Setiap kali memasuki bulan suci Ramadhan, kita sering mendengar ungkapan populer bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Dalil ini kerap dijadikan “senjata” bagi sebagian orang untuk menghabiskan waktu dengan rebahan atau bermalas-malasan sepanjang hari. Namun, bagaimana sebenarnya kedudukan hadis tersebut dalam pandangan keilmuan? Mari kita simak!
Memang secara hukum fikih, tidur seharian tidak membatalkan puasa, selama saat fajar (subuh) ia sudah berniat dan dalam keadaan berpuasa. Penting untuk digarisbawahi bahwa tidak semua tidur saat puasa itu baik. Tidur bisa berubah status hukumnya menjadi makruh atau bahkan maksiat jika dilakukan secara berlebihan hingga melalaikan kewajiban.
Imam Ahmad ibn Hajr al-Haitami memperingatkan, tidur yang sengaja dilakukan hingga meninggalkan waktu shalat fardhu atau mengabaikan tanggung jawab nafkah adalah bentuk kelalaian yang berdosa. Pasalnya, Ramadhan bukanlah bulan untuk bermalas-malasan, melainkan bulan perjuangan (jihad).
Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan jika sebenarnya salah satu adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari agar kita tetap merasakan rasa lapar dan haus sebagai esensi dari puasa itu sendiri
Namun sebelum lebih jauh, mari kita telusuri hadis-hadis yang berkaitan dengan tidur adalah ibadah di bulan Ramadhan. Pandangan tidur adalah ibadah ini sebetulnya merujuk pada hadis yang sangat populer yang berbunyi: “Tidurnya orang puasa ialah ibadah, diamnya ialah tasbih, doanya mustajab, dan amalnya dilipatgandakan.”
Berdasarkan keterangan para ulama hadis, termasuk Imam Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ahaditsul Ihya, hadis ini memiliki derajat dhaif (lemah). Meskipun secara makna ada sisi benarnya—yakni tidur lebih baik daripada melakukan maksiat saat puasa—akan tetapi hadis ini tidak boleh dijadikan pembenaran untuk bermalas-malasan.
Bahkan, dalam jalur periwayatan lain melalui Abu Manshur ad-Dailami, terdapat perawi bernama Sulaiman bin Amr an-Nakhai yang dikenal sebagai salah satu pembohong (kadzabin), sehingga sebagian ulama menggolongkannya sebagai Hadis maudhu’ (palsu).
Ketua Divisi Fatwa PP Muhammadiyah, Ruslan Fariadi dalam kajiannya, mengutip Takhrij al-Iraqi Ihya’ Ulumuddin I/232. Di buku tersebut ditegaskan jika hadis ini tidak bisa dijadikan sandaran hukum karena kualitasnya yang lemah.
Lalu Kapan Tidur Bisa Bernilai Ibadah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ulama menjelaskan jika secara substansi, tidur bisa bertransformasi menjadi ibadah melalui mekanisme niat. Karena, di dalam kaidah fiqh, perkara mubah (seperti makan dan tidur) dapat bernilai pahala jika diniatkan sebagai sarana (wasilah) untuk ketaatan.
Syaikh Zain al-Abidin bin Ibrahim bin Nujaim menjelaskan bahwa jika tidur dimaksudkan untuk menghimpun energi agar kuat melaksanakan shalat tarawih atau tadarus, maka tidur tersebut menjadi ibadah. Senada dengan itu, Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Tanqih al-Qaul menekankan bahwa tidur adalah media pembantu (yasta’inu bihi) untuk menjalankan aktivitas vertikal kepada Allah.
Kedua, tidur seorang muslim juga bisa dikategorikan sebagai pahala, tatkala tidurnya diniatkan untuk menghindarkan diri dari maksiat, Selain untuk mengumpulkan energi, seperti yang dibahas sebelumnya, tidur di siang hari Ramadhan bisa dianggap ibadah jika tujuannya adalah untuk menghindari maksiat atau dalam ilmu fikih disebut ibadah salbiyah.
Syaikh Athiyah Shaqr (Mantan Ketua Komite Fatwa Al-Azhar) menjelaskan konsep “Ibadah Salbiyah”. Jika seseorang khawatir interaksinya di luar rumah akan menjerumuskannya pada ghibah (gosip), berbohong, atau melihat hal yang haram, maka tidur menjadi pilihan yang lebih baik.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw., bahwasannya menahan diri dari keburukan adalah sedekah bagi dirinya sendiri. Dari Abu Musa Al Asy’ariy RA berkata, Nabi Muhammad Saw., bersabda: Hendaklah menahan diri dari keburukan, karena sesungguhnya itu adalah shadaqah.”
Kesimpulan
Tidur baru bernilai ibadah ketika disertai niat yang baik, seperti untuk menjaga diri dari maksiat atau mengumpulkan energi agar lebih kuat menjalankan ibadah. Karena itu, seharusnya bulan Ramadhan diisi dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak amal, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperbanyak sedekah dan berbagi kebaikan kepada sesama melalui Sinergi Foundation, agar keberkahan Ramadhan semakin terasa bagi diri sendiri dan juga bagi mereka yang membutuhkan.



