“La ilaha illallah, ini bencana yang berat sekali,”

“Waktu gempa yang 7 SR itu, saya bawa orang sampe 70 orang untuk lari dari wilayah Embar-Embar. Waktu itu kami lari kencang sekali, bawa anak-anak dan lansia yang sudah tak kuat jalan. Taunya, saya justru mengarahkan mereka ke jalan buntu, saking paniknya. Kami khawatir tsunami datang.”

“Terus gimana pak?”

“Setelah beberapa kilo, kami berhenti di satu lapangan. Tidur tanpa atap atau alas. Lansia yang sakit-sakitan minta air, tapi saya nangis karena gak bisa ngasih. Besok-besoknya, kami akhirnya mengungsi ke Akar-Akar ini. La ilaha illallah, ini bencana yang berat sekali,”

“Apa yang menguatkan bapak?”

“Keluarga. Saya punya anak dan cucu. Saya yakin, kalo banyak meminta pada-Nya, kita bisa membangun kembali.”

— Saarudin, pengungsi di Akar-Akar, Lombok Utara.

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.