Panduan Praktis Pembagian Waris

Berita

Selain mempelajari adab, ilmu waris juga menjadi salah satu ilmu yang penting untuk dipelajari oleh muslim. Sebab, seorang muslim harus memahami bagaimana caranya membagi harta waris dengan adil dan sesuai porsinya.

Hal ini bertujuan agar masing-masing penerima waris tidak memakan bagian yang bukan miliknya. Sehingga terjaga dari harta yang haram dan berbuat dzalim. Juga terhindar dari persengketaan hak waris di kemudian hari. Karena itu selagi ada kesempatan, sebaiknya kita memahami dan mendalami ilmu waris.

Begitu pentingnya mempelajari ilmu waris ini hingga disebutkan dalam hadits marfu’, “Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faroidh (ilmu waris) dan ajarkanlah karena ilmu tersebut adalah separuh ilmu dan saat ini telah dilupakan. Ilmu warislah yang akan terangkat pertama kali dari umatku.” (HR Ibnu Majah, Ad Daruquthni, Al Hakim, Al Baihaqi)

Pembagian waris harus dilakukan dengan adil sesuai aturan Islam dan hukum syariah yang ditetapkan, diantaranya;

Rukun Pembagian Warisan mencakup:

1. Orang yang mewariskan (al muwarrist) yaitu seorang yang meninggal dunia.

2. Orang yang mewarisi (al waarist) yaitu orang yang berhak memperoleh warisan dengan syarat-syarat tertentu.

3. Harta yang diwariskan (al maurust), yaitu harta peninggalan si mayit yang diwariskan.

Kemudian terlebih dulu warisan dibagikan kepada Ashabul furudh. Yaitu orang yang mendapatkan warisan berdasarkan kadar yang telah ditentukan dalam Al Quran.

Di dalam ashabul furud ini penerima dibagi menjadi 6 golongan sesuai dengan kadar besaran waris yang diterima.

1. Kadar ½ dari harta waris;
a. Anak perempuan
b. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan)
c. Saudara perempuan seayah dan seibu
d. Saudara perempuan seayah
e. Suami jika tidak memiliki anak atau cucu laki-laki

2. Kadar 1/4 dari harta waris;
a. Suami jika istri memiliki anak atau cucu laki-laki
b. Istri jika tidak memiliki anak atau cucu laki-laki

3. Kadar 1/8 dari harta waris;
Istri jika memiliki anak atau cucu laki-laki

4. Kadar 2/3 dari harta waris;
a. Dua anak perempuan atau lebih
b. Dua anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) atau lebih
c. Dua saudara perempuan seayah dan seibu atau lebih
d. Dua saudara perempuan seayah atau lebih

5. Kadar 1/3 dari harta waris;
a. Ibu jika si mayit tidak dihajb
b. Dua atau lebih dari saudara laki-laki atau saudara perempuan yang seibu

6. Kadar 1/6 dari harta waris:
a. Ibu jika memiliki anak atau cucu, atau memiliki dua atau lebih dari saudara laki-laki atau saudara perempuan
b. Nenek ketika tidak ada ibu
c. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) dan masih ada anak perempuan kandung
d. Saudara perempuan seayah dan masih ada saudara perempuan seayah dan seibu
e. Ayah jika ada anak atau cucu
f. Kakek jika tidak ada ayah
g. Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu

Golongan yang Tidak Mendapat Warisan

Selain penerima warisan, terdapat juga golongan yang tidak mendapatkan waris ada. Ada tujuh golongan, yaitu;

a. Budak laki-laki maupun perempuan
b. Budak yang merdeka karena kematian tuannya (mudabbar)
c. Budak wanita yang disetubuhi tuannya dan melahirkan anak dari tuannya (ummul walad)
d. Budak yang merdeka karena berjanji membayarkan kompensasi tertentu pada majikannya (mukatab)
e. Orang yang membunuh pemilik warisan
f. Orang yang murtad
g. Berbeda agama

Ada baiknya, ketika pembagian waris ini juga Sahabat didampingi oleh orang yang sangat paham dengan pembagian waris. Agar tidak salah menentukan pembagiannya.

Source: dbs

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti
×
Open chat
Assalamualaikum, Sinergi Foundation!