Seperti Apa Praktek Zakat di Zaman Rasulullah?

Berita

Home » Berita » Seperti Apa Praktek Zakat di Zaman Rasulullah?

Sang Nabi sangat mencintai kaum papa, orang-orang miskin. Berkali-kali beliau menyelipkan doa bagi para fakir miskin. Dalam banyak kesempatan, beliau bersabda agar meringankan kaum muslimin yang kesulitan.

Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat,” kata Rasulullah.

Saat Madinah mulai stabil, sang Nabi menunjukkan kepeduliannya dengan memungut zakat dari orang-orang yang wajib membayar zakat. Memasuki bulan Muharram tahun kesebelas Hijrah, Nabi mengutus amil zakat dan sedekah ke negara-negara yang berada di bawah kekuasaan Islam.

Muhajir ibn Abi Umayah dikirim ke Shan’a, Ziyad ibn Labid al-Bayadhi ke Hadramaut, Adi ibn Hatim ke Thayyi’ dan Bani Asad, Malik ibn Nuwairah al-Yarbu’i ke Bani Hanzhalah, mengalokasikan zakat dan sedekah Bani Sa’d kepada dua orang dari mereka.

Khalid ibn Sa’id ibn al-Ash, Arqam ibn Abi al-Arqam, dan Hudzaifah ibn al-Yaman diutus beliau untuk menghimpun zakat dan sedekah atas kaum Hudzaifah sendiri, Bani al-Uzd; Kahl ibn Malik al-Hadzali juga atas kaumnya sendiri, Bani Hudzail; Abu Jahm ibn Hudzaifah, Sahl ibn Munjab al-Tamimi atas kaum Sahl sendiri, Bani Tamim; Ikrimah ibn Abi Jahl atas kaum Hawazin; Malik dan Mutammam, putra Nuwairah , atas kaum mereka sendiri, Bani Tamim; Mirdas ibn Malik al-Ghanawi juga atas kaumnya sendiri.

Ketika hendak diberangkatkan, para amil itu diberi nasihat terlebih dahulu oleh Nabi. Mereka diperintahkan untuk tidak mengambil harta pilihan. Menyalurkan seluruh zakat dan sedekah kepada kaum miskin, dan tidak diperkenankan amil mengambil sedikit pun dari harta tersebut kecuali ada kelebihan.

Dari ada beberapa riwayat tentang zakat pada zaman Rasulullah baik berupa sabda maupun shahifah (tulisan) yang diperintahkan kepada para amil dengan ketentuan-ketentuan tertentu.

Menurut anggota Dewan Hisbah Persatuan Islam (Persis) Ustaz Fatahillah, Lc. Alumnus LIPIA, zakat di masa Rasulullah dibagi menjadi dua yaitu zakat mal dan zakat fitri.

“Adapun zakatul mal banyak dalilnya, gambarannya terlihat saat Rasulullah mengutus salah seorang sahabat Mu’az bin Jabal  ke Yaman kemudian diperintahkan, ‘seru mereka untuk bersyahadat lalu tunjukkan bahwasanya mereka berkewajiban salat dan berkewajiban berzakat.’ Itu secara umum, adapun nanti secara khusus terdapat riwayat khusus yang membahas rincian dari zakat mal yang kemudian, sebenarnya ada dalam shahifa (tulisan) bukan riwayat langsung karena hanya tulisan yang bersumber dari Rasulullah yang kemudian  diberikan kepada  salah seorang sahabat untuk disebarkan,” kata Ustaz Fatahillah, Lc.

Dari sana, menurut beliau saat ini dikenal istilah nishab dan haul. “Dari situ kemudian kita kenal rincian perhitungan emas sekian keping, perak sekian keping, kemudian tumbuh-tumbuhan sekian wasaq, kalau kambing itu berapa ekor yang wajib, nah itu di shahifah sebenarnya,” tambahnya.

Dari beberapa ketentuan tersebut, para ulama bersepakat menjadikan shahifah tersebut sebagai rujukan utama. “Bisa kita lihat dari kitab-kitab hadis tentang zakat. Nah itu, kemudian jadi rujukan utama bagi para ulama dalam mengembangkan tata tertib ataupun  konsep tentang zakat dalam Islam,” kata Ustadz Fatahillah. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!