Umat Islam kerap dibingungkan dengan bagaimana bersikap kepada penganut agama lain, sebab makna toleransi kerap menjadi abu-abu. Tentu setiap orang yang beragama dan punya keyakinan pasti ingin sekali mempertahankan keyakinannya. Seseorang tidak ingin mengorbankan keyakinan itu, bahkan bagi orang yang mempunyai keyakinan lebih siap untuk mengorbankan apa saja yang ada pada dirinya termasuk nyawanya daripada dia harus mengorbankan keyakinannya.

Kondisi ini tentu menimbulkan dilema. Agama mengajarkan harus menghormati hak orang lain, bertoleransi kepada orang lain, dan tidak mengecewakan orang lain. Itu memang ajaran yang secara prinsip diajarkan oleh Islam kepada kita.

Dengan tidak bermaksud berlebihan, tidak ada ajaran apapun yang sesempurna Islam dalam mengajarkan untuk bertoleransi menghormati dan menghargai hak orang lain, termasuk menghargai pemeluk agama lain. Dan itulah sebenarnya makna toleransi.

Toleransi itu menghormati keberadaan orang lain yang keyakinannya berbeda. Dalam satu peristiwa, Rasulullah  pernah diajak mufakat dengan orang-orang musyrikin tentang bergantian menyembah Allah. Setahun ini, kaum Quraisy mengabdi pada Allah dan tahun berikutnya giliran Nabi mengabdi kepada Tuhan mereka.

Sikap ini sudah bukan toleransi lagi. Ini keyakinan yang ngawur karena dalam satu tahun harus mengabdi kepada yang tidak diyakini begitu juga sebaliknya. Lalu datang petunjuk Allah kepada Rasul-Nya yang dinyatakan dalam surat Al Kafirun ayat 1-6. Ayat inilah yang justru menunjukkan toleransi.

Sikap toleransi kita ditunjukkan dengan menghormati keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita, bukan kita harus meyakini sebuah keyakinan yang berbeda. Tetapi dalam pengertian bahwa kita tidak boleh mengganggu orang lain yang mempunyai keyakinan yang berbeda dengan kita. Apalagi memaksa  agar dia harus mempunyai keyakinan yang sama dengan kita.

Memeluk Islam dengan laa ikraha fiddini, tidak ada paksaan dalam agama karena semua kebenaran itu sudah jelas. Allah sudah menurunkan kebenaran kalau yang mau beriman silakan yang tidak mau juga silakan. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk meyakini sedangkan Allah saja tidak memaksa. []

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!