rumah bersalin cuma-cuma

Kisah Bidan Ina Berjuang di Rumah Bersalin Cuma-Cuma

Langkah kecil kedua kakinya memasuki bangunan bernuansa hijau dengan tenang. Saat menginjak keramik putih semerbak pengharum lantai menyeruak menusuk hidung. Kaca-kaca yang bersih, lantai yang mengkilap adalah pemandangan harian di Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) Holis Bandung. Ina Marlina, masuk sambil menggendong buah hatinya, bernama Ilma. Sesaat kemudian menghampiri finger absen yang menempel di dinding dekat rak penyimpanan sepatu.

Ditilik dari luar, badannya ini termasuk yang kecil tinimbang bidan-bidan seusianya. Namun jangan salah, mengenai pengalaman membantu persalinan tak usah diragukan. Ragam kasus komplikasi ibu hamil berhasil ia tangani dengan baik, pun saat harus membantu persalinan di tempat-tempat yang darurat. Pernah, satu ketika, RBC menangani pasien hingga 70 kelahiran dalam satu bulan. Ditambah, dengan puluhan orang lainnya yang mengambil rawat jalan. Mengabdi dari tahun 2006, Ina Marlina kenyang dengan asam manisnya dunia RBC.

Usai mempersiapkan diri, satu persatu member memasuki ruang pemeriksaan. Biasanya member dicek tekanan darah terlebih dahulu. Ina duduk tenang memegang pulpen dan seberkas catatan. Sambil memeriksa rekam medik, dengan santun Ina membuka percakapan. Menanyakan kabar hingga keluhan yang dirasakan sang ibu. Sama seperti yang lain, pertanyaan kabar itu dijawab beraneka ragam. Mulai dari kondisi rumah, utang, suami, hingga buah hati.

Tak jarang, di sela pemeriksaan ada saja yang air mata yang tumpah membasahi ujung kerudung. Dengan sabar Ina mendengarkan keluhan tersebut sambil memberikan sedikit motivasi agar sang ibu tabah dalam menjalani ujian.
Syahdan, demikianlah gambaran suasana yang dilewati seorang Ina Marlina tiap harinya. Mungkin bukan hanya dirinya, hampir semua dokter dan bidan mengalami hal serupa. Meski demikian, ritmenya tak melulu datar, ada saja hal baru yang ia dapatkan saat berinteraksi dengan para member. Fluktuasi itulah yang membuat Ina senantiasa bersyukur dengan apa-apa yang ia miliki.

Membincang bidan, rasanya tak bisa ditampik bahwa profesi tersebut erat kaitannya dengan kemanusiaan. Tanggungjawab besar diampu, sebab di pundak merekalah tugas menyelamatkan ibu dan penerus generasi bangsa tersemat. Nilai-nilai kehidupan menjadi pedoman. Pun, prinsip kemanusiaan itu yang dipegang erat oleh Ina. Menjadi perantara pertolongan Allah atas calon-calon ibu, tentu bukan tugas yang mudah. Perlu keikhlasan, semata ridha-Nya, tanpa melalui kacamata duniawi.

“Alhamdulillah, saya betah bekerja di RBC. Bagaimana tidak, suasana kekeluargaannya, profesionalitasnya, hingga dinamika hari demi hari yang dilewati di sini begitu beragam,” kata bidan Ina.

Meski hari tak lelah berganti diri, Ina senantiasa bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang yang tulus membantu. Dalam satu hari, walau hanya datang satu member, rasanya luar biasa. Baginya, semua member begitu unik. Rasa asyik saat membantu dan mendengar keluh kesah mereka mendatangkan pemahaman baru dan kasih sayang yang terus memuncak.

Sebelumnya, bidan Ina sempat bekerja di salah satu rumah bersalin swasta. Mencoba mempraktikkan ilmu yang didapatkan usai bersekolah kebidanan. Bersemangat, mencoba menolong sosok-sosok dimuliakan Al Quran, yang tengah berjuang mempertaruhkan nyawa demi buah hati. Dalam pikirannya, pekerjaannya itu adalah murni pekerjaan sosial, adapun profit yang didapat adalah bonus untuk memenuhi sekadar kebutuhan hidupnya.

Namun, rupanya dunia kerja tak seperti dalam bayangan, bak jauh panggang dari api. Seperti rumah sakit pada umumnya, biaya berobat di tempatnya bekerja sudah dipastikan tidak akan terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Kalaupun ada, biasanya terpaksa karena klinik atau puskesmas tidak mampu menangani masalahnya. Terkadang, banyak kondisi yang menuntutnya untuk berfikir materialistis. Melayani pasien dengan orientasi uang, tak peduli miskin atau kaya.

Misalkan, imbuh Ina, ketika pasien harus ditangani dengan sebuah tindakan medis, ia harus pikir-pikir lebih dulu. Apakah pasien bisa bayar atau tidak. Hal ini membawanya pada sebuah kesadaran. Timbul pertanyaan dalam diri Ina, kalau bekerja, harus terpaku pada uang ya? Kan kasihan yang ditolong. Bagaimana jika ternyata ia berasal dari keluarga yang tak mampu?

“Saya kerap dibuat bingung saat akan memberikan resep obat bagi pasien yang tidak mampu. Apabila diberi obat-obatan yang standar, terasa berat. Sudah bisa diperkirakan, karena harganya lumayan tinggi dan bagaimana reaksi para dhuafa, mereka hanya bisa menggelengkan kepala,” kata bidan Ina.

