gempa bumi, bencana alam, shalat jum'at

Cara Mukmin Hadapi Gempa

Kehidupan manusia di dunia ini hampir tak pernah sepi dari musibah yang datang silih berganti. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang ringan sampai yang berat. Dari yang sedikit hingga yang banyak. Ada musibah yang bersifat individu dan ada yang bersifat umum.

Dan hari ini, kita bisa menyaksikan betapa dahsyatnya musibah yang Allah turunkan terhadap saudara-saudara kita di belahan negeri. Di saat rehabilitas pasca gempa Lombok belum selesai, Allah Ta’ala kembali menurunkan gempa yang disusul tsunami di Palu, Donggala, Sulawesi Tengah. Entah berapa jumlah korban yang meninggal dalam bencana itu. Mungkin mencapai ribuan nyawa lenyap ditelan bumi.

Sebagai umat Islam, kita tentu berharap bahwa sekecil apapun bentuk musibah dapat mengundang kasih sayang Allah kepada kita. Kita yakin bahwa dibalik itu ada hikmah yang hendak Allah inginkan untuk kita.  Karena itu, kita tidak patut untuk menyesalkan diri lalu putus harapan untuk berjuang. Sikap optimisme seperti ini harus selalu menyertai kita. Entah bagaimanapun keadaannya. Karena begitulah karakter umat Islam yang sesungguhnya. Sebagaimana sabda Rasul SAW:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR. Muslim)

Lalu apa yang perlu kita perhatikan saat musibah melanda kita? Setidaknya ada dua hal pokok yang harus kita lakukan bila musibah menimpa kita.

Pertama:  Tetap Optimis dan Tidak Mengeluh atau Mencela Musibah

Seorang mukmin selalu berbaik sangka terhadap taqdir yang menimpa dirinya. Keyakinan ada Allah di balik setiap musibah merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin sukses lulus dari ujian dan cobaan Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: At-Taghâbun [64]: 11).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz. 8, hal. 137, menjelaskan, “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah Ta’ala tersebut, maka Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

Karena itu, rasanya tidak pantas jika kita sebagai makhluk Allah menyalahi segala ketetapan yang Allah turunkan. Baik itu berupa kenikmatan ataupun cobaan. Justru dengan musibah itu kita yakin bahwa Allah peduli dan sayang terhadap kita.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dalam sebuah hadis beliau bersabda:

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho terhadap ujian tersebut maka baginya ridha Allah dan barang siapa yang marