kurban, Green Kurban, kurban, ibadah, kurban, green kurban, idul adha

Kurban, Simbol Tauhid hingga Ajang Silaturahim

Sudah dari jauh-jauh hari, Nabi dan sahabat menyiapkan hewan kurbannya. Beberapa kali nabi berkurban termasuk saat beliau berhaji untuk pertama dan terakhir kalinya di Haji Wada. Setelah lempar jumrah, dari Mina, Nabi bertolak ke lokasi penyembelihan kurban. “Hari Tasyrik adalah waktu penyembelihan,” kata Nabi seraya menyembelih 63 ekor unta gemuk.

“Bagikanlah daging, kulit, dan pakaian unta-unta itu kepada orang-orang,” ungkapnya. Untuk setiap istrinya, Nabi menyembelih seekor sapi, karena mereka melaksanakan haji tamattu dan wajib menyembelih hewan kurban.

Saat di Madinah, nabi pun menyiapkan hewan kurban yang sehat dan gemuk. Sahabat Nabi, Abu Umamah berkata, “Kami dahulu menggemukkan hewan kurban di Madinah, begitu pula kaum muslimin.”

Sahabat kesohor Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat “Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj:32) mengatakan, “Pengagungan Syiar Allah dalam ibadah kurban adalah dengan menggemukkan hewan kurban, membesarkan dan  membaguskan badannya.”

Hewan kurban yang sehat dan gemuk siap disembelih di tempat shalat Id. Berjubel kaum muslimin melihat ibadah kurban yang merupakan syiar kaum muslimin. Terkadang satu hewan kurban untuk satu orang, satu keluarga atau bahkan banyak orang.

Sahabat yang mulia Abu Ayyu mengenangnya, “pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi  )

Bahkan, sang Nabi sendiri berkurban untuk dirinya sendiri dan kita, umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing kurban. Sebelum menyembelih beliau mengatakan:”Yaa Allah ini – kurban – dariku dan dari umatku yang tidak berkurban.” (HR. Abu Daud dan Al Hakim).

Nabi mencontohkan menyembelih dengan tangannya sendiri, menyebut asma Allah dan bertakbir. .“Nabi pernah berkurban dengan dua kambing berwarna belang dan bertanduk, beliau menyembelih dengan kedua tangan beliau sendiri, dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kaki beliau di atas sisi tubuh kedua kambing itu,” kata Anas bin Malik.

Nabi pun menikmati sajian daging kurban setelah disembelih. Beliau memerintahkan agar daging kurban dapat dinikmati seluruh kaum muslimin.

“Kemudian apabila unta itu telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36).

“Makanlah kalian (dari daging kurban) dan ambillah (sebagian) untuk bekal perjalanan, dan simpanlah (sebagian yang lain),” kata Nabi. (HR. Muslim). “Makan, simpan dan bersedekahlah kalian (dari kurban kalian),” katanya dalam riwayat lain.

Bersama kaum muslimin, Nabi menikmati hidangan kurban, bahkan beliau memerintahkan agar daging langsung dimasak. “Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil dari setiap unta tersebut sepotong daging dan dikumpulkan di satu kuali, setelah matang beliau makan sebagian dagingnya dan minum kuahnya,” kata Jabir. (HR. Muslim: 1218).

Beliau mewanti-wanti bahwa tukang sembelih kurban tidak diberikan bagian dari hewant tersebut. Ali berkata, Rasulullah memerintahkan aku untuk mengurus kurban-kurbannya dan agar aku bersedekah dengan dagingnya, kulit, dan apa yang dikenakannya (yaitu apa-apa yang dikenakan hewan tersebut untuk berlindung denganya) dan aku tidak boleh memberi tukang sembelih sedikitpun dari hewan qurban tersebut”. Beliau bersabda: “Kami akan memberikannya dari sisi kami (HR. Muslim).

Hari raya Idul Adha atau Idul Kurban menjadi ajang silaturahim kaum muslimin, kaum fakir menikmati nikmatnya daging bersama, semua saling bertakbir, memuji Allah. Di hari ceria ini, semua larut dalam kegembiraan bersama. (mr/dbs)

Ayo Berbagi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

Assalamu'alaikum! Silakan tinggalkan pesan Anda, Sinergi Consultant kami siap untuk membantu.
Powered by