Bertahun-Tahun Tak Berzakat, Bagaimana Membayarnya?

Berita

Home » Berita » Bertahun-Tahun Tak Berzakat, Bagaimana Membayarnya?

Dr. Zain mengumpamakan  jika ada anak kecil menabrak tidak sengaja, mungkin dia tidak berdosa tapi dia tetap wajib ganti rugi pada orang yang ditabraknya. Atau anak kecil memecahkan kaca, dia tidak berdosa tapi orang tuanya wajib mengganti kaca tersebut. Pun dengan zakat, walau orang tersebut telah bertaubat tapi tetap wajib membayar zakatnya di masa dahulu.

Sebut saja Pak Aji. Ia merupakan direktur perusahaan multinasional. Jumlah tabungan tiap bulannya mencapai lebih dari 50 juta. Uangnya ia kumpulkan bertahun-tahun, menggunung dalam timbunan bank.

Setahun dua, 10 tahun lebih ia menjadi orang yang sangat kaya. Namun, tak pernah terbesit sekilaspun bahwa ia akan membayar zakat. Semakin tua, Pak Aji semakin sadar bahwa ada kewajiban yang belum ia tunaikan yaitu membayar zakat.

Suatu hari, Pak Aji bertaubat dan berkomitmen akan menzakatkan hartanya. Apalagi bulan ini bulan ramadhan, ia menilai saat yang pas untuk memperbaiki diri dan memulai lembaran baru. Lantas, bagaimana ia membayar zakatnya?

Pembaca, kisah Pak Aji mungkin benar-benar terjadi di tengah-tengah kita, di antara saudara kita, ayah kita, ibu kita, suami kita atau kita sendiri. Lalu, bagaimana teknis orang yang sudah lama tidak membayar zakat lalu ia ingin membayar zakat?

Apakah kewajiban zakatnya gugur dengan taubatnya dia?

Pakar Perzakatan Indonesia Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin mengatakan bahwa zakat itu wajib dibayar ketika seseorang berstatus sebagai muzakki.

Status zakat, kata Prof. Didin laiknya utang yang wajib ditunaikan. “Walau dia sudah bertaubat, tetapi zakatnya tetap wajib dibayar, karena ia akan menjadi utang dan utang wajib dibayar,” kata Prof. Didin.

“Utang kepada manusia saja wajib dibayar apalagi utang kepada Allah. Caranya bagaimana? Dihitung jumlah kekayaannya selama dia belum bayar zakat dan dibayarkan, kemudian dia bertaubat, mudah-mudahan Allah mengampuninya,” kata Prof. Didin.

Senada dengan Prof. Didin Hafidhuddin, Ketua Majelis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Dr. Ahmad Zain Annajah mengatakan bahwa zakat tetap wajib dibayarkan kalau memang dia mampu.

Seperti halnya kewajiban lain seperti shalat yang wajib ditunaikan, zakat pun seperti itu. “Zakat dalah kewajiban rukun islam ke-4. Setiap muslim yang punya harta sampai nishab 1 tahun harus dikeluarkan  2,5 persen yaitu zakat mal. Kalau dia lupa, malas, nggak sempat, nggak mau bayar seumpama 10 tahun, tetap wajib bagi dia bayarkan zakatnya jika dia mampu,” kata pakar fikih alumnus Al Azhar Kairo ini.

Zakat, sebagaimana shalat jika dulu tidak dikerjakan dan baru menyadari kekeliruannya di masa sekarang, tetap wajib diganti.

“Saya qiyaskan dengan shalat. Ada orang tidak shalat selama 10 tahun, lalu dia bertaubat, dia wajib mengganti shalatnya selama ia tinggalkan,” kata Dr. Zain. Teknis menggantinya, kata Dr. Zain bisa dia setiap habis shalat Isya dia langsung shalat isya mengganti shalatnya terus menerus setiap hari sampai shalatnya sudah dikerjakan semuanya yang dia tinggalkan jika mampu.

“Kalau ada orang meninggalkan shalat selama 3 -4 hari saja, itu mudah karena dia masih ingat jadi bisa langsung diganti. Zakat pun seperti itu juga,” kata Dr. Zain. Misalnya, ia mencontohkan bagaimana jika ada orang tidak membayar zakat 10 tahun.

“Tahun ini dia bisa bayar zakat tahun ini ditambah zakat 10 tahun yang lalu. Tahun depan bayar zakat tahun itu dan 9 tahun yang lalu. Begitu seterusnya 8,7 hingga lunas kewajibannya,” kata Dr. Zain memaparkan cara ‘mencicil’ kewajiban zakat.

Lalu bagaimana cara menghitungya?

“Menghitungnya yaitu zakat dia saat itu sesuai nishabnya. Umpamanya dia punya kekayaan sebelum krisis sejumlah sekian, setelah tahun 1998, terjadi krisis, dia tetap wajib membayar zakat senilai sebelum masa krisis, dengan nilai uang saat itu,” kata Dr. Zain.

“Tapi ingat, itu diwajibkan selama ia mampu dan memenuhi syarat muzakki. Kalau sekarang ia tidak mampu, maka kewajibannya gugur. Maka hendaknya ia bertaubat dan memperbanyak istigfar,” kata tokoh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Menurut Dr. Zain, yang dilihat oleh Allah adalah kesungguhan dan komitmen dia bertaubat. “Zakat mal, fitrah juga seperti itu, wajib dikeluarkan. Juga kewajiban yang lain seperti puasa, wajib diganti, jika tidak mampu dia harus membayar fidyah,” katanya.

Tapi, kembali lagi, menurut Dr. Zain, zakat wajib jika ia memenuhi syarat sebagai muzakki. “Urusan taubat urusan orang dengan Allah. Yang diampuni itu dosanya, bukan zakatnya, kewajiban zakatnya tetap berlaku,” katanya.

Dr. Zain mengumpamakan  jika ada anak kecil menabrak tidak sengaja, mungkin dia tidak berdosa tapi dia tetap wajib ganti rugi pada orang yang ditabraknya. Atau anak kecil memecahkan kaca, dia tidak berdosa tapi orang tuanya wajib mengganti kaca tersebut. Pun dengan zakat, walau orang tersebut telah bertaubat tapi tetap wajib membayar zakatnya di masa dahulu.

“Yang paling jelas ialah karena zakat turun dari Allah karena zakat hanya bagi yang mampu, kalau dia tidak mampu ya nggak wajib bayar zakat,” pungkasnya. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!