Meskipun muslim di Singapura menjadi bagian minoritas, namun tak sedikit pun hal tersebut mengikis semangat mereka untuk berwakaf.
Hal tersebut terlihat dari pengelolaan wakaf di Singapura yang dilakukan secara maksimal, sehingga banyak aset wakaf mereka tak hanya bermanfaat bagi kaum yang membutuhkan tapi juga menyokong ekonomi negara.
Aset wakaf yang tercatat pertama kali di negeri kepala singa tersebut adalah wakaf dari seorang pedagang dari Palembang keturunan Hadramaut, Yaman, bernama Syed Sharif Omar bin Ali Aljunied pada tahun 1820.
Dilansir dari jurnal Pengembangan Harta Wakaf di Singapura karya Fahruroji, pada tahun tersebut Syed Omar bin Ali Aljunied mewakafkan tanahnya yang terletak di tepi selatan Sungai Singapura tepatnya berada di Keng Cheow Street off Havelock Road, dan kemudian beliau mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Omar Kampung Melaka. Masjid ini merupakan wakaf pertama sekaligus sebagai masjid pertama yang dibangun di Singapura.
Pun beliau mewakafkan tanahnya dan membangun masjid di Bencoolen Street, membuat sumur dekat Fort Canning untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Beliau juga mewakafkan sebidang tanah miliknya di daerah Victoria Street untuk tempat pemakaman.
Selanjutnya pada tahun 1844, beliau mewakafkan tanah dan ikut membangun Rumah Sakit Tan Tock Seng yang berada di Victoria Street dan Arab Street (Zaki Halim Mubarak, 2014, 37). Gerakan filantropis itu kemudian diikuti oleh para pedagang India hingga suku Bugis, Indonesia.
Aset-aset wakaf tersebut kemudian dikembangkan menjadi lebih produktif oleh Warees Investment Pte Ltd. Warees merupakan perusahaan manajemen aset wakaf dibentuk oleh MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) pada tanggal 26 September 2001.
Warees berperan melaksanakan fungsi komersial dalam mengelola dan mengembangkan aset wakaf, merevitalisasi aset wakaf yang tidak produktif agar menjadi aset wakaf produktif atau bernilai komersial.
Sebab pada mulanya, sebagian besar aset wakaf di Singapura dikembangkan dalam bentuk yang tidak produktif, seperti untuk masjid dan madrasah. Aset-aset wakaf yang tidak produktif tersebut, oleh Warees direvitalisasi atau direnovasi menjadi aset wakaf produktif.
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang mengganti objek wakaf (Istibdal wakaf). Di Singapura sendiri MUIS mengeluarkan fatwa yang isinya istibdal diperbolehkan untuk mengamankan aset wakaf yang terbengkalai. Tentunya ini mempertimbangkan berbagai mudharat dan maslahat dari apa yang dilakukan.
Misalnya seperti masjid Bencoolen. Dilansir dari republika.co.id, masjid ini direvitalisasi menjadi masjid modern dengan 3 tingkat bangunan komersial dan 12 tingkat apartemen yang memiliki 103 unit apartemen lengkap dengan berbagai fasilitasnya.
Demikian juga dengan Masjid al Huda yang terletak di Jalan Haji Alias, direvitalisasi menjadi masjid dengan struktur modern dan bangunan vila 3 lantai sebanyak 6 unit. Bahkan masjid ini masjid dapat menampung jamaah dua kali lipat dari sebelumnya (dari 200 menjadi 350). Dibuat pula area khusus untuk perempuan, kantor, dan fasilitas lain.
Pun wakaf Red House dari Sheriffa Zain Alsharoff Alsagoff, anak dari Syed Mohamad Alsagoff dan istrinya yang bernama Sharifah Alaweah turut direvitalisasi oleh Warees. Yang awalnya terdapat 6 properti pada kompleks redhouse yaitu 5 toko dan 1 bangunan ikonik redhouse. Melalui skema Warees, kompleks ini dikembangkan menjadi 42 unit residensial, 5 toko, 1 bakery, dan 1 open gallery.
Dilansir republika.co.id, dari jumlah 156 aset wakaf yang ada di Singapura dengan nilai S$769 juta, Warees mengelola sebanyak 85 aset wakaf, sisanya sebanyak 71 aset wakaf dikelola oleh mutawalli (nazhir).
Setiap tahun, hasil bersih yang diperoleh dari pengelolaan aset wakaf disalurkan kepada penerima manfaat wakaf (maukuf alaih), seperti masjid, madrasah, lembaga sosial, fakir miskin, dan layanan pemakaman.
Penyalurannya bahkan hingga ke luar negeri. Sebagai contoh tahun 2014 telah disalurkan untuk penerima manfaat wakaf sebanyak S$2.823.223. Dari jumlah tersebut, sebanyak S$355.021 disalurkan ke luar negeri. Masya Allah!
Source: dbs



