Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq, Sedekah

Home »
Uncategorized

Member: Ada Ketulusan dalam Pelayanan RBC

SF-UPDATE,– Boleh jadi kita tidak mengingat kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Tapi lain cerita bagi pihak yang terbantu, secuil kebaikan itu bermakna baginya. Apalagi sebuah kebaikan yang dibalut dalam perasaan yang tulus.

Pada poin inilah yang kemudian menjadi saksi. Seperti yang dikisahkan salah seorang bidan RBC, Irma yang bertemu dengan salah satu dari ribuan member RBC di PKM Melong Asih akhir Januari 2017.

“Ketika saya menunggu pembimbing lapangan di PKM Melong Asih. Gak sengaja ketemu member yang sedang mengantarkan anaknya periksa ke dokter. Member itu rajin mengaji dan punya anak penghapal Quran,” kisah bidan Irma membuka percakapan.

Percakapan itu pada awalnya hanya sapa-sapa biasa, obrolan kemudian bermuara ke RBC, terkhusus ketika perasaan dia selama menjadi member, saat ia melahirkan buah hatinya yang keempat.

Menurut member tersebut, pelayanan RBC mulai dari layanan mustahik yang mempermudah proses pendaftaran, murotal yang diputar saat pelayanan, dan pelayanan bidan yang ramah.

Ia mengatakan dari seluruh pelayanan persalinan yang pernah ia rasakan, RBC adalah yang terbaik.

“Saat pertama kali diterima di lamus dengan syarat KTP yang seadanya saja sangat terharu, karena biasanya birokrasi untuk mendapatkan pelayanan gratis itu dipersulit,” kisahnya.

"Masya Allah masih ad org yang mau mempermudah urusan kaum lemah. Mudah-mudahan Allah mempermudah urusan petugas RBC," lanjutnya.
Kemudian, bidan Irma kembali bertanya, ihwal apa yang berbeda antara pelayanan RBC dengan instansi lain?

"Hati bu, karena melayani dg hati terasa sampai hati pula, saya merasakan ketulusan itu," pungkas sang member itu. []

 

didietoFebruary 1, 2017

Uncategorized

Potret Serah Terima dan Tasyakur Perampungan Masjid Ramah Gempa di Paru Keude Aceh

SF-UPDATES,– Purna sudah pembangunan Masjid Sederhana Ramah Gempa yang dibangun Sinergi Foundation di Paru Keude, Pidie Jaya Aceh. Masyarakat setempat tak perlu lagi terpaksa shalat berjamaah di antara puing-puing rumah Allah yang masih berserakan pasca gempa Desember lalu. Kini, jantung kehidupan umat Islam itu kembali dapat menaungi mereka.

Masjid itu dinamai Al Ukhuwah, menandai spirit kebersamaan dalam bingkai persaudaraan Islam, yang selama ini dijunjung tinggi masyarakat Aceh. Pun, ini menjadi simbol persaudaraan antara donatur Sinergi Foundation dengan masyarakat Pidie Jaya yang mengalami musibah Gempa. Maka, pada Jumat (27/1/2016), acara serah terima masjid pun dilakukan. 

Bagi tim SF, perjalanan ini bukan mudah. Dari Kuala Simpang, mereka perlu menempuh jarak 340 kilometer untuk sampai di Gampong Paru Keude. Perjalanan yang ditempuh sejak pukul 3 pagi ini dilakukan oleh 4 orang tim: ketua yayasan Sinergi Foundation, Drs H. Sepriyanto; korlap pembangunan Mesjid, Abdurrahman; fotografer, Andi Candra; dan Bang Iswanto sebagai perancang dan kepala tukang pembangunan masjid.

Sampai di sana, masyarakat telah bahu membahu dan bergotong royong membuat tasyakur atas pembangunan masjid. Para ibu, maupun bapak-bapak membantu pembuatan kuah beulangong, yaitu kari kambing yang dimasak di kuali besar. Semua bekerjasama, berpadu merayakan berdirinya rumah Allah. Bergembira atas kembali tegaknya pusat peradaban Islam itu.

