Dikisahkan, ketika Imam Ahmad bin Hanbal Ra atau dikenal juga sebagai Imam Hanbali telah berusia senja. Tiba-tiba saja beliau sangat ingin mengunjungi Bashrah di Irak. Padahal saat itu tak ada janji maupun hajat yang mengharuskan sang ulama ke sana.
Mengikuti keinginan hatinya, Imam Hambali pun berangkat sendiri menuju kota Bashrah dan sampai di sana pada waktu isya. Setelah ikut melaksanakan shalat isya berjamaah, Imam Hanbali berniat untuk istirahat di masjid tersebut.
Sayangnya, keinginan tersebut pupus. Seorang marbot mendatangi beliau dan menanyakan kepentingannya di masjid. Marbot itu tidak tahu jika orang di hadapannya adalah Imam Hanbali. Pun Imam Hanbali tidak memperkenalkan dirinya sebagai ulama.
Mendengar pertanyaan tersebut, Imam Hanbali menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”
Keinginan Imam Hanbali ditolak sang marbot. Beliau pun didorong keluar dari dalam masjid dan teras masjid, hingga ke jalanan. Ketika kejadian itu berlangsung, seorang penjual roti di samping masjid tak sengaja melihatnya sambil mengolah adonan roti. Ia pun menawarkan tempat tinggalnya untuk bermalam. Imam Hanbali pun menerima ajakannya dan masuk ke dalam kedai si penjual.
Selama menguleni adonan, sang penjual tidak banyak berbicara. Kebanyakan yang dilakukannya adalah beristighfar. Siapa sangka, kebiasaan ini telah berlangsung selama 30 tahun dan selama itu pula, tiada hajat yang ia minta, kecuali pasti dikabulkan Allah.
Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.”
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya “Apa itu?”
Ia pun menjawab “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal.”
Seketika, Imam Ahmad bin Hanbal bertakbir, “Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu.” (Source: Manakib Imam Ahmad)


