papua. Bahkan melintas ke negeri jiran, wilayah minoritas muslim di Pattani (Thailand), dan Kamboja,” tambah Ima.

Di Pondok Pesantren Salafiyah Miftahul Ridwan, Kasomalang – Subang, misalnya. Seribu pohon buah sudah disemai di tanah kosong, milik pesantren. Kyai Sofyan, sang pengasuh pondok begitu antusias dengan program ini. Ia tak sekadar menunaikan amanahnya untuk menanamkan seribu pohon tersebut di lahan kosong, melainkan mengedukasi santri akan hikmah menanam pohon tersebut.

“Saya umpamakan santri itu seperti benih. Ia dirawat sedemikian rupa, diberikan asupan pemahaman yang benar. Kelak, santri itu harus bisa bertahan saat ditanam di lahan yang masih kosong sekalipun,” ungkap Kyai Sofyan.

Kyai Sofyan menambahkan, bahwa pohon yang ditanam di pesantrennya adalah jenis pohon buah: jambu air dan jambu batu. Beberapa sudah ada yang berbuah. Walaupun belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Namun, bukan perkara memetik buahnya yang menjadi fokus dari Kyai Sofyan. Melainkan, hikmah apa yang dapat dipetik para santri saat menanam dan menjaga pohon tersebut.

 “Jiwa ketakwaan itu, bisa diraih bila hatinya tidak tergantung dan menggantungkan pada dunia. Tidak berharap kepada selain Allah. Dan bagaimana mungkin jiwa ketakwaan itu bisa diraih manakala seseorang masih mengharap belas kasih dari manusia? Mengharap apa yang telah ia perbuat, harus ada balas jasanya?” terangnya.

 Seribu pohon produktif itu ditanam di areal tanah pesantren seluas hampir satu hektar. Sebanyak 670 pohon ditanam di lingkungan pesantren dan sekira 300-an diberikan kepada pesantren cabang Miftahur Ridwan yang ada di Cijere-Subang. Sisanya ia bagikan ke masyarakat setempat, kurang lebih ke 25 kepala keluarga. Dengan syarat, lahan yang ditanam itu tidak akan diganggu gugat oleh pembangunan.

Kyai Sofyan memprediksikan bila pohon-pohon yang ditanam di pesantren sesuai dengan harapan, maka buah yang dipetik bisa mencapai satu ton. Dan itu benar-benar sangat membantu kondisi finansial pesantren, yang saat ini hanya bertopang pada 150 ribu untuk membayar beban keseharian santri.

Pelbagai upaya pun dikerahkan demi mendapatkan hasil yang maksimal. Semisal tiap seminggu mengontrol dan mencabuti rumput liar. Atau sepertiga bulan sekali memberi pupuk kandang. Semuanya dilakukan santri mudanya. Bagi Kyai Sofyan sebetulnya ia sedang memberikan pelajaran tanggung jawab dan memelihara kepercayaan.

 

Doa Pengharapan

CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia mengatakan, bahwa menanam pohon kini tampak biasa. “Dampaknya, memang tak akan langsung terasa. Butuh waktu cukup, untuk menuai hasilnya. Boleh jadi nanti di era generasi pelanjut cita-cita, pohon itu kelak akan terasa manfaatnya. Maka yakinkan, dengan doa dan sejuta harapan, benih pohon yang sekarang  ditanam, kelak akan menjadi warisan tak terperi bagi semesta, pun anak-cucu kita nanti,” katanya.

Green Kurban sendiri, menurut Ima, hanyalah bentuk Ikhtiar kecil, yang diharapkan dapat mendorong dan menginspirasi gerakan kolektif yang lebih besar, lestarikan alam raya.

“Karenanya kami mengajak seluruh kaum Muslimin untuk bergabung bersama ribuan pekurban lainnya dalam program Green Kurban. Dengan demikian, Ibadah Kurban bukan hanya sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang direfleksikan dengan hewan sembelihan. Namun, juga menyentuh aspek pelestarian lingkungan.” pungkas Ima.

