rbc, rumah bersalin cuma-cuma, milad ke 14, dhuafa, rokok, keluarga sehat

Keluarga Sehat Tanpa Rokok

Aula Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) kali ini nampak berbeda. Kalau biasanya dalam seminar-seminar kesehatan yang digelar RBC diikuti ibu-ibu dan anak-anak, sekarang, para ayah mengisi sebagian besar karpet yang dihamparkan.

Mengambil tema utama Ayah Siaga, Keluarga Sehat & Bahagia, Dr. dr. Jeffry Iman Gurnadi ingatkan peran ayah sebagai sosok teladan bagi keluarga, terlebih dalam hal kesehatan.

“Kesehatan keluarga dipengaruhi sosok ayah di rumah, apalagi jika sang ayah merupakan perokok aktif. Rata-rata anak yang mengalami gangguan kesehatan pernapasan disebabkan dari asap rokok,” jelas dr. Jeffry saat memberikan edukasi kepada member RBC, Ahad (28/10/2018).

Menurutnya, dampak berbahaya rokok justru paling besar diterima oleh perokok pasif. “Perokok aktif cenderung lebih kebal, karena tubuhnya sudah terbiasa dengan zat-zat yang terkandung dalam rokok. Lain dengan perokok pasif yang lebih rentan.”

Dalam kesempatan tersebut, dr. Jeffry membagi pengalamannya selama menjadi perokok aktif. “Saya sudah menjadi perokok aktif selama 28 tahun. Walaupun berprofesi sebagai dokter dan saya selalu melihat poster yang berisikan dampak buruk merokok, tetap saja hal tersebut tidak menjadi halangan bagi saya untuk merokok.”

Hingga akhirnya, muncul keinginan dalam diri untuk berhenti. “Ketika bapak sedang dalam posisi enak merokok, itu masih aman. Tapi kalau tiba-tiba terpikir untuk berhenti, sebaiknya langsung berhenti. Sebab itu sinyal kalau tubuh kita sudah tidak mentolerir racun dari rokok,” jelas dr. Jeffry.

Lalu bagaimana caranya dr. Jeffry berhenti? Berbagai upaya pernah dilakukannya, seperti mengurangi rokok, mengganti rokoknya, selang-seling, dan berhenti merokok saat berkendara. Tapi tak ada satu pun yang berhasil.

“Ternyata untuk berhenti, bukan dengan cara mengurangi porsi merokok. Tapi total berhenti dan vakum sementara dari kopdar bersama teman-teman perokok,” kata dr. Jeffry.

Setelah 5 bulan terlepas dari rokok, dr. Jeffry merasakan perubahan yang signifikan. Mulai dari hidup lebih teratur, lebih nyaman, waktu lebih efisien, dan indra penciuman dan rasa jadi lebih peka.

Untuk berhenti ini, tambahnya, sangat dibutuhkan dukungan dari keluarga, terutama dari istri. “Emosi seorang perokok yang sedang berproses berhenti cenderung tidak stabil, karena itu usahakan untuk selalu membuat suasana senyaman mungkin bagi suami,” pungkasnya menutup sharing siang itu. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by