Di zaman kejayaan Islam, wakaf tidak hanya berperan dalam menyediakan sarana beribadah muslim. Bahkan pada masa kepemimpinan Nuruddin Zanki, keilmuan amat berkembang pesat.

Perkembangan wakaf di bidang keilmuan ini diutamakan karena memiliki tujuan besar, yakni menyatukan umat Islam di bawah satu kepemimpinan. Sebab di masa tersebut, umat Islam menghadapi 2 gempuran permasalahan yang merusak, baik secara internal, maupun eksternal berupa penyerangan pasukan salib.

Karena itu di masa tersebut pembangunan sekolah berbasis wakaf bagi cari ilmu amat masif. Ditandai dengan adanya pusat-pusat pengajaran, pendidikan, dan pengembangan penulisan.

Ada begitu banyak lembaga pendidikan yang mahsyur di zaman dinasti Zanki, di antaranya; Lembaga Al Malik Saifuddin Ghazi yang didirikan di Mosul oleh Al Malik Saifuddin Ghazi bin Imaduddin (541-544 H). Lembaga Al Wazir Jamaluddin Al Ashfahani dan Wzir Al Amir Ghazi, lembaga ini dinisbatkan kepada Al Wazir Al Mushili Jamaluddin Muhammad bin Ali Al Ashfahani yang dikenal sebagai sosok dermawan.

Panti asuhan pun turut diperhatikan, bahkan termasuk dalam daftar wakaf terpenting yang dikembangkan. Nurudin Mahmud RAH mengangkat sejumlah pengajar untuk mendidik anak-anak yatim muslim. Para pengajar ini pun diberikan gaji yang memadai.

Kebijakan ini tak hanya terbatas di ibukota negara saja, tetapi menjangkau hingga wilayah Sinjar, Harran, Raha, Raqqah, Manbaj, Syairaz, Hamah, Himsh, Ba’labak, Sharkhad, Tadmur dan lainnya.

Ibnu Jubair mengungkap tentang satu panti dalam paparannya dalam Rihlah Ibnu Jubair, beliau berkata, “Anak-anak yatim mendapat perhatian yang besar dari negara dengan mengalokasikan dana wakaf yang juga cukup besar. Pengajar mengalokasikan dana itu untuk mereka guna menopang kehidupan mereka dan membiayai anak-anak terkait kebutuhan sehari-hari termasuk pakaian mereka.”

Di masa ini juga dikenal dengan banyaknya kitab yang diwakafkan untuk para pelajar, termasuk menjamin keterjagaannya melalui orang-orang yang menyampaikannya, para pelajar yang mempelajarinya, dan para penulisnya, serta melakukan pembaruan pada banyak hal yang diperuntukkan di jalan Allah.

Hal tersebut menjadi bukti atas perhatian Zanki terhadap pendirian perpustakan-perpustakaan umum yang dibiayai dengan dana wakaf yang melimpah pada masa itu.

Perkembangan keilmuan tidak berhenti di sana, Zanki beserta para amir dan atabik mereka melakukan perluasan dan membangun sekolah wakaf. Para pelajar pun beralih sesuai tahapan-tahapannya. Secara kedudukan, sekolah ini menjadi serupa dengan perguruan tinggi dan fakultas kejuruan yang meliputi semua bidang keilmuan.

Jika seorang anak telah menyelesaikan pendidikannya di lembaga pengasuhan, maka selanjutnya ia pindah ke sekolah –jika hendak melanjutkan pendidikannya– dan ia tetap mendapatkan tunjangan secara berkelanjutan hingga pendidikannya selesai.

Masya Allah, luar biasa sekali ya peranan wakaf dalam pendidikan. Bahkan anak-anak yatim pun dapat mengenyam pendidikan tinggi hingga menjadi muslim yang berkualitas.

Dan hari ini pun kita bisa melakukan hal serupa dengan berwakaf di program Kuttab Al Fatih – Sinergi Foundation. Insya Allah, dari program ini akan lahir generasi muslim beradab mulia juga seorang tahfidz.

KLIK LINK bit.ly/kuttabsinergi untuk berdonasi wakaf mendukung perkembangan Kuttab Al Fatih di Sinergi Foundation!

Source: disarikan dari buku Yang Mengagumkan dari Wakaf dalam Peradaban Islam, Dr. Ragib As Surjani

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!