(SF)

didieto9 September 2016

Uncategorized

Mudahkan Pekurban, Green Kurban Buka Layanan Jemput Donasi 24 Jam

SF-UPDATE,– Untuk memudahkan masyarakat dalam berkurban, Green Kurban – Sinergi Foundation membuka Layanan Jemput Donasi Kurban 24 Jam. Layanan ini diluncurkan oleh Green Kurban untuk menampung animo masyarakat yang besar dalam berkurban tetapi tidak memiliki waktu untuk datang langsung, ataupun sekadar mampir ke Automatic Teller Machine (ATM).

Corporate Communication Sinergi Foundation, Habe Sungkaryo, mengatakan besarnya animo masyarakat untuk berpartisipasi kurban dalam program GreenKurban membuat pihaknya berinisiatif untuk membuka Layanan Jemput Donasi Kurban 24 Jam. Layanan Jemput Donasi Kurban, lanjut Habe Sungkaryo, hanya berlaku untuk wilayah Bandung Raya dan sekitarnya saja. Meski begitu, masyarakat di luar wilayah yang ingin berkurban melalui program Green Kurban Sinergi Foundation dapat langsung mengunjungi laman resmi www.greenkurban.com atau www.sinergifoundation.org .

"Di luar Bandung Raya, tetap bisa berpartisipasi melalui layanan kemudahan transaksi via website www.greenkurban.com dan www.sinergifoundation.org ataupun transfer langsung ke rekening Green Kurban atas nama Sinergi Foundation," jelas Habe pada Jumat (9/9/2016).

Untuk dapat menampung animo masyarakat dalam berbagi, Green Kurban Sinergi Foundation juga terus membuka layanan donasi Kurban hingga hari tasyrik kedua Rabu (14/9/2016) mendatang. (hbs/sf-newsroom)

didieto9 September 2016

Berita

Majelis Inspirasi dan Sinergi Foundation Gelar Kajian Bertajuk Ngaji Ngajak-ngajak

SF-UPDATE,– Majelis Inspirasi bekerja sama dengan Sinergi Foundation menggelar kajian bertajuk Ngaji Ngajak-ngajak di Hotel Malaka jalan Halimun No.36 Bandung, Selasa (06/09/2016). Pada kesempatan itu, Ustaz Dudi Muttaqien sebagai pemateri membahas ihwal pentingnya mengingat kematian. Hadir dalam kesempatan itu, selebritas Daan Aria yang turut memandu keberlangsungan kajian.  “Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang…

Baca selengkapnya

didieto8 September 2016

Uncategorized

Idul Adha Masih Menghitung Hari, Green Kurban Mulai Mobilisasi Hewan Kurban ke Aceh Tamiang

SF-UPDATES,– Kendati Idul Adha masih menghitung hari, tim distribusi Green Kurban telah melakukan mobilisasi hewan kurban ke daerah-daerah pelosok di Indonesia. Salah satunya distribusi ke desa Bengkelang Aceh Tamiang dan desa Melidi di Aceh Timur.

Perjalanan menuju ke sana bukan tanpa kendala. Demi mencapai tujuan, tak hanya jalur darat yang harus ditempuh. Namun juga membelah arus sungai yang cukup deras karena hujan yang terus turun empat hari terakhir. Perjalanan ini menghabiskan waktu sekira tiga jam menggunakan perahu boat.

Saat berada di penyeberangan Pantai Campa, sapi kurban sempat berontak, melawan saat dituntun menuju perahu. Rintangan tak berhenti sampai di sana. Tim Green Kurban pun akan melewati batu raksasa yang disebut Batu Katak, yang letaknya di tengah sungai. Di titik ini, nyawa akan dipertaruhkan.

“Di Batu Katak, beberapa kali kecelakaan merenggut nyawa manusia,” ujar Sepriyanto, ketua Yayasan Sinergi Foundation yang mengepalai langsung tim monitoring wilayah Aceh, Selasa (7/9/2016).

Tak hanya Aceh, tim monitoring Green Kurban akan bergerilya mendistribusikan hewan kurban ke wilayah-wilayah seperti Lampung, Sumatera Barat, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Pembaca, doakan agar amanah segenap muqarrib ini tersampaikan. Doa Anda sangat berarti.