Dalam serah terima tersebut, turut hadir sejumlah tokoh masyarakat. Selain ketua yayasan Sinergi Foundation Drs H.Sepriyanto, hadir pula para geucik (aparat desa), Kompi TNI Armed dan anggotanya, juga pihak kecamatan dan kepala desa di Gampong Paru Keude.

Berikut tim SF merekam acara tersebut:

Penyerahan Masjid dari SF diwakili Abdurrahman (Relawan/Korlap Pembangunan Masjid) kepada masyarakat diterima oleh Geuchik (Kepala desa) Paru Keude.

Suasana gotong royong pra-tasyakur masjid Al Ukhuwah

Shalat Jum'at perdana di Masjid Al Ukhuwwah

Tim SF dan geucik setempat

Reporter: Abdurrachman, Andi

Penulis: Aghniya

didietoJanuary 28, 2017

Berita

[OPEN RECRUITMENT] Ayo Jadi Bagian dari Tim Sinergi Foundation!

Sinergi Foundation, sebuah lembaga nirlaba independen pengelola Wakaf, Zakat, Infak-sedekah dan dana publik lainnya, membuka peluang bagi siapapun yang memiliki passion dan berkomitmen untuk berkarya di posisi sebagai berikut: a. Administrator Lembaga/Sekretaris (ADM) b. Pemberdaya Bidang Ekonomi (EK) c. Pemberdaya Bidang Pendidikan (PD) d. Pengelola Lahan Pemakaman & Pertanian (PP) e. Legal Officer (LO) f….

Baca selengkapnya

didietoJanuary 16, 2017

Berita

Progres Pembangunan Positif, Pembangunan Masjid Sederhana Ramah Gempa Hampir Purna

SF-UPDATES,– Telah menginjak satu bulan sejak bencana gempa menghempas Pidie Jaya, Aceh. Masyarakat setempat, dibantu berbagai elemen peduli, terus melakukan perbaikan dan pemulihan dari masa sulit tersebut. Termasuk, membangun masjid sebagai jantung kehidupan umat Islam. Pun Masjid Sederhana Ramah Gempa yang dibangun Sinergi Foundation di Paru Keude, Pidie Jaya, terus menunjukan progres. Hampir tiga minggu…

Baca selengkapnya

didietoJanuary 12, 2017

Uncategorized

Magang di Pedesaan, Aktivis BPB 5 Coba Baktikan Diri Pada Masyarakat

SF-UPDATE,– Dalam rangka mengasah kemampuan bermasyarakat, sejumlah aktivis pemimpin bangsa melakukan program magang di pedesaan. Di antara wilayah yang dituju adalah kawasan Lumbung Desa Cigalontang Tasikmalaya. 

Aktivis pemimpin bangsa angkatan 5, Aji menceritakan pengalaman-pengalamannya selama magang di sana. Kegiatan-kegiatan kerohanian dan keremajaan menjadi agenda sejumlah mahasiswa ini di lumdes binaan Ustaz Gungun. 

“Magang di Lumbung Desa kp. Cibaeud awalnya hanya berekspektasi biasa saja seperti halnya desa-desa lainnya yang penuh dengan sawah dan aktivitas warga dalam bertani, namun ketika sampai disana banyak hal yang begitu menyentuh hati kami,” kata Aji, usai mengikuti program magang, belum lama ini. 

Kearifan lokal di sana sangatlah indah, imbuhnya, ketika datang saja sudah dijamu dengan berbagai makanan dari mulai ayam goreng, ayam bakar, ikan, dsb. Belum lagi warga di sana sangat ramah-ramah, setiap berpapasan senyum tak pernah terlewatkan. 

“Warga di sana juga sangat dekat dengan aktivitas ruhiniyah, setiap ba'da subuh, ashar, dan magrhib anak-anak senantiasa ke masjid untuk mengaji dan  setoran hafalan quran. Shalat subuh hampir sering didapati shaf-shaf dimasjid cukup banyak terisi tak seperti mesjid di kota-kota,” katanya. 

Adapun sebuah organisasi remaja bernama Formaci, menurut Aji, sangat keren sekali dalam melaksanakan program kerja. Ada jemput shodaqoh setiap 2 hari sekali ke setiap warga kampung, bersih-bersih kampung seminggu sekali, sharing motivation seminggu sekali, peringatan hari besar agama Islam, dan masih banyak lagi. 

