Pengertian Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf

Berita

Harta sejatinya bukanlah sarana untuk berfoya-foya dan menikmati dunia hingga ajal menjemput. Melainkan menjadi ‘jembatan’ bagi kita untuk menambah amal kebaikan. Sebab harta merupakan ujian bagi manusia dalam mendekatkan dirinya dengan sang Khalik.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At Taghabun: 15)

Ayat ini merupakan bentuk peringatan Allah, bahwa harta dan keluarga kita merupakan ujian. Maka, akankah kita sanggup menjadi muslim yang memanfaatkannya di jalan kebaikan. Atau malah kebalikannya, terperosok dalam kebahagiaan fana dunia dan melupakan tujuan sesungguhnya manusia diciptakan di atas muka bumi. Na’udzubillah..

Untuk berlepas diri dari rasa cinta dunia, maka hadirlah ibadah harta berupa zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Ibadah harta ini tak hanya bentuk ketaatan kita kepada ketentuan Allah, melainkan juga obat dari penyakit hati.

Sebelum melaksanakan ibadah-ibadah harta tersebut, akan lebih baik jika kita memahami terlebih dulu setiap istilah tersebut. Agar tidak keliru saat mempraktikannya.

1. Zakat
Zakat merupakan ibadah harta yang wajib dilaksanakan setiap muslim yang mampu apabila hartanya telah mencapai nishab dan haul (1 tahun). Melaksanakan zakat sama wajibnya seperti melaksanakan shalat 5 waktu.

Allah berfirman, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS Al Baqarah: 43)

Zakat dibagi menjadi 2 kategori, yakni zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Besaran zakat fitrah yang dibayarkan adalah sebesar atau seberat makanan pokok yang dikonsumsi. Sekitar 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Jika dalam bentuk uang, nominal zakat fitrah disesuaikan dengan harga berat yang dikonsumsi.

Sedangkan zakat maal, jenisnya ada bermacam-macam. Ada zakat penghasilan/zakat profesi, zakat pertanian, zakat perdagangan, zakat emas, zakat pertambangan, zakat saham, zakat peternakan, hingga zakat barang temuan. Setiap jenis zakat maal memiliki ketentuan yang berbeda dalam menentukan nishabnya.

Untuk penerima zakat, Allah sudah menentukan 8 asnaf sebagai penerimanya, yaitu; fakir, miskin, amil, muallaf, riqab (budak), gharim (orang yang memiliki hutang), fi sabilillah, dan ibnu sabil.

2. Sedekah
Lain dengan zakat, sedekah bersifat sukarela dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam pengeluarannya baik mengenai jumlah, waktu dan kadarnya. Sedekah memiliki makna yang luas dalam berbagi.

Karena itu, sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah.

Dzikir pun termasuk dalam sedekah. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar sedekah dan menyalurkan syahwatnya kepada istri sedekah.” (HR Muslim)

3. Infak
Infak berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam.

Hukum melaksanakan infak adalah sunnah. Tidak ada batasan jumlah dalam berinfak, semampunya saja. Tidak ada ketentuan nishab dan waktu juga dalam melakukan infak.

4. Wakaf
Wakaf berasal dari kata wa-qa-fa (وقف) yang berarti menahan, berhenti, atau diam. Maksud dari menahan adalah untuk tidak diperjualbelikan, dihadiahkan, atau diwariskan. Artinya, seseorang menyerahkan harta miliknya untuk ditahan pokoknya (benda aslinya), namun terus dialirkan manfaatnya dari waktu ke waktu.

Wakaf merupakan wujud taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada Rabbnya. Karena melaksanakan wakaf hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah untuk dimanfaatkan bagi kemashlahatan umat.

Sedangkan definisi wakaf menurut UU no. 41 tahun 2004 adalah suatu perbuatan hukum oleh pihak yang melakukan wakaf untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda atau aset miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu untuk keperluan ibadah atau kesejahteraan umum sesuai ketentuan agama Islam.

Dari definisi tersebut, wakaf juga termasuk ke dalam amal jariyah yang Rasulullah anjurkan untuk dimiliki oleh setiap umatnya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh.” (HR Muslim)

Berbeda dengan ibadah harta yang dapat langsung habis, wakaf diinvestasikan dalam bentuk aset riil dan sosial. Dengan pengelolaan yang baik, hasil wakaf di aset riil bisa menyokong manfaat aset sosial yang juga dibangun dari wakaf. Sehingga manfaatnya pun dapat dirasakan lebih lama dan panjang.

Jadi, itulah penjelasan istilah wakaf dengan zakat, infak, dan sedekah. Dengan memahami penjelasan dari ketiganya, kita bisa mendapatkan segala kebaikan dengan tujuan yang sesuai dengan pemanfaatannya. Yuk, cari tahu lebih lanjut mengenai wakaf produktif dan praktik wakaf lainnya di era peradaban Islam!

Source: dbs

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!