Wakaf Produktif, Solusi Permasalahan Umat

Berita

Home » Berita » Wakaf Produktif, Solusi Permasalahan Umat

Pakar sejarah Islam, Ustadz Asep Sobari sempat diwawancara Tabloid Alhikmah seputar wakaf dan bagaimana memproduktifkannya. Berikut cuplikannya:

Apa Wakaf Bisa Dipakai Sesuai Kebutuhan Masyarakat?

Ketika zakat sudah mulai memenuhi kebutuhan dasar, wakaf berpotensi semakin berkembang. Kita lihat Utsman bin Affan ketika zaman Rasulullah itu sangat spesifik ketika wakaf.

Rasulullah sendiri yang menentukan peruntukannya, itu untuk memenuhi kebutuhan air minum satu kota Madinah. Ada tidak sekarang wakaf air gratis untuk warga misal satu  kota Bandung atau Jakarta?

Tidak ada! Itu yang sekarang menjadi problem kita. Padahal, masalah air bersih itu menjadi masalah penting. Kita malah harus beli air minum. Padahal, seharusnya negara bertanggung jawab.

Inilah wakaf. Dia harus menyelesaikan permasalahan secara spesifik. Peruntukkan wakaf tidak hanya sebatas untuk beasiswa misalnya. Wakaf harus bisa menyelesaikan masalah strategis umat.

Bisa contohkan masalah strategis umat sekarang seperti apa?

Ketika kondisi umat semakin membaik, muzaki semakin banyak, otomatis kebutuhan dasar masyarakat yang miskin akan ditutup dengan zakat. Misalkan kita katakan zakat semakin besar.

Maka peran wakaf semakin naik. Wakaf tidak akan berhenti, justru dengan banyaknya orang yang zakat, wakaf potensinya semakin besar, semakin naik. Wakaf bisa digunakan untuk memodali perkembangan umat, pertumbuhan umat.

Umat untuk tumbuh lebih besar itu bukan hanya butuh makan, harus ada biaya penelitian dan lainnya. Nah itu bisa dari wakaf. Bisa kita bayangkan misalnya kalau LIPI itu dari wakaf.

Wakaf harus hadir pada isu-isu strategis. Misalnya, kita giatkan wakaf untuk penelitian energi alternatif di Indonesia yang kabarnya sekian puluh tahun lagi, fosil yang menghasilkan akan habis. Itu dengan wakaf.

Maka wakaf semakin naik. Irisan dengan zakat semakin tipis. Jadi, wakaf berperan lebih kepada bagaimana menunjang umat, dan itu efeknya negara justru yang diuntungkan.

Ketika wakaf ini kemudian berhasil, negara akan mencapai puncak kejayaan dan  seperti itulah yang tercatat dalam sejarah Islam.

Jika wakaf semakin berkembang, sampai sejauh mana sesuatu bisa menjadi wakaf?

Wakaf tidak berhenti berkembang bahkan dalam kondisi negara ketika sedang perang. Wakaf justru menunjukan sisi elegannya. Katakanlah hal-hal yang sudah tidak lagi primer justru diatasi dengan wakaf.

Sebagai contoh, ketika era Nuruddin Zanki saat terjadi Perang Salib. Banyak sekali ibnu sabil atau musafir. Saat itu, anggaran negara tersedot untuk perang. Tentunya perang terjadi di daerah-daerah terluar di daerah perbatasan.

Lalu bagaimana dengan dengan kondisi di dalam negara? Rupanya di beberapa wilayah, kondisinya nyaman, aman dan damai,  padahal di perbatasan sedang perang.

Nah, rupanya saat itu semua fasilitas publik luar biasa. Artinya luar biasa orang mudah di dalam. Untuk para musafir, mereka bisa bepergian dengan aman dan damai,  kalau zaman sekarang, kebutuhan mereka dipenuhi bukan hanya sekedar tiket, ketika itu sudah membuat semacam penginapan atau hotel untuk musafir yang berasal dari wakaf.

Para musafir saat itu tidak perlu lagi berfikir untuk menginap dimana, karena sudah ada. Ini elegan sekali.  Karenanya, pada kasus-kasus spesifik, bisa diselesaikan dengan wakaf. Kalau ada ungkapan zakat sebagai pilar kebangkitan umat, saya kurang setuju. Seharusnya wakaf, sebab zakat itu untuk memenuhi kebutuhan dasar. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!