Pengertian, Jenis, dan Rukun dalam Berwakaf

Berita

Sepanjang sejarah peradaban Islam, wakaf telah menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan umat Islam. Hal tersebut nampak dalam beragam inovasi fasilitas publik yang dapat dinikmati siapa saja tanpa memandang latar belakang.

Misalnya saja pada masa Rasulullah, Umar bin Khattab mewakafkan tanahnya yang berada di Khaibar agar dikelola dan hasilnya dibagikan untuk kerabat dan kaum dhuafa.

Begitu pun Utsman bin Affan. Beliau mewakafkan sumur yang dibelinya dari seorang Yahudi untuk kepentingan umat. Bahkan pemilik sebelumnya pun diperbolehkan mengambil air dari sumur Utsman.

Beberapa masa setelahnya, inisiatif wakaf kian berkembang. Mulai dari kesehatan, pendidikan, pembangunan masjid, rumah sakit, perpustakaan, rumah singgah untuk musafir, pasar, dan lainnya.
Memang di masa kejayaan Islam, berbagai pihak seperti amir, dermawan, hingga sultan menaruh perhatian terhadap wakaf, karena tahu betul wakaf bisa memberikan kontribusi besar bagi kemaslahatan umat.

Meski wakaf memiliki peranan penting dalam menopang masyarakat, namun belum banyak yang tahu definisi, hukum, hingga syarat berwakaf. Maka kali ini, artikel ini akan mengupas tuntas terkait pengertian wakaf, jenis-jenis wakaf, syarat sah berwakaf, hingga tata cara melaksanakan wakaf.

1. Pengertian Wakaf

Wakaf berasal dari kata wa-qa-fa (وقف) yang berarti menahan, berhenti, atau diam. Maksud dari menahan adalah untuk tidak diperjualbelikan, dihadiahkan, atau diwariskan. Artinya, seseorang menyerahkan harta miliknya untuk ditahan pokoknya (benda aslinya), namun terus dialirkan manfaatnya dari waktu ke waktu.

Wakaf merupakan wujud taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada Rabbnya. Karena melaksanakan wakaf hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah untuk dimanfaatkan bagi kemashlahatan umat.

Sedangkan definisi wakaf menurut UU no. 41 tahun 2004 adalah suatu perbuatan hukum oleh pihak yang melakukan wakaf untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda atau aset miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu untuk keperluan ibadah atau kesejahteraan umum sesuai ketentuan agama Islam.

Dari definisi tersebut, wakaf juga termasuk ke dalam amal jariyah yang Rasulullah anjurkan untuk dimiliki oleh setiap umatnya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh.” (HR Muslim)

2. Jenis-jenis Wakaf

Pemanfaatan wakaf dapat diklasifikasikan berdasarkan pemanfaatannya, yaitu;

1. Berdasarkan peruntukannya, manfaat dari wakaf dibagi menjadi 3 macam, yakni;
a. Wakaf yang ditujukan untuk sosial (khairi), yaitu wakaf yang ditujukan untuk kepentingan agama atau masyarakat (kebajikan umum).
b. Wakaf keluarga (dzurri), yaitu apabila tujuan wakaf untuk memberi manfaat kepada waqif, keluarganya dan keturunannya.
c. Wakaf gabungan (musytarak), yaitu apabila hasil pengelolaan wakafnya diperuntukkan bagi kemaslahatan umum dan keluarga secara bersamaan.

2. Sedangkan berdasarkan waktunya, ada dua macam wakaf, yaitu:
a. Muabbad, yaitu wakaf yang diberikan untuk selamanya.
b. Mu’aqqot, yaitu wakaf yang diberikan dalam jangka waktu tertentu.

3. Dan berdasarkan penggunaan obyeknya, wakaf dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Ubasyir atau dzati adalah obyek wakaf yang bermanfaat bagi pelayanan masyarakat dan bisa digunakan secara langsung, contohnya pondok pesantren, madrasah, dan rumah sakit.
b. Mistitsmary adalah obyek wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam produksi barang-barang dan pelayanan yang dibolehkan syara’ dalam bentuk apapun, kemudian hasilnya diwakafkan sesuai keinginan pewakaf.

Dari penjelasan terkait jenis-jenis wakaf ini, jelaslah, meski pun sama-sama sedekah, namun wakaf amat berbeda. Sebab, harta benda yang telah diwakafkan tidak akan habis seperti sedekah pada umumnya. Harta yang telah diwakafkan akan terus dikelola sedemikian rupa sehingga dapat mengalirkan pahala tiada henti bagi orang yang berwakaf (wakif).

Untuk melaksanakan wakaf terdapat lima syarat dan rukun wakaf yang harus dipenuhi agar sedekah jariyah ini sah diamalkan diantaranya:
1. Wakif atau orang yang mewakafkan harta
2. Mauquf bih atau tersedia barang atau harta yang akan diwakafkan
3. Mauquf ‘Alaih atau pihak yang diberi wakaf dan peruntukan wakaf atas harta yang tersedia
4. Shighat atau pernyataan sebagai ikrar wakif untuk kehendak mewakafkan sebagian harta bendanya demi kepentingan orang banyak
5. Nazhir atau orang yang akan bertanggung jawab mengelola harta wakaf tersebut.

Rukun dan syarat tersebut harus dipenuhi wakif yang hendak berwakaf. Hal ini dimaksudkan untuk kehati-hatian guna menghindari perselisihan yang biasanya terjadi di kemudian hari. Tak hanya membawa saksi dan bukti hitam di atas putih, pun sebaiknya mengurus sertifikat wakaf sebagaimana diatur undang-undang negara.

Selanjutnya, orang yang mewakafkan hartanya atau pihak nazhir harus melaporkan harta wakaf ke dinas terkait. Terutama jika yang diwakafkan itu adalah tanah, kepada pihak Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk diakui negara sebagai tanah wakaf. Sehingga statusnya jelas dan dapat terhindar dari masalah sengketa kelak.

Sumber Image: Unspals.om
Source: dbs

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!