Praktik Wakaf Sahabat Nabi – Para sahabat Nabi adalah orang yang selalu berlomba-lomba untuk mewakafkan apa yang mereka punya, mulai dari harta yang paling sederhana hingga harta yang paling dicintai.

Tak ada yang bisa menandingi kesungguhan praktik wakaf sahabat Nabi. Mereka begitu dermawan, dan selalu siap mengorbankan harta kesukaan mereka untuk kepentingan umat.

Praktik Wakaf Sahabat Nabi: Abu Thalhah

Sahabat senior Jabir bin Abdillah, “Tidak ada seorangpun sahabat Nabi SAW yang memiliki kemampuan, kecuali mereka berwakaf.” (Ahkam al-Auqaf, Abu Bakr al-Khasshaf, no. 15 dan disebutkan dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/29).

Kita tahu, sahabat Abu Thalhah yang sangat mencintai kebun-kebunnya. Ketika firman Allah sampai di telinganya, Abu Thalhah berpikir mendalam terkait praktik wakaf sahabat Nabi yang bisa ia lakukan.

Ayatnya sebagai berikut, “Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran: 92) membuat Abu Thalhah bergetar. Cepat-cepat ia datangi sang Nabi menyampaikan isi hatinya, bahwa ia sangat mencintai kebunnya.

“Ya Rasulullah, Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai’. Sementara harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Ini saya sedekahkan untuk Allah. Saya berharap dapat pahala dan menjadi simpananku di sisi Allah. Silahkan manfaatkan untuk kemaslahatan umat.,” kata Abu Thalhah.

Sang Nabi langsung memuji Abu Thalhah. “Luar biasa, itu kekayaan yang untungnya besar… Itu harta yang untungnya besar. Saya telah mendengar apa yang anda harapkan. Dan saya menyarankan agar manfaatnya diberikan kepada kerabat dekat,” kata Rasulullah.

Wakaf Umar bin Khattab

Ada pula kisah yang disebut sebagian ulama sebagai wakaf pertama. Ibnu Umar menceritakan, bahwa ayahnya Umar bin Khatab, mendapatkan jatah bagian kebun di Khaibar. Beliaupun melaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, saya mendapatkan kebun di Khaibar. Saya tidak memiliki harta yang lebih berharga dari pada itu. Apa yang anda perintahkan untukku?”

Saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika mau, kamu bisa wakafkan, abadikan kebun itu, dan hasilnya kamu sedekahkan.”

Kemudian Umar mewakafkannya. Kebun itu tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Hasilnya disedekahkan untuk fakir miskin, kerabat, budak, para tamu, dan Ibnu Sabil. Dan boleh bagi yang mengurusi untuk mengambil sebagian dari hasilnya, sewajarnya, dan makan darinya, bukan untuk memperkaya diri dengannya. (HR. Bukhari 2737, Muslim 4311 dan yang lainnya).

Semoga kita semua bisa meneladani semangat wakaf dari Rasulullah dan Para Sahabat, ya! KLIK DI SINI untuk berwakaf

 

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!