madinah, kota juara, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, prof kh miftah faridl, tolong menolong, taawun, wakaf, sinergi wakaf, prof kh miftah faridl, ketua mui bandung, harta, Islam, zakat, pahala besar, ramadhan, nabi dan rasulullah, bulan istimewa, bulan suci, puasa, shaum

Spirit Profetik Kota Madinah

Ketika pertama kali memasuki tempat baru  setibanya dari perjalanan hijrah di Madinah, Rasulullah langsung menata tatanan kehidupan, baik fisik material maupun mental spiritual. Secara fisik, kota Madinah ditata sedemikian rupa, yang hingga saat ini masih terasa kesejukan suasana sosialnya. Di atas semangat profetik yang menjadi basis usaha dakwah yang dilakukannya Rasulullah memulai menata kehidupan dengan berpedoman pada ajaran.

Melalui kebiasaan shalat berjamaah beliau mendidik, membiasakan hidup bermasyarakat yang slami, masyarakat yang berperadaban yang berkemajuan. Dalam shalat berjamaah, umat Islam dididik untuk memiliki budaya yang cerdas, terhormat dan bertanggungjawab yang berkaitan dengan prinsip-prinsip etika memilih pemimpin, kepatuhan kepada pimpinan, etika mengoreksi pimpinan dan bahkan bagaimana mengganti pimpinan.

Inilah di antara isu penting dan sensitif yang seringkali membingkai kuat kehidupan politik masyarakat kita, yang apabila terlepas dari nilai-nilai moral agama, semuanya tidak menutup kemungkinan malah dapat mendorong tindakan-tindakan destruktif, tindak kekerasan, pelecehan satu sama lain, saling tidak menghargai, dan pada akhirnya terjebak pada iklim disintegrasi. Bukankah tatanan disintegratif itu merupakan kondisi yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya?

Karena itu, terlepas dari sisi-sisi adanya kesenjangan sejarah, bias kultural, ataupun jarak ideologis lainnya, usaha Rasulullah dalam membangun kota bermartabat yang dibingkai dalam spirit wahyu, yang hingga kini tetap menjadi magnet umat manusi seluruh dunia, saya kira masih tetap relavan untuk diteladani jika kita ingin membangun sekaligus memiliki rumah berkah yang disebut kota.

Fondasi utamanya tentu adalah taqwa. Alqur’an dengan tegas menyebut itu “Seandainya penduduk suatu negeri, masyarakat suatu wilayah, warga suatu kota bertaqwa, maka pasti Allah akan menurunkan keberkahan yang ternilai”. Jadi tidak bisa kita mengukur kebahagiaan warga suatu tempat hanya dengan ukuran ukuran fisik material, sementara dimensi mental spiritualnya kita abaikan.

Untuk itu adalah pada tempatnya jika kita ingin membangun kota yang bernartabat, kota yang senantiasa menjadi “juara”, maka kita perlu kembali mempertimbangkan langkah-langkah penting yang pernah dilakukan Rasulullah dengan para sahabatnya. Langkah-langkah itu merupakan teladan penting bagi kita, sebab langkah-langkah itu terbukti dalam sejarah merupakan usaha beliau untuk membangun semangat dan budaya ukhuwah.

Hal penting yang menjadi pegangan utama Nabi adalah berpegang pada prinsip ukhuwah. Ukhuwah adalah salah satu potret penting dari masyarakat Madinah. Tidak ada diskriminasi, atas nama apa pun. Tidak ada kompetisi yang tidak sehat, kecuali dalam bingkai Fastabiqul Khairat.

Sejarah memperlihatkan dengan jelas warna pluralisme Madinah. Tapi Nabi tetap sanggup merawatnya dalam spirit ajaran yang santun. Allah menciptakan pria wanita, suku bangsa bukan karena kemulyaan dan keunggulan golongannya, tapi lebih didasarkan pada pertimbangan ketaqwaannya

Perbedaan pendapat harus menjadi rahmat untuk tumbuhnya semangat kritis dan semangat kompetitif. Semua orang mu’min adalah bersaudara. Diantara orang mukmin harus dibudayakan ishlah, tabayyun, tidak boleh terjadi sikap memperolok-olokan (taskhiriah), melecehkan, menghina, memanggil orang lain dengan panggilan yang menyakitkan, buruk sangka, mencari-cari kesalahan, membuka aib orang lain. Sebagaimana yang termaktub dalam Surat Al hujuran: 8 – 13. Orang muslim itu ialah apabila orang lain selamat dari gangguan lidah dan gangguan angota ganggguan anggota badannya.

Beliau membangun keakraban dan persahabatan antara Ansor dan Muhajirin, antara  satu dengan Qobilah yang lain, antar tokoh masyarakat, antara kaya dan yang miskin. Beliau bangun kesepakatan dan dialog dengan masyarakat penganut agama lain. Tidak ada paksaan dalam beragama. Masing-masing harus siap dan sepakat dalam perbedaan (Lakum Dinukum Waliadin). Dan semua penganut agama berkewajiban untuk menjaga keutuhan dan keberadaan Madinah.

Melalui gerakan dakwah yang dilakukannya beliau memantapkan umat untuk memiliki semangat dan jiwa tauhid. Bahwa yang patut disembah hanya Allah. Bahwa Allah adalah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Menghitung. Bahwa kekayaan, kedudukan kemulyaan sepenuhnya milik Allah SwT Yang atas qudrah dan radahnya ada yang diberikan kepada manusia yang berfungsi sebagai anugerah kasih sayang-Nya, sekaligus sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan serta sebagai ujian keimanabn dan kehidupan.

Selanjutnya Nabi juga melakukan pemantapan sikap tauhid yang utuh dan sempurna. Dengan semangat tauhid diharapkan manusia menjadi orang yang ikhlas, tekun, sabar, dan tawadhu. Beliau mendidik masyarakat yang tidak hanya rajin beribadah tapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang luar biasa. Jadilah kota yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. []

Ditulis oleh Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation, Prof. DR. KH. Miftah Faridl.

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by