“Magang di lumbung desa sangat mengasyikan dan memberi motivasi bagi kami untuk terus belajar, tulus, dan bermanfaat,” tandasnya.

Reporter : Mahar

didietoJanuary 11, 2017

Uncategorized

Hujan Berpotensi Banjir Tak Surutkan Tekad Relawan SF Bangun Masjid Ramah Gempa

SF-UPDATE,– Masih dalam nuansa tahun baru 2017, cuaca di Pidie Jaya dan sebagian besar wilayah Aceh kurang bersahabat. Hujan yang hampir merata mengancam datangnya banjir. Di beberapa titik seperti Padang Tiji – Kabupaten Pidie, Kota Idi dan Peudawa di Aceh Timur, banjir dalam skala kecil, mulai mendera.

Bahkan hujan deras di awal malam tahun baru memaksa sebagian masyarakat di Padang Tiji harus mengungsi. Begitu juga di Paru Keude – Pidie Jaya, setelah hujan deras sepanjang malam, hari inipun beberapa kali hujan ringan "menganggu" pelaksanaan kerja.

 

Cuaca yang kurang bersahabat ini, disempurnakan dengan berulangkali padamnya listrik selama 2 hari dalam tahun 2017 ini. Sehingga para relawan harus menarik nafas panjang untuk menambah kesabaran.

Perkembangan terbaru, tim relawan telah menyelesaikan pemasangan dan penguatan rangka bangunan. Sehingga siang menjelang sore, tim memulai pemasangan rangka baja untuk atap.

Tahap awal, rangka baja yang dipasang hari ini adalah pada bagian depan (area Imam dan Mimbar). Rangka baja untuk atap ini memang sudah terlebih dahulu dirangkai oleh tim, bersamaan dengan proses pembuatan pondasi masjid.

Sebelumnya, pengerjaan rangka dan tiang-tiang utama masjid sudah tuntas dilaksanakan.

Masjid ini dibangun dengan teknis bongkar pasang. Sehingga pada saat masjid permanen selesai dibangun beberapa tahun mendatang, in syaa Allah. Masjid Sederhana ini masih bisa dibongkar dan dipindahkan ke tempat lain.

Hal ini sudah dilakukan terhadap Masjid Al Muhajirin di lokasi Pengungsi Rohingya Bayeun – Aceh Timur. Masjid yang dibangun oleh Sinergi foundation menjelang Ramadhan tahun lalu (Juni 2015), pada pertengahan Desember 2016 dipindahkan ke Pesantren Madinatud Diniyah – Bayeun. Hal ini dilakukan, mengingat lokasi pengungsian tersebut sudah kosong dan masjid sederhana tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan Pesantren di Bayeun.

Seperti diketahui, pasca gempa, masyarakat sekitar Paru Keude, terpaksa shalat Jum'at di halaman masjid, di antara puing-puing rumah Allah yang masih berserakan. Tim Sinergi Foundation (SF) bersilaturahim ke lokasi, dan menyampaikan gagasan "Masjid (Sederhana) Ramah Gempa", Masyarakat begitu antusias.

Karena dari itu, kami mengajak segenap muslim untuk menyalurkan kepedulian via Program "Membangun Masjid, Membangun Kehidupan". Bantu meringankan beban saudara kita yang sedang ditimpa musibah. Peduli kita, ringankan beban mereka.
 

Salurkan donasi kemanusiaan Anda ke:

BCA 008 305 3485

BNI Syariah 9255 3468

Mandiri 13000 7004 2000

Mandiri Syariah 700 5463108

Bank Muamalat 116 000 1931

a.n Sinergi Foundation

 

Call Center 0851 0004 2009

www.sinergifoundation.org []

 

Penulis : Sepriyanto Ketua Yayasan Sinergi Foundation

Editor : Maharevin

didietoJanuary 3, 2017

Uncategorized

Kisah Member RBC, Menyulam Syukur di Jalan Ketabahan

 

Namun Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, di tengah ujian itu selalu ada ceruk jalan keluarnya, bak setangkup air segar di cawan yang usang. Momen itulah yang mempertemukan Nur Salam dengan RBC. Ia direkomendasikan tetangganya untuk melahirkan di program sosial milik Lembaga Sinergi Foundation tersebut.