 

Salurkan donasi kurban Anda ke:

Bank Syariah Mandiri 706 0300 709

Bank BCA 008 305 3485

 

www.greenkurban.com

CallCenter: 0851 0004 2009

didieto7 September 2016

Uncategorized

Green Kurban, Menebar Manfaat Hingga Ke Seluruh Negeri

SF-UPDATES,– Idul Adha 1437 H, perayaan sekaligus syariat yang menandai penghambaan makhluk pada Rabbnya, akan segera tiba. Umat Islam lekas berbondong-bondong menjalankan syariat kurban, merelakan harta terbaik terenggut demi meraih ridha-Nya.

Turut meramaikan ibadah suci warisan Nabi Ibrahim, Green Kurban-Sinergi Foundation pun kembali hadir. Inisiatif program kurban, yang dikolaborasikan dengan isu lingkungan. Green Kurban resmi diusung di tahun 2013 lalu, sebagai gagasan baru di ranah pengelolaan kurban yang telah dimulai sejak tahun 2002.

Menurut CEO Sinergi Foundation, Green Kurban adalah salah satu ikhtiar menghijaukan bumi. Dari satu hewan yang dikurbankan, turut ditanam satu pohon. Upaya mengemas ibadah dengan nilai tambahnya sedemikian rupa, tanpa mengurangi esensi.

“Sebuah aksi nyata yang diharapkan menjadi solusi atas bumi yang kian tergerus,” kata Ima.

Dalam kurun waktu tiga tahun, Green Kurban telah berhasil menjejakkan kakinya di seluruh penjuru negeri. Sebanyak 12.829 hewan kurban didistribusikan pada lebih dari satu juta warga miskin di wilayah-wilayah terpencil, konflik, rawan gizi, dan wilayah minus lainnya di pelosok Indonesia.

“Bahkan hingga melintas ke negeri jiran, wilayah minoritas muslim di Pattani (Thailand), dan Kamboja,” imbuhnya.

Tak ketinggalan, sebaran penanaman pohon terus digencarkan. Selama 2013-2015, sebanyak 18.501 bibit pohon telah ditanam di daerah yang dianggap menjadi sentra dakwah, misalnya pesantren, di pelbagai penjuru Indonesia. Jenis pohon yang ditanam sendiri, adalah pohon produktif seperti kayu dan buah.

“Dari pohon yang ditanam itu, diharapkan dapat berdampak pada peningkatan taraf ekonomi penerima manfaat, kelak setelah pohon itu mulai menghasilkan,” jelas Ima.

Kini, di tahun 2016, Green Kurban siap mengelola amanah para pekurban. Hewan-hewan kurban segera rampung didistribusikan mulai ke wilayah Aceh Timur, Lampung, Sukabumi, NTT, hingga Sorong Papua.

“Tanpa menanam pohon, ibadah kurban sudah memiliki keutamaan yang luar biasa. Dengan menambahkan sebuah nilai positif (menanam pohon) yang mengiringi ibadah kita, semoga menjadi bagian dari amal jariyah yang senantiasa mengalirkan kebaikan,” harap Ima. []

Reporter: Aghniya Ilma Hasan

didieto7 September 2016

Uncategorized

Siapa Bilang Menanam Pohon itu Penting?

 

Oleh: Ima Rachmalia (CEO Sinergi Foundation)

 

Laman National Geographic melansir hasil riset yang dipimpin oleh ahli geografi Belinda Margono dari University of Maryland, melihat gambar-gambar satelit jangka panjang. Riset tersebut mengatakan antara Tahun 2000 dan 2012, Indonesia kehilangan sekitar 5,02 juta hektar hutan primer. Sebuah wilayah yang hampir seukuran Sri Lanka.

Padahal, menurut studi yang dimuat dalam jurnal Nature Climate Change tersebut, hutan-hutan Indonesia mengandung keanekaragaman hayati flora dan fauna yang tinggi, termasuk 10 persen dari tanaman dunia, 12 persen dari mamalia dunia, 16 persen dari reptil-amfibi dunia dan 17 persen dari spesies burung dunia.

Lebih luas lagi dalam lingkup global, planet kita saat ini kehilangan lebih dari 15 Miliar pohon setiap tahun (setara dengan 48 lapangan sepak bola setiap menit). Masih menurut laman tersebut, Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang emisi terbesar terutama dari sektor deforestasi dan degradasi hutan. Perbaikan tata kelola kehutanan memegang kunci dalam pengurangan emisi. Pohonlah yang mampu menopang lingkungan Bumi dari efek negatif pemanasan global.

