Suatu malam, Rasulullah merasa gelisah sepanjang malam. Berkali-kali, beliau mengubah posisi tidurnya, hingga mengundang tanya sang istri, “Mengapa engkau tidak dapat tidur, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Tadi tergeletak sebutir kurma, kemudian aku memakannya karena khawatir kurma itu terbuang sia-sia. Sekarang aku cemas, mungkin kurma itu dikirim ke sini untuk disedekahkan.”

Dalam kitab Fadhilah Amal, Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi menerangkan, kemungkinan besar kurma itu milik Rasul. Tetapi, karena Rasul terbiasa menerima titipan sedekah, kekhawatiran kurma itu harta sedekahlah yang membuat beliau tidak bisa tidur semalaman. Berarti ada harta sedekah yang termakan oleh beliau.

Hal ini menunjukkan, seorang muslim haruslah memperhatikan asal-muasal harta yang diperoleh. Jangan sampai menghalalkan segala secara hingga melalaikan aspek kehalalan dan kethayyibannya.

Sebab, harta merupakan ujian bagi manusia. Ia bisa memuliakan dan bisa menghinakan. Hal ini tergantung bagaimana pemilik harta memperoleh dan menggunakannya. Apakah harta tersebut digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala atau sebaliknya.

Dari Ka’ab ibn Iyadh bahwa Rasulullah Shalallahu’Alaihi wa Salam bersabda, “Sesungguhnya masing-masing umat itu memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta.” (HR Tirmidzi)

www.sinergifoundation.org

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!