SF-UPDATE,– Tak ada yang mendamba saat berumah tangga mesti membesarkan buah hati seorang diri. Menjadi single parent tentu bukan keinginan. Namun apalah daya ketika tantangan kehidupan mengharuskan kita untuk menjadi ibu sekaligus pencari nafkah.

Bertolak ke Bandung pada tahun 2010 bersama suaminya, untuk memenuhi biaya sehari-hari, perempuan ini ‘melamar’ menjadi pengrajin. Hey, pembaca, jangan dibayangkan sebuah pekerjaan yang besar dan menghasilkan jutaan rupiah. Di bilangan Kopo, ia bekerja di sebuah usaha kecil yang memproduksi keset. Sebabnya tiada lagi keahlian yang ia punya.

Kehidupan inilah yang mesti dijalani salah seorang member dari Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC), Nur Salam dalam menghidupi keenam buah hatinya. Di momentum Oktober yang gemericik, Tim Newsroom SF berkesempatan berbincang hangat dengan perempuan asal Sulawesi Selatan itu.

“Saya ini anggota RBC, pernah melahirkan di sini dua kali, karena tidak memiliki uang,” ucap Nur Salam mengawali obrolan.

Hal itu terjadi bukan tanpa sebab, kehidupan sederhananya sedang diuji. Suaminya yang entah ke mana silap pada dunia. Masih terus mengejar bonus puluhan juta rupiah yang dijanjikan hanya dari sebuah pesan singkat.

Padahal Nur Salam selalu mengingatkan suaminya bahwa itu hanyalah penipuan.  Tak sampai pikir, hal tersebut membuat suaminya melupakan tanggung jawabnya sebagai penopang keluarga.

Alih-alih mendapatkan apa yang diinginkan, hartanya terus tergerus. Penghasilan tak seberapa itu pun kian terkikis. Akibatnya, kehidupan gali lubang tutup lubang terpaksa ia jalani, demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Awal-awalnya suaminya juga bekerja sebagai guru privat mata pelajaran Bahasa Arab dan agama. Namun ke sini-sini, Nur Salam pun tak tahu pekerjaan apa yang dilakukan suaminya itu. Hingga kekinian pun, tak dikenal rimbanya. Di tengah tanpa kabar itu, memang suaminya suka pulang, lalu pergi lagi. Namun, Nur Salam dengan sabar menerima kondisi tersebut.

Melihat kondisi ini, tak bisalah ia menopang dagu seorang diri di rumah. Kebutuhan anak-anaknya mesti ia penuhi. Setelah bekerja di pengrajin keset di bilangan Cigondewah, ia pun mendapatkan pekerjaan serupa di tempat yang lain. Selama setahun itu, ia bekerja di dua tempat. Enam bulan di tempat pertama, sisanya di tempat yang kedua.

Dari hasil menganyam kesetnya itu, Nur Salam mendapatkan uang sebesar 5.000 per hari. Uang ini hanya cukup untuk makan sehari-hari. Berbeda di tempat yang keduanya, ia yang mulai disibukan dengan urusan rumah tangga, mulai mengurangi produktivitasnya menghasilkan kerajinan keset. Otomatis berkurang pula pundi rupiah yang masuk ke sakunya.

Apalagi di tengah kondisi yang sulit itu, Nur Salam mengandung anaknya yang kelima. Pikirannya melarung begitu luas, ke manakah ia harus melahirkan buah hatinya ini. Bulan demi bulan berganti, melipat serupa penantian yang menyublim menjadi rasa takut.

Namun Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, di tengah ujian itu selalu ada ceruk jalan keluarnya, bak setangkup air segar di cawan yang usang. Momen itulah yang mempertemukan Nur Salam dengan RBC. Ia direkomendasikan tetangganya untuk melahirkan di program sosial milik Lembaga Sinergi Foundation tersebut.

“Tak usah hirau dengan biaya, karena RBC gratis untuk kaum yang papa,” kata Nur Salam sambil mengungkapkan kembali perkataan tetangganya itu.

