Bacaan istighfar tidak hanya dilantunkan ketika kita melakukan kekhilafan, atau meminta ampunan kepada Allah atas segala dosa dan maksiat yang pernah diperbuat. Bacaan istighfar memiliki keutamaan yang jauh lebih luas.
Bagi muslim yang senantiasa beristighfar dan menjaga dirinya dari perbuatan tercela, akan mengundang limpahan rahmat dari Allah Ta’ala. Mulai dari dimudahkannya segala urusan, diampuninya dosa, membersihkan hati hingga dikabulkannya doa, seperti kisah berikut.
Dikisahkan, ketika Imam Ahmad bin Hanbal Ra atau dikenal juga sebagai Imam Hanbali telah berusia senja. Tiba-tiba saja beliau sangat ingin mengunjungi Bashrah di Irak. Padahal saat itu tak ada janji maupun hajat yang mengharuskan Imam Hanbali ke sana.
Mengikuti keinginan hatinya, Imam Hambali pun berangkat sendiri menuju ke kota Bashrah dan sampai di sana pada waktu isya. Setelah ikut melaksanakan shalat isya berjamaah, Imam Hanbali berniat untuk istirahat di masjid tersebut.
Sayangnya, keinginan tersebut pupus. Seorang marbot mendatangi beliau dan menanyakan kepentingannya di masjid. Marbot itu tidak tahu jika orang di hadapannya adalah Imam Hanbali. Pun Imam Hanbali tidak memperkenalkan dirinya sebagai ulama.
Mendengar pertanyaan sang marbot masjid, Imam Hanbali menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”
Keinginan Imam Hanbali ditolak sang marbot. Karena ruang masjid adalah tempat untuk beribadah, bukan beristirahat. Imam Hanbali pun didorong keluar dari dalam ruangan dan teras masjid, hingga ke jalanan.
Ketika kejadian itu berlangsung, seorang penjual roti di samping masjid tak sengaja melihatnya sambil mengolah adonan roti. Ia pun menawarkan tempat tinggalnya untuk bermalam sang ulama. Imam Hanbali pun menerima tawarannya dan masuk ke dalam kedai si penjual.
Selama menguleni adonan, sang penjual tidak banyak berbicara. Ia hanya menjawab ketika ditanya saja. Selebihnya yang dilakukan oleh si penjual roti adalah beristighfar.
Imam Ahmad pun bertanya sudah berapa lama si penjual roti melakukan kebiasaan itu. Ternyata kebiasaan ini telah berlangsung selama 30 tahun dan selama itu pula, tiada hajat yang ia minta, kecuali pasti dikabulkan Allah.
Penjual roti ini kemudian membacakan sebuah hadits yang berbunyi, “Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir)
Lalu penjual roti itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.”
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya “Apa itu?”
Ia pun menjawab “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal.”
Seketika, Imam Ahmad bin Hanbal bertakbir, “Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu.”
(Source: Manakib Imam Ahmad)



