Lisa dan Keteladanan Ibu. ibu

Lisa dan Keteladanan Ibu

Lisa, seorang manajer promosi sebuah perusahaan busana. Dia bersentuhan dengan berbagai dunia yang sebagian orang mengatakan dunia yang tidak terlalu aman. Pergaulan yang cukup bebas, jam kerja sampai larut malam serta interaksi dengan berbagai kelompok orang. Tapi diam-diam dia bangga kepada dirinya sendiri bahkan sejak kuliah dia merasa sangat mampu menjaga diri. Kalau pulang agak larut ada rasa takut di dalam hatinya. Takut dimarahi ibunya, padahal ibunya jauh di luar kota sana. Kalau ada godaan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar, dia merasa tidak berhak, takut kalau-kalau ibunya menanyakan.

Suatu waktu Lisa berjumpa dengan kakaknya, lalu dia berkata, “Ibu kita beruntung ya.”

“Apa maksudmu?” tanya kakaknya.

“Ya… ibu kita ibu yang beruntung karena punya anak-anak yang baik seperti kita. Kita tidak dugem, kita tidak bergaul bebas, kita tetap memegang norma-norma kehidupan kita, kita tetap memegang ajaran agama kita meskipun kita jauh dari ibu. Tidak seperti anak-anak sekarang yang bahkan masih dekat dengan ibunya pun mereka kelihatan mudah sekali tergoda.”

Kakaknya tercenung mendengar kata-kata Lisa kemudian bertutur, ”Neng, mungkin yang terjadi tidak pas betul seperti itu.”

“Maksud Teteh?”

“Yah, teteh sudah punya anak dan teteh sekarang merasakan betapa tidak mudah mendidik anak. Betapa tidak mudah menanamkan nilai-nilai benar kepada anak. Betapa tidak mudah mengajarkan kepada anak untuk selalu taat kepada Allah bahkan sekalipun ketika tidak ada makhluk yang melihat. Lantas teteh merenung mengapa kita jadi anak-anak yang baik. Mengapa kita bisa menjaga diri? Mengapa kita tidak tergoda oleh kehidupan duniawi yang begitu menjerumuskan? Mengapa ketika jauh dari ibu, kita tetap bisa menjaga diri kita?”

Lisa terdiam ketika kakaknya bercerita tentang pengalaman menjadi seorang ibu tadi.

Lisa bertanya, ”Kalau begitu, apa rahasianya hingga kita tetap bisa menjadi anak yang baik?”

Kakaknya berkata, ”Ingat tidak Neng? Ibu kita setiap malam tahajud. Mendoakan kita sejak kita kecil. Kita ada di dekat ibu, ibu sholat malam mendoakan kita. Kita jauh dari ibu, ibu pun bangun sholat malam mendoakan kita. Di saat-saat kita ujian ibu shaum sambil mendoakan kita. Dalam sholatnya ibu mendoakan kita. Jadi, mungkin bukan ibu yang beruntung. Tapi kita yang beruntung punya ibu seperti ibu kita.”

“Kita bisa seperti sekarang bukan semata-mata karena usaha kita. Kita menjadi seperti ini karena ibu bukan hanya mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Tapi ibu juga mencontohkan nilai-nilai kebenaran. Bukan karena semata-mata kita pandai menjaga diri dan memilah mana yang benar dan mana yang salah tapi juga karena ibu senantiasa mendoakan kita. Ibu bangun di malam hari untuk itu. Neng, tidak mudah menjadi ibu seperti ibu kita. Teteh juga belum bisa seperti ibu, bangun tiap malam mendoakan anak-anaknya, mendoakan suami, mendoakan keluarga yang lain.”

“Bukan ibu yang beruntung punya anak seperti kita. Kitalah yang beruntung punya ibu seperti beliau. Kita harus berusaha menjadi seperti ibu kita. Bangun di sepertiga malam terakhir, shaum dengan penuh keikhlasan, mendoakan anak-anaknya yang sedang ujian. Menjadi ibu yang seperti itu tidak mudah.”

“Semoga kita bisa meniru ibu kita,” tutup sang kakak dalam obrolan itu. []

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by