Setelah melalui serangkaian proses kelengkapan surat tak mampu dan peninjauan lokasi, Nur Salam pun akhirnya resmi menjadi member RBC. Sedikit berkuranglah beban di pundaknya. Tak lama kemudian, lahirlah anaknya yang kelima dengan selamat.

Silaturahim dengan RBC pun bukan sebatas itu. Nur Salam kepincut pada program pemberdayaan kaum papa dengan pelatihan menjahit. Namun jarak yang cukup jauh membuat ia sedikit kepayahan mengikuti ritme waktu pelatihan. Ia harus menyisihkan 10 ribu untuk ongkos. Baginya, uang sebesar itu adalah nafas kehidupannya. Sangat berat bila harus terpakai oleh biaya perjalanan ke RBC.

Akhirnya ia membuka obrolan dengan pihak RBC, dan pada saat itu, Nur Salam direkomendasikan ke sebuah lembaga tahfiz yang dekat di area sebagai solusi agar ia bisa ikut pelatihan menjahit.

Alhamdulillah, dari lembaga sangat terbuka menerima saya dan anak-anak. Kami diberi tempat tinggal dan makan,” lanjutnya.

Sebagai ‘gantinya’, Nur Salam diminta untuk sedikit menyisihkan tenaganya membantu kebersihan di lembaga tahfiz tersebut. Sekadar mencuci dan merapikan barang-barang di sana. Girang bukan main, Nur Salam mendapatkan tawaran tersebut. 

Nur Salam mengaku seperti mendapatkan angin segar. Di tengah kegirangan itu, suaminya kembali muncul dan mencarinya. Nur Salam pun meminta izin kepada pengurus lembaga tahfiz agar suaminya bisa menetap. Dengan alasan agar bisa membantu dalam pengajaran sekolah, khususnya mengajar Bahasa Arab.

Waktu terus berlipat menjadi masa lalu. Hari-hari Nur Salam mulai berubah. Apalagi dengan kehadiran suami di sisinya. Namun entah apa yang ada di benak suaminya itu, meski dengan bantuan yang demikian, tak sampai pikir, ia masih keluyuran tidak jelas. Di saat keluyuran itulah, Nur Salam kembali dikaruniai anak keenam di tahun 2014.

“Saat pergi ke RBC, dari merekanya mensyaratkan bisa melahirkan di sini asal didampingi suami,” kisah Nur Salam mengenang.

Saat ia menelepon suaminya dengan alasan demikian akhirnya suara di seberang sana mengangguk untuk menyanggupi. Namun, pembaca, tak berselang berapa lama suaminya tak kembali ke rumah melainkan menghilang lagi tak terlihat batang hidungnya. Astaghfirullah..

“Saya mau minta cerai sebenarnya, tidak ingin digantungkan seperti ini. tapi saya kasihan ke anak-anak. Jadi sebetulnya saya ini dilema,” jawab Nur Salam saat ditanya hubungannya dengan suaminya saat ini.

Di lembaga tahfiz itu sendiri Nur Salam pun diberikan penghasilan. Waktu awal-awal ketika tugasnya masih banyak, dalam sebulan ia diberi 300 ribu selama setahun rutin. Namun, ketika ia sudah disibukkan dengan tugas mengurus anaknya, tugas di lembaga pun sedikit berkurang, otomatis penghasilan pun tidak seperti sebelumnya. Kendati demikian ia masih tetap bersyukur bisa tinggal di sana. []

 

Penulis : Senandika Maharevin

didietoJanuary 3, 2017

Uncategorized

Perjuangan Gugur Berkali-kali, dan Buah Hati yang Dinanti 15 Tahun

SF-UPDATE,– Sewaktu tahu dia tengah hamil, Rita senang bukan main. Ia dan suami terlonjak gembira, pun bercampur takjub. Di usia yang telah berkepala empat, Rita akhirnya diberi kesempatan mengandung anak kedua. Bayangkan, setelah 13 tahun penantian! 

