Kerikil, batu tajam, tikungan, bahkan tumpukan tanah yang menggunung tak pernah absen dari perjalanan hidup manusia. Begitu pula dengan Pak Taten Herman (50), seorang penjual kopi racikan yang harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup.
Sebelumnya, Pak Taten bisa hidup pas-pasan namun cukup dari penghasilan berjualan kopi. Setiap hari ia mampu menjual sekitar 23 gelas kopi dengan harga Rp7.000 per gelas. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika ia diusir oleh pedagang lain dan dilarang berjualan di lokasi sebelumnya.
Terpaksa, Pak Taten memindahkan lapak kopi ke dekat rumahnya. Sayangnya, usaha tersebut tidak berjalan lancar. Di tempat baru, ia hanya bisa menjual 2–3 gelas kopi per hari, bahkan sering kali pulang tanpa membawa penghasilan sama sekali.
Kondisi ini membuat Pak Taten kerap melewati hari tanpa makanan. Jika dompet kosong, perut pun ikut kosong. Lebih berat lagi, ia sampai harus menunggak biaya kontrakan selama empat bulan.
Alhamdulillah, berkat uluran tangan para dermawan, Pak Taten kini terbebas dari dua bulan tunggakan kontrakan. Namun perjuangannya belum selesai.
Semoga rezeki Pak Taten kembali mengalir lancar, dan hidupnya menjadi lebih baik ke depannya.



