Wakaf Muslim Nusantara di Jazirah Arab dan “Crazy Rich” Habib Bugak

Artikel Wakaf

Indonesia lahir dari kerajaan – kerajaan besar di Nusantara pada masa lampau. Diantara kerajaan tersebut, terdapat kerajaan – kerajaan Islam yang tersebar di beberapa wilayah, dari Aceh, Banten, Mataram, Ternate, Tidore, hingga Bugis.

Menurut beberapa sumber, seperti di buku “Indonesia dan Haji” serta di buku “Naik Haji di Masa Silam” yang ditulis oleh beberapa peneliti dan sejarawan, di masa kerajaan Nusantara, sudah ada rakyat Nusantara yang melakukan kegiatan haji ke Jazirah Arab.

Hal ini terlihat dari historiografi Ibu dari Sunan Gunung Jati, Nyai Rara Santang yang merupakan Putri dari Prabu Siliwangi (Raja Pertama Kerajaan Pajajaran), diketahui sudah melakukan haji di tahun 1400an.

Untuk memfasilitasi jemaah haji asal Nusantara ini, dibangunlah tempat penginapan agar rakyat dari kesultanan-kesultanan Islam tersebut bisa tinggal di Mekah dengan nyaman saat berhaji.

Menariknya, tempat penginapan ini dibangun dari wakaf. Di buku yang ditulis oleh Henry Chambert Loir, tertulis Sultan dari Kerajaan Banjarmasin di tahun 1700an mendirikan sebuah Rumah Wakaf di Mekah.

Selain itu, Sultan dari Palembang, juga turut mendanai pembangunan sebuah Zawiyah Samaniyah (tempat dakwah dan perkembangan tarekhat) di Jeddah. Ia menyebut, para ulama Nusantara, seperti KH. Ahmad Dahlan yang melakukan haji turut tinggal di rumah-rumah wakaf ini.

Di tahun 1807, Sultan Brunei turut mengutus ulama terpenting di Istananya untuk membeli sebuah rumah dan diwakafkan untuk para mukim dan pelajar Melayu.

Sementara Dari Kerajaan Penyengat (Riau), sultannya membeli sebuah kebun di Madinah untuk diproduktifkan. Ia juga membeli 2 rumah di Makkah dengan menunjuk nadzhir (pengelola wakafnya) dari mufti mazhab syafi’i. Selain itu, masih banyak lagi bangunan-bangunan wakaf dari sultan-sultan asal Kerajaan Islam Nusantara pada masa lampau yang berdiri di tanah Jazirah.

Belakangan, kabar tentang Jemaah Haji asal Aceh yang menerima dana wakaf dari Baitul Asyi sebesar Rp 4,5 Juta di Mekah juga berkembang. Dana wakaf yang diberikan kepada masyarakat Aceh yang pergi haji setiap tahunnya ini adalah bentuk pelaksanaan wasiat dari tokoh Aceh, Habib Abdurrahman bin Alwi atau biasa disebut Habib Bugak yang berikrar mewakafkan hartanya pada tahun 1809 M silam.

Saat itu Habib Bugak bersama dengan para saudagar Aceh membeli sebidang tanah di kawasan antara bukit Marwa dan Masjidil Haram. Wakaf dari Habib Bugak di Makah bisa menampung sampai 7000 jamaah haji asal Aceh.

Habib Bugak sendiri diketahui merupakan salah satu pejabat di Aceh yang memiliki ribuan hektar kebun. Ia disebut-sebut memiliki penghasilan 200-300 Kg Emas selama satu tahun.

Pada tahun 1206 H, seperti yang tercatat dalam ikrar wakafnya, Habib Bugak mewakafkan beberapa aset di Mekah yang meliputi ruang bangunan atas dan bawah, berbagai sarana kantor, baik air serta seluruh sarana pendukungnya yang disewakan lalu hasilnya diberikan untuk jamaah haji asal Aceh.

(Sumber Foto : dream.co.id)

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Informasi!

Semua dana donasi terhimpun di Sinergi Foundation murni disalurkan untuk kepentingan sosial, dan BUKAN untuk tujuan pencucian uang, terorisme, maupun tindak kejahatan lainnya.

×
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!