tanda Allah mengabaikan kita, Allah SWT, ramadhan, al quran, ramadhan, sahabat, rasulullah, kisah inspirasi, ulama, hikmah,

Ramadhan, Ketika Para Sahabat Rasulullah ‘Move On’

Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, saat di Mekah hingga dua tahun silam. Tahun ini, ada yang lain dari Ramadhan Rasulullah dan para sahabat di Madinah. Ramadhan kali ini, perintah shaum turun, ramadhan kali ini kalam-kalam ilahi itu turun bertahap. Ini ialah Ramadhan dengan perintah shaum pertama kali dilaksanakan.

Sang Nabi sudah dua tahun tinggal di Madinah, menata kehidupan. Para sahabat Muhajirin dan Anshar merajut silaturahim, memperkokoh keimanan. Sudah dua tahun, mereka semua hijrah, pindah dari Mekah ke Madinah, memulai kehidupan baru, ‘Move On’.

Ramadhan kali ini pun berbeda dengan biasanya, karena mereka bersiap akan berangkat ke Badar, ratusan kilometer dari Madinah, bersiap untuk berperang besar pertama kalinya dengan kaum kafir Quraisy. Sebenarnya sang Nabi tak pernah mengumumkan perang kepada siapapun di Arab.

Beliau dengan lembutnya hanya bersabar, tak pernah berselisih, mengintervensi, mencari gara-gara. Malah, merekalah, kaum Quraisy itu yang mengambil alih secara sepihak harta benda kaum muslimin di Mekah setelah mereka ditindas, dizalimi, dimusuhi, dan diusir. Kaum muslimin keluar dari Mekah tanpa apa pun selain baju di badan. Mereka tinggalkan rumah beserta segala isinya, yang kemudian diambil oleh kaum Quraisy seenaknya.

Orang-orang Quraisylah yang menyulut perang ekonomi di Baitul Haram, hingga sang Nabi diboikot, tak kuat rasanya menatap manusia paling mulia itu mengganjal perutnya, sampai memakan dedaunan. Bahkan, lebih dari itu, sang Nabi pun diputus jalur komunikasinya, hingga dakwah itu tak mengalir di tengah masyarakat Quraisy.

Tak hanya sampai di situ, banyak kabilah diprovokasi menjauhi sang Nabi. Orang Quraisy pula yang pertama kali menghunus tajamnya pedang pada Muhammad, saat menjelang hijrah tanpa alasan jelas. Ingatan yang kembali berkelebat di benak para sahabat. Ya, masa-masa itu memang sudah lewat, dan Ramadhan kini, saatnya kembali menatap masa depan, bersiap untuk ‘Move On’ mengembalikan izzah Islam, mengingatkan mereka kepada hukum Allah.

Perang sudah di hadapan. 313 kaum muslimin berjalan menuju Badar, melewati terik Ramadhan, ketika perut-perut mereka yang keroncongan menahan lapar. Badar, ialah awal dari perubahan, hari yang sangat menentukan masa depan kaum muslimin. Hari yang amat genting, ketika para sahabat senior dengan perkasa menjejakkan kakinya di Badar.

Rembulan purnama menyembul di malam nan syahdu. Malam itu, 17 Ramadhan, ketika para sahabat berharap esok Jumat Allah berikan kemenangan pada mereka. Malam begitu syahdu, ketika shalat malam ditegakkan saat Ramadhan. Tengah malam, dengan penuh khusyuk sang Nabi pun berdoa, hingga berlinang matanya.

“Pertolongan-Mu ya Allah, seperti telah Kau Janjikan. Ya, Allah, jika Kau binasakan kami hari ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi,” lirih sang Nabi. Para sahabat tak kuasa menahan air yang meleleh melewati pipi mereka. Isak tangis kian memuncak. Abu bakar terharu dan berkata kepada sang Nabi berbisik.

“Wahai Nabi Allah, Allah pasti mengabulkan janji-Nya,” katanya. Tak lama, seribu orang Quraisy datang ke area Perang. Seribu orang dengan congkak datang beruntun, mengenakan baju-baju perang yang mengkilap. Sedangkan kaum muslimin, hanya dengan peralatan seadanya. Melihat seribu orang Quraisy datang, sang Nabi pun kembali berdoa.

Ya Allah, kaum Quraisy telah datang dengan segala kesombongan dan kecongkakannya. Mereka memusuhi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Pertolongan-Mu, ya Allah, seperti telah Kau janjikan padaku. Pertolongan-Mu, ya Allah, seperti telah Kaujanjikan padaku. Pertolongan-Mu, ya Allah, seperti telah Kau janjikan padaku. Ya, Allah, hancurkanlah mereka di pagi hari.”

Malam itu, kaum muslimin dilanda kantuk, sehongga semua tertidur dengan tenang dan pulas, hingga menjelang subuh, mereka bangun dan segar. Nabi sendiri tak tidur semalaman, shalat dan berdoa hingga pagi. Begitu fajar merekah, beliau mengajak para sahabat mengerjakan shalat.

Menjelang Pertempuran, Nabi merapikan barusan prajurit seraya menyuntikkan semangat jihad. “Demi Zat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, siapa yang berperang hari ini, lalu terbunuh dalam keadaan sabar, ikhlas karena Allah, maju terus pantang mundur, maka Allah menjanjikan surga baginya..”

Di Bulan suci Ramadhan, Sang Nabi turut serta memotivasi agar para sahabat ‘Move On’, melupakan masa silam, menyambut surga, balasan tertinggi, kehidupan terbaik, menyongsong kemenangan nan hakiki. Hari Jumat pagi itu, kedua pasukan saling berperang, bertempur, sang Nabi turut langsung memimpin perang.

“Kalian telah menyaksikan bagaimana kami di Badar. Kami berlindung di balik Rasulullah. Beliaulah yang paling dekat dengan musuh,” kata Ali Ibn Abi Thalib. Kaum muslimin dengan semangat ‘Move On’, habis-habisan berperang, hingga Allah turunkan pertolonganNya, pasukan-pasukan Allah. (Ali Iman: 131)

Kaum musyrikin mulai kedodoran menghadapi serbuan kaum muslimin. Tubuh mereka bergelimpangan ditebas pedang. Dalam waktu singkat tujuh puluh pemimpin Quraisy dan antek-anteknya tersungkur; sebagian ditawan; sisanya pontang-panting melarikan diri.

Mentari mulai menguning, dan tak satu pu orang musyrik tersisa. Mereka yang masih hidup melarikan diri. Sementara itu, di pihak muslim empat belas orang gugur sebagai syuhada dan tak seoang pun yang tertawan. Alhamdulillah, kemenangan Allah berikan kepada kaum muslimin.

Pasca perang Badar, umat Islam semakin kuat dan diperhitungkan oleh kalangan Arab. Ramadhan, Badar, ialah momen para sahabat ‘Move On’, bergerak, bangkit. Ramadhan menjadi titik balik kebangkitan kaum muslimin, menjadi agama yang mulia. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by