Padahal konon katanya, usianya itu termasuk berisiko tinggi kematian. Entah bagi ibu, maupun pada bayi. Yah, bagaimanapun, fisik di umur tersebut sudah tak sebugar dulu. Sesuatu seperti itulah, yang tak Rita pahami. Tapi, ia dan suami berkeras ingin menimang buah hati. Salahkah mereka mendamba anugerah itu dari Allah?

Jadi, pada saat tes kehamilan itu positif, Rita sangat gembira. Bahkan menangis karena terharu. Pun dengan suami, Asep, yang memang sudah lama mendamba kehadiran darah dagingnya itu. Satu anak saja belum cukup, kata dia. Sempurna sudah keluarga kecil itu bagi Asep, jika si kecil hadir.

Begitu juga putra pertama mereka yang telah menginjak usia remaja. Ia antusias menyambut sang adik. Ikut berbahagia saat kedua orang tua menyampaikan kabar gembira ini.

Tapi, bukankah kebahagiaan itu melenakan? Sebab sering, manusia jadi tak siap menghadapi duka. Itu pula yang dirasakan Rita. Berawal saat ia tak merasakan pergerakan janin di perut. Padahal, saat itu kehamilannya sudah beberapa minggu.

Menjelang usia kandungan yang ke-9 minggu, tiba-tiba mengalir darah dari rahimnya. Rita terkejut. Saat diperiksa, bidan mengatakan bahwa kandungan itu  kosong, alias tak berkembang. Ia keguguran. Rita hanya menatap nanar, sebelum akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Sang suami pun tak bisa menyembunyikan wajah yang muram.

“Jika hamil dI atas usia 35 tahunan, risikonya memang akan seperti ini. Janin tak bisa berkembang,” kata bidan waktu itu.

Sang bidan kembali menuturkan, bisa jadi sebabnya adalah hidup yang tidak sehat. Bayi tak mendapatkan gizi cukup, karena ia tidak makan dengan baik. Akibatnya, janin dalam kandungan itu tak tumbuh. Rentetan nasihat, agar ia lebih merencanakan kehamilan keluar dari bibir bidan tersebut.

Hhhh… Helaan nafas panjang itu semakin melelahkan hari Rita. Sesungguhnya, bukan ia tega memberikan calon buah hati itu asupan tak bergizi. Tapi, bagaimana bisa, sementara ia sendiri hidup berkekurangan? Sekadar memberi beras saja masih harus berhemat untuk tiga kepala.

Asep hanyalah buruh harian. Tak perlulah ditanya, penghasilannya minim. Kadang, Asep beralih profesi menjadi tukang ojek. Tapi tetap saja, penghasilan itu tak akan lantas melebihkan kehidupan mereka. Nasi dengan ikan asin, biasa disantap berdesakan di rumah yang bahkan tak mencapai 7×7 meter itu.

Rita termangu. Dosakah jika ia bersikeras ingin memiliki anak lagi? Mata itu telah sembab, namun binar di dalamnya menguarkan tekad. Bukankah Rasulullah sendiri yang menganjurkan umat untuk memiliki banyak anak? Bahkan mendoakan keberkahan atas hal tersebut. Hati Rita membulat. Ia tak akan berhenti meminta pada-Nya.

Doa yang terus dipanjatkan itu akhirnya dijawab. Satu tahun berlalu, Rita kembali berbadan dua. Ini melambungkan harapan keluarga kecil mereka. Kali ini, setidaknya ia ingin lebih berhati-hati. Mencoba mengonsumsi makanan-makanan kaya gizi sebatas kemampuan yang bisa ia capai.

Namun, Allah kembali mengujinya. Ia mengalami pendarahan di trimester pertama kehamilan. Bidan yang menanganinya lagi-lagi berkata janin yang Rita kandung kosong. Ia kemudian meminum obat-obatan herbal agar janin tersebut keluar. Rita menolak melakukan kuret, karena meyakini tindakan medis itu akan memperlambatnya hamil lagi. Selain, dikuret kan perlu biaya besar…

Akan tetapi, jauh di lubuk hati, Rita telah trauma. Antara ingin memiliki anak, tapi khawatir pengalaman telah lalu terulang. Pun dengan sang suami, juga putranya, yang bahkan ikut menahan tangis. Asa yang sudah dibumbung, terhempas begitu saja.