“Apalagi ketika ditawarkan obat yang kualitasnya lebih baik. Mereka tidak akan bisa menebusnya walaupun harus seharian bekerja tanpa henti. Rasa iba dan kasihan kembali menyayat hati. Tak jarang, hal itu membuat saya turut menumpahkan air mata,” lanjutnya.

Ina tak tega mesti membebani para dhuafa. Apalagi sampai melihat wajah cemas karena tidak ada uang untuk menebus obat. Dada pun sesak, belum ketika mereka terpaksa menitipkan kartu identitasnya. Itupun kalau tertebus, kalau tidak?

Ina melihat di rumah sakit yang berprofit banyak hal yang kurang diperhatikan, terlebih lagi dari segi pelayanan. Bukan rahasia lagi jika pasien yang memiliki banyak uang tentu segala urusan jadi lebih mudah. Mereka tinggal datang ke resepsionis lalu mengatakan bahwa ingin memesan sebuah kamar istimewa, diberilah dia. Sementara, bagi pasien yang tidak memiliki kemampuan untuk mengisi pundi-pundi rupiah secara cepat, akan berlarut-larut dan ujungnya malah membuat mereka menderita.

Di sana, jangankan bertanya tentang keikhlasan, sebuah profesionalisme pun akan kalah oleh uang. Ina sering merasa sedih melihat nasib orang miskin yang sudah terpinggirkan di masyarakat, kembali tersingkir di rumah sakit. Hal itu disebabkan rumah sakit seperti itu hanya memikirkan keuntungan semata. Apalah gunanya bekerja di tempat yang tidak menghargai kehidupan orang lain. Bahkan, nyawa yang tengah kritis pun tak digubris bila si pemilik nyawa tak memiliki uang.

“Maka saya memutuskan berhenti dari sana. Saya mencari tempat bekerja di mana ketenangan dan rasa kekeluargaannya hadir. Tidak hanya berfokus pada uang dan mengeruk keuntungan dari pasien, baik itu orang kaya maupun orang miskin,” katanya.

Namun, di manakah ada tempat seperti itu? Bukankah manusia zaman sekarang lebih senang pada uang? Tak perlu memikirkan orang lain, asal perut kenyang?

Kegelisahan bidan Ina terjawab kala dipertemukan dengan RBC pada 2006. Sebuah lembaga kesehatan, yang berkhidmat melayani ibu dan anak dari kalangan dhuafa. Ia merasa, Allah telah menjawab nuraninya yang terketuk. Di RBC, ia bisa menolong para kaum papa dengan sepenuh hati. Tanpa harus membebani mereka dengan masalah materi. “Inilah tempat yang selama ini saya cari,” bisik Ina lirih.

“Alhamdulillah, saya menemukan tempat yang tepat. Ketika menolong orang melahirkan, saya benar-benar menolong,” katanya.

“Selama menjadi bidan, saya merasakan makna ketulusan yang sebenarnya. Tidak lagi tersandung oleh rasa bersalah dengan “memaksa” mereka membayar obat dan biaya lainnya. Ketika memberikan obat atau layanan lainnya, saya dengan mudah memberikannya secara cuma-cuma. Tak perlu takut melihat mereka tak mampu menebus banyak sekali tagihan yang membludak,” lanjutnya.

Ketika menemukan RBC, Ina merasa sangat senang dan antusias. Ditambah lagi, visi misi RBC bukan sekadar tulisan. Berbeda dengan rumah sakit profit tadi, di sini semuanya adalah dhuafa, maka sudah dipastikan berbeda sekali pasien yang harus ditangani. Mereka yang selama ini terpinggirkan di rumah sakit yang profit, di sini mendapatkan perhatian penuh. Benar-benar layaknya hujan yang mengguyur tandusnya tanah.

Di sini semua benar-benar cuma-cuma. Gratis. Tak ada transaksi keuangan dalam melayani pasien. Bukankah menyenangkan apabila melihat senyuman merekah dari mulut mereka yang merasa menemukan tempat yang tepat untuk berobat tanpa memikirkan uang, uang, dan uang. Ina merasa bahwa ini keberadaan RBC sebagai suatu ‘mukjizat’. Sulit mencari tempat yang serupa seperti ini lagi.

Ina berharap, fasilitas kesehatan untuk masyarakat berekonomi rendah semakin banyak dibangun. Para dhuafa benar-benar membutuhkan uluran tangan orang-orang berhati emas dan bertangan ringan. Mereka sudah merasa lelah dengan kehidupan yang sulit, apalagi ditambah dengan biaya akan kesehatan yang tak lagi murah. Dengan meroketnya harga kebutuhan sehari-hari, maka membayar biaya kesehatan yang tak murah adalah sebuah siksaan.

Dalam doa, Ina berharap agar semakin banyak hati yang terketuk untuk membangun tempat yang dianggap sekeping surga bagi kaum dhuafa. Mereka bisa tetap menjaga kesehatan mereka tanpa mengeluarkan banyak biaya. Bukankah kesehatan adalah harta paling utama di dunia? Dalam kondisi sehat, mereka bisa mengurus rumah tangga, mendidik anak, atau turut membantu suami bekerja. Singkatnya, mereka dapat berupaya untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Bagi Ina, salah satu cahaya yang menyinari masyarakat ekonomi rendah adalah RBC. Tak mudah memang membuat tempat seperti ini, tapi bukan berarti tidak mungkin.

“Memang, cahayanya tidaklah terlalu terang. Akan tetapi, secercah cahaya sudah sangat cukup. Kelak, jika cahaya kecil itu dipelihara dan diusahakan, bisa membuatnya semakin besar dan terang-benderang,” pungkasnya. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by