Di Gang Sempit Sang Ulama Pejuang

Berita

Home » Berita » Di Gang Sempit Sang Ulama Pejuang

Di sebuah gang kumuh di pusat kota Bandung, Buya Rusyad Nurdin tinggal. Ulama pejuang ini tetap tinggal di gang sempit bersama umat. Dakwah beliau melintasi zaman dan waktu.

Saya mengenalnya saat saya remaja dalam acara Studi Islam Intensif di Masjid Salman ITB. Buya Rusyad mendapat “jatah” kajian yang sulit digantikan: tauhid, akhlaq dan tarikh. Tiga tema itu selalu mewarnai tausiyah-tausiyah beliau.

Suatu sore saya berkunjung untuk menjenguk beliau karena kami mendengar Buya Rusyad mengalami sakit cukup berat: radang sendi yang hebat serta menyerang lutut. Saya datang bersama Dr. H. Suparno Satira, Ketua Badan Pelaksana Masjid Salman ITB waktu itu. Kami datang menyerahkan titipan dari Prof. Zuhal untuk Buya Rusyad.

Obrolan pun beralih pada sakit yang sedang beliau alami. Buya Rusyad bercerita betapa sakitnya jika radang sendi beliau sedang kumat. Semua itu diceritakan dengan senyum dan wajah yang ramah. Saya jadi teringat dalam kesempatan akhir, saya melihat Buya Rusyad harus dipapah jika menuju ke ruangan kelas untuk berceramah. Di dalam kelas, beliau pun hanya duduk saja. Rupanya radang sendi telah membuat beliau tak kuat berlama-lama berdiri.

Ingatan saya juga melambung ke belasan tahun lalu di mana Buya Rusyad adalah salah satu nuansa warna yang indah yang pernah saya kenal.

Di sebuah masjid di Yogyakarta beliau hadir menjadi pembicara tabligh akbar untuk mendukung Palestina dengan kebijaksanaannya. Beliau mampu mendinginkan emosi kami ketika aparat Kodim melarang acara itu satu hari menjelang pelaksanaannya.

“Kita perhitungkan dengan seksama akibat-akibatnya jika kita memaksakan acara besok,” kata Buya Rusyad yang baru saja tiba dari Bandung dengan menggunakan Toyota Hardtroop kesayangannya.

“Bagaimana kalau kita sholat istikharah, Ustadz?” tanya salah seorang dari kami. Dengan kebijaksanaan, pengalaman, ilmu dan wawasannya yang luas, Buya Rusyad berkata,”Istikharah itu jika kita sudah terdesak, tak mampu menjawab persoalan yang menghadirkan dua pilihan yang sangat sulit dipilih. Jika persoalan itu masih dapat kita kaji dengan seksama, kita putuskan dengan pertimbangan yang matang,” kata beliau.

Kami pun akhirnya sepakat untuk merubah format tabligh akbar manjadi tabligh di masjid alun-alun utara Jogja dengan dua pembicara, Buya Rusyad Nurdin dan Ir. H. Basith Wahid.

Kembali ke sakit yang beliau alami, saya bertanya,”Buya, apa tidak mencari pengobatan alternatif?”

“Saya tidak bisa langsung mencari alternatif. Saya ini guru, saya harus faham proses pengobatan yang akan saya jalani. Jika tidak, bagaimana saya akan menjelaskannya pada umat. Saya memilih ke dokter saja. Diobati secara ilmu kedokteran yang dapat menjelaskan kepada saya bagaimana proses sakit ini dan bagaimana langkah penyembuhan yang bisa dilakukan,” tutur Buya Rusyad dengan penuh kelembutan.

Hingga akhirnya saya dan Mas Suparno pamit, saya tak dapat menghilangkan kesan luar biasa bersahaja dan rendah hatinya Buya Rusyad. Ulama dan pejuang yang sudah menjadi ketua DPRD Jawa Barat pertama dalam usia 20-an tahun. Namun apakah namanya tercatat dalam sejarah DPRD Jawa Barat, nampaknya tak dirisaukan benar oleh beliau.

Sahabat, betapa besar kehilangan kita pada teladan kesederhanaan dan kebersahajaan dari ulama seperti almarhum Buya Rusyad Nurdin.

“Supaya Allah  meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (dari kalangan kamu) beberapa darjat”. (QS Al-Mujaadalah:11)

Disampaikan oleh Ustadz Budi Prayitno

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!
Powered by