“Saya masih ingin memiliki anak, tapi mungkin kita tak usah lagi terlalu mendamba seperti kemarin-kemarin. Biar serahkan pada Allah saja,” ujar sang suami.

Maka, kehidupan mereka kembali berlanjut. Masih di rumah itu, tempat Rita menjadi ibu rumah tangga. Juga Asep, yang di kala masa kosongnya sebagai buruh harian, menyempatkan diri ngojek. Kesedihan di masa lalu tak boleh menyurutkan semangat memperbaiki hidup, bukan?

Hari demi hari terus dilalui. Suatu saat, Rita mendapati dirinya tak kunjung haid. Ia mendesah. Pastilah ia telah mengalami menopause. Apa boleh buat, usianya sudah kian menua.

Setelah beberapa lama, ia menyadari ada perubahan yang terjadi pada perutnya. Semakin membesar. Setelah memeriksa dengan test pack, barulah Rita tahu bahwa kini ia tengah mengandung 4 bulan. Alhamdulillah.. Kendati demikian, sang suami menyuruhnya meredam perasaan gembira. Lagi-lagi, takut kecewa.

Namun, tentu tak berarti sepasang suami istri itu tak mempersiapkan, meski Rita tak jua buru-buru memeriksakan diri. Hanya sesekali, memastikan kondisinya sehat. Rita sendiri sudah mulai resah. Kondisi perekonomian mereka begitu lemah, ia tak yakin apa mereka bisa membayar persalinan atau tidak.

Sang suami, telah lama meninggalkan pekerjaan buruh. Mereka benar-benar tergantung pada pencaharian Asep dari ngojek. Biaya persalinan yang tak murah akan semakin menghimpit keuangan mereka.

Qadarullah, seorang kerabat meminta Rita untuk mendaftar menjadi member Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) saja. Jika masuk kategori dhuafa, biaya konsultasi, pemeriksaan, hingga persalinan bisa diatasi. Setelah menjalani beberapa prosedur, Rita pun bisa meringankan perekonomian keluarga dan bersalin di RBC. Alhamdulillah..

Singkat kisah, dua minggu sebelum prediksi kelahiran, Rita melahirkan seorang anak perempuan. Sulit baginya. Dengan usia yang mulai menua, ia susah mengatur nafas, bahkan sesak saat mengejan. Tapi, perjuangan itu ia menangkan.

Haru membuncah, tangis bahagia mengalir di kedua pipi. Putri yang ditunggu-tunggu, dinanti hingga 15 tahun lamanya.. Keluarga kecil itu akhirnya tergenapi. Mereka tak henti mengucap tahmid.

“Allah bukan tak menjawab doa-doa kami, hanya mengabulkannya di waktu yang tepat, setelah kami lulus ujian kesabaran,” pungkas Rita. []

 

Penulis : Aghniya Ilma Hasan

didietoJanuary 3, 2017

Berita

Sambut 2017, Sinergi Foundation Rilis Infografis Penyaluran 2016

SF-UPDATE,– Lembaga pengelola Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf (ZISWAF) Sinergi Foundation (SF) siap menyongsong 2017. Sembari menutup lembaran tahun 2016, SF mempersembahkan infografis program penyaluran, dan laporan terkait agenda umat, yang merupakan amanah segenap insan peduli. Membincang jejak langkah dalam membangun umat, SF hanyalah satu episode di antara drama kehidupan orang pinggiran di negeri ini. CEO…

Baca selengkapnya

didietoDecember 30, 2016

Uncategorized

Menutup 2016

Oleh: Ima Rachmalia (CEO Sinergi Foundation)

SF-UPDATE,– Mendung masih menggelayut di langit Bandung selama berhari-hari. Saat – saat yang juga cukup menantang bagi Sinergi Foundation (SF), untuk menutup 2016 dengan senyum sederhana, namun penuh makna. Senyum akar rumput dalam doa tulusnya, yang berharap kondisi kian membaik, dan langkah-langkah kehidupan dapat berlanjut, untuk sebuah pencapaian yang kelak berujung kebahagiaan. Hal yang asasi. Dan siapa pula yang tak ingin serupa itu?

