Sahabat, ayo menjadi muslim yang kaya. Semoga kekayaan yang kita miliki, kini dan nanti, berkah dan bisa menjadi manfaat bagi sesama.
Islam tak hanya memerintahkan umatnya untuk beribadah seperti sholat ataupun puasa. Lebih dari itu, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mencari kekayaan secara halal.
Dalam buku Konsep Ekonomi dalam Al Quran dijelaskan, salah satu prinsip dasar Islam adalah keyakinan setiap tingkah laku Muslim adalah cerminan dan manifestasi ibadah kepada Allah SWT.
Dengan demikian aktivitas Muslim tidak lepas dari hubungan vertikal dengan Allah SWT. Sebab itu, implikasi prinsip ini ialah kegiatan ekonomi tidak terlepas dari ibadah kepada Allah SWT.
Dengan demikian, kekayaan pun digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup manusia guna meningkatkan pengabdiannya kepada Allah SWT.
Al Quran tidak menentang kepemilikan harta sebanyak mungkin. Bahkan Al Quran secara tegas dan berulang-ulang memerintahkan agar manusia dapat berupaya sungguh-sungguh dalam mencari rezeki yang diistilahkan Al Quran dengan fadhlullah (limpahan karunia Allah).
Dalam QS Al Jumu’ah: 10, “Apabila sholat telah dilaksanakan, maka menyebarlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.”
Cerita Abdurrahman bin Auf
Pada zaman Arab jahiliyah, praktik riba telah tumbuh subur. Tapi, daripada meminjam ke rentenir atau menerima kemurahan hati saudagar terkaya di Madinah, Abdurrahman bin Auf justru memilih untuk berikhtiar sendiri di pasar.
Selepas hijrah dan menanggalkan semua harta bendanya di Mekkah, Abdurrahman dipertemukan Rasul dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Lantas ia menawarkan setengah harta dan salah seorang istrinya kepada Abdurrahman. Namun sikap Abdurrahman bin Auf sungguh di luar dugaan.
“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu,” jawab Abdurrahman setelah mendengar tawaran sang saudagar. “Cukup tunjukkan kepadaku di mana lokasi pasar berada,” lanjut beliau.
Selama di Madinah, Abdurrahman merintis usaha dari nol. Ia terkenal dengan usaha keju dan minyak samin. Tidak membutuhkan waktu lama, omzet perdagangannya menukik naik.
Tak berhenti di sana, Abdurrahman mengembangkan sayap menjadi saudagar lintas negara; dari Yaman, Syam, bahkan tak sedikit barang-barang yang didatangkan ke Madinah konon berasal dari wilayah China.
Tak hanya langkah kesuksesannya, dari sosok Abdurrahman bin Auf, kita juga belajar menjadi sosok dermawan. Selama hidupnya, beliau menyedekahkan setengah hartanya. Lalu bersedekah sebanyak empat puluh ribu dinar. Pun ia menghibahkan lima ratus kuda dan lima ratus unta. Dalam literatur lain disebutkan, dalam sehari ia memerdekakan tiga puluh budak.
Masya Allah. Meski berlimpah kekayaan, hal itu tak menjadikan Abdurrahman sosok yang bakhil. Hartanya justru dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah. Semoga kita bisa meneladani sosok beliau dalam keseharian kita. Aamiin. (Source: iqra.id)
www.sinergifoundation.org



