Tidak ada yang berbeda dari rutinitas Pak Karim hari itu. Berangkat pukul 8 pagi, Pak Karim mendorong gerobak bubur sumsumnya melalui jalanan yang biasa menjadi tempatnya berjualan.
Ketika menjajakan dagangan di sekitar jalan Cikutra dan dipanggil dua orang pemuda pun Pak Karim masih tak punya prasangka apapun. Ia menanggapi pertanyaan yang diajukan tanpa menduga ada sesuatu di balik semua pertanyaan tersebut.
Pak Karim bercerita, usianya 61 tahun dan ia datang dari Tasik. Kedatangannya ke Bandung membawa harapan akan kondisi ekonomi dan peluang usaha yang lebih baik di kampung halaman.
Sejak merantau ke Bandung dari tahun 1980, Pak Karim sudah melakoni berbagai pekerjaan demi menafkahi keluarganya. Mulai dari buruh pabrik, berdagang bakso, hingga menjual bubur sumsum.
Rasa rindu yang bertumpuk di dalam hati akibat jauh dari keluarga pun ditahannya. Semuanya ia lakukan untuk menambah pemasukan yang bisa dikirim kepada keluarga.
Namun, yang bisa ia hasilkan di perantauan tak banyak. Sebagai pedagang, penghasilannya tidak menentu. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini. Pendapatan yang hanya sedikit itu pun harus ia bagi lagi untuk modal berjualan, kebutuhan hidupnya, dan kebutuhan hidup keluarganya.
Akan tetapi, akan selalu ada kebaikan dan rezeki yang menghampiri orang-orang yang sabar dan tak berhenti berusaha.
Hari itu, Pak Karim bisa pulang lebih cepat dengan hati yang penuh rasa syukur. Dua pemuda yang memanggilnya tersebut rupanya tak hanya berniat membeli satu-dua porsi, melainkan memborong seluruh sisa bubur sumsum yang masih dibawa Pak Karim.

“Bersyukur pisan, bersyukur. Alhamdulillah. Hatur nuhun.” Pak Karim berulang kali mengutarakan rasa terima kasihnya.
Sahabat, kebahagiaan ini bisa sampai kepada Pak Karim karena sinergi kebaikanmu. Semoga, jalinan kebaikan ini bisa terus meluas, merangkul lebih banyak pencari nafkah di luar sana.