Sebagai salah satu elemen masyarakat yang bergerak di bawah bersama masyarakat, SF hanya satu episode di antara drama kehidupan orang pinggiran di negeri ini. SF coba menyelami persoalan, lalu coba berpikir dan beraksi, menjadi bagian dari solusi.

Di awal 2016, di rubrik yang sama, Ketua Yayasan Semai Sinergi Ummat (Sinergi Foundation) H. Sepriyanto menulis sembari meminta doa dan dukungan dari donatur sekalian, untuk berikhtiar menuntaskan beberapa agenda umat, antara lain: Pembukaan kantor layanan SF di Jakarta, pemandirian Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) dan inisiasi RSIA WAkaf (Klinik Wakaf Ibu dan Anak), Pemantapan manajemen layanan Firdaus Memorial Park, Pembukaan Warung Nasi “AMPERA” berbasis wakaf produktif pertama, serta penguatan program Lumbung Desa sebagai upaya SF mengembalikan desa pada Khittahnya.

Kini di pengujung 2016, capaiannya cukup menggembirakan. Kantor layanan di Jakarta yang berlokasi di Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 12, Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, resmi beroperasi di awal tahun 2016.

Sosialisasi  Klinik Wakaf Ibu dan Anak (RSIA Wakaf), terus berlangsung mulai trimester pertama 2016, hingga saat tulisan ini dirilis. Klinik berbasis Wakaf produktif ini sedianya akan menjadi salah satu penopang keberlangsungan RBC, yang memakan biaya operasional lebih dari Rp 2 Milyar per tahun. RBC sendiri di usianya yang menjejak tahun ke-12, menjadi saksi hampir 7 ribu kelahiran bayi dari keluarga kalangan lemah di negeri ini.  

Masih di ranah Wakaf, Rumah Makan “Ampera” berbasis wakaf produktif pertama di Indonesia, resmi diluncurkan pada Jumat 11 Maret 2016. “Alhamdulillah, malam ini menjadi tonggak penting bagi Ampera untuk berkolaborasi, memulai sebuah dedikasi untuk kemanusiaan. Dengan pengelolaan berbasis wakaf produktif, semoga proses dan hasilnya pun bisa lebih berkah. Amiin, ” ungkap H. Sigit Yunanto, yang karib disapa Aa Sigit, pemilik Warung Nasi “Ampera”, dalam sambutannya ketika itu.

Firdaus Memorial Park (FMP) pun terus berusaha meningkatkan kinerja pelayanannya untuk umat. Termasuk kinerja tim layanan pengurusan jenazah yang siap siaga 24 jam, kapanpun masyarakat membutuhkan.

Sebagai upaya sosialisasi sekaligus perluasan jejaring pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, SF menggelar Seminar dan WorkShop Lumbung Desa (LD) yang digelar 28-30 Agustus 2016 di Graha Pos, Jl. Banda, Bandung. Hadir dalam gelaran yang diikuti 40-an peserta dari berbagai Desa lintas provinsi di Indonesia tersebut sebagai pembicara kunci, Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDT), Prof. Ahmad Erani Yustika.

Dalam kesempatan itu, Ekonom cum mantan Direktur Eksekutif INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) ini menyampaikan apresiasinya untuk program Lumbung Desa. Ia mengaku bahagia, bahwa dalam beberapa periode terakhir, inisiatif untuk membangun desa dari berbagai elemen bangsa, sudah mulai tumbuh di berbagai sudut negeri, salah satunya program Lumbung Desa, yang diinisiasi SF. Ia berharap, inisiatif ini terus tumbuh dan menginspirasi inisiatif-inisiatif serupa di wilayah lain di Indonesia.

Ujung 2016, bukan ujung segalanya. Mohon jangan bosan mendoakan, menutup 2016, SF tengah menyiapkan Rencana Strategis 2017-2022. Selain sebagai panduan langkah lembaga, Renstra kali ini menjadi cermin optimisme SF menatap masa depan, yang semoga lebih baik dan selaras dengan harapan umat ke depan. Wallahu a’lam. []

didietoDecember 30, 2016

1 113 114 115 116 117 147
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!