Bagi sebagian kita, keprihatinan melihat fakta serupa sudah mewujud aksi nyata. Bukan lagi di tataran diskusi, berwacana ria. Green Kurban, hanya secuil inisiatif, untuk menjadi bagian dari solusi atas problematika bumi kita.  

Resmi diusung di tahun 2013 lalu, sebagai gagasan baru di ranah pengelolaan Kurban yang telah dimulai sejak tahun 2002. Total kepedulian yang dihimpun sampai dengan tahun 2015 lalu mencapai 13.730 hewan kurban (setara kambing/domba), dengan akumulasi penerima manfaat mencapai satu juta lebih warga miskin, terpencil, rawan gizi dan wilayah minus lainnya di negeri ini, mulai Aceh hingga Papua. Bahkan hingga melintas ke negeri jiran, wilayah minoritas muslim di Pattani (Thailand), dan Kamboja.

Di pelosok Papua, ujung Timur negeri ini, misalnya. Distribusi hewan Kurban menembus 10 desa di 6 Kecamatan, yang tersebar di Kabupaten Sorong dan Raja Ampat. Di salah satu titik distribusi, Selat Kalobo, perjalanan distribusi hewan Kurban harus ditempuh dengan menyeberang samudera selama sekitar 2 jam dari laut Sorong.

Jika tadi di ujung Timur negeri, hewan kurban amanah donatur sekalian, juga menembus Pelosok Aceh, Provinsi paling Barat Nusantara. Selain didistribusikan untuk para pengungsi Rohingya yang berada di barak pengungsian di Bayeun, Aceh Timur dan Lhok Bani, Langsa, hewan Kurban donatur sekalian juga sampai ke Tiga desa di Dua Kecamatan, Kabupaten Aceh Tamiang. Bahkan untuk menuju salah satu titik, yakni Desa Baling Karang, perjalanan ditempuh dengan menyeberang sungai menggunakan getek, sejenis rakit yang digerakkan menggunakan tali.

Di Lampung, distribusi Kurban menjangkau Tiga dusun di dua kecamatan, yang tersebar di Kabupaten Tanggamus dan Pesawaran. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah minoritas muslim yang tergolong sebagai provinsi miskin di negeri ini, Alhamdulillah, distribusi hewan kurban amanah donatur sekalian, menjangkau Delapan Desa, Lima Kecamatan di Kabupaten Alor, NTT. Sedang di Jawa Tengah dan Jawa Barat, distribusi menjangkau 58 desa di 44 Kecamatan yang tersebar di 23 Kabupaten.

Adapun penanaman pohon sejumlah hewan yang terhimpun di tahun 2015 lalu, dilakukan di kawasan Terpadu Firdaus Park, Kabupaten Bandung Barat. Maka, dalam kurun waktu 2013-2015, Green Kurban telah menanam sejumlah 18.501 bibit pohon melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah di pelbagai pelosok negeri.

Jelang Idul Adha 1437 H, Green Kurban kembali menyapa kita. Bahwa tanpa menanam pohon, ibadah Kurban sudah memiliki keutamaan yang luar biasa. Dengan menambahkan sebuah nilai positif (menanam pohon) yang mengiringi ibadah kita, semoga menjadi bagian dari amal jariyah yang senantiasa mengalirkan kebaikan.

Terima kasih dihaturkan atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami, Sinergi Foundation (SF), untuk mengelola amanah dari segenap insan peduli selama ini. []

 

didieto7 September 2016

Berita

Garis Arsir Kurban dan Penghijauan

SF-UPDATE,– Menanam pohon kini tampak biasa. Dampaknya, memang tak akan langsung terasa. Butuh waktu cukup, untuk menuai hasilnya. Boleh jadi nanti di era generasi pelanjut cita-cita, pohon itu kelak akan terasa manfaatnya. Maka yakinkan, dengan doa dan sejuta harapan, benih pohon yang sekarang  ditanam, kelak akan menjadi warisan tak terperi bagi semesta, pun anak-cucu kita…

Baca selengkapnya

didieto7 September 2016

1 357 358 359 360 361 381
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!