mauquf alaih, wakaf, wakaf produktif, penerima manfaat, wakaf uang, wakaf, wakaf produktif, sinergi foundation, umat Islam, masalah sosial, wakaf uang, wakaf tunai, wakaf, wakaf produktif, wakaf, sahabat, raumah, abu thalhah, umar bin khattab, wakaf, masalah mendesak, umat, zakat

Dahsyatnya Gerakan Wakaf Para Sahabat

Sahabat, bisa dibilang para sahabat Nabi selalu berlomba-lomba untuk mewakafkan apa yang mereka punya.

Bahkan, kata sahabat senior Jabir bin Abdillah, “Tidak ada seorangpun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kemampuan, kecuali mereka berwakaf.” (Ahkam al-Auqaf, Abu Bakr al-Khasshaf, no. 15 dan disebutkan dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/29).

Tak ada yang bisa menandingi kesungguhan para sahabat ketika berwakaf. Kita tahu, sahabat Abu Thalhah yang sangat mencintai kebun-kebunnya. Ketika firman Allah sampai di telinganya, Abu Thalhah berpikir mendalam.

Ayat,”“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran: 92) membuatnya bergetar. Cepat-cepat ia datangi sang Nabi menyampaikan isi hatinya, bahwa ia sangat mencintai kebunnya.

“Ya Rasulullah, Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai’. Sementara harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Ini saya sedekahkan untuk Allah. Saya berharap dapat pahala dan menjadi simpananku di sisi Allah. Silahkan manfaatkan untuk kemaslahatan umat.,” kata Abu Thalhah.

Sang Nabi langsung memuji Abu Thalhah. “Luar biasa, itu kekayaan yang untungnya besar… Itu harta yang untungnya besar. Saya telah mendengar apa yang anda harapkan. Dan saya menyarankan agar manfaatnya diberikan kepada kerabat dekat,” kata Rasulullah.

Ada pula kisah yang disebut sebagian ulama sebagai wakaf pertama. Ibnu Umar menceritakan, bahwa ayahnya Umar bin Khatab, mendapatkan jatah bagian kebun di Khaibar. Beliaupun melaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, saya mendapatkan kebun di Khaibar. Saya tidak memiliki harta yang lebih berharga dari pada itu. Apa yang anda perintahkan untukku?”
Saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “jika mau, kamu bisa wakafkan, abadikan kebun itu, dan hasilnya kamu sedekahkan.”

Kemudian Umar mewakafkannya. Kebun itu tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Hasilnya disedekahkan untuk fakir miskin, kerabat, budak, para tamu, dan Ibnu Sabil. Dan boleh bagi yang mengurusi untuk mengambil sebagian dari hasilnya, sewajarnya, dan makan darinya, bukan untuk memperkaya diri dengannya. (HR. Bukhari 2737, Muslim 4311 dan yang lainnya).

Masya Allah, betapa hebat para sahabat berwakaf harta yang paling mereka cintai. Mari kita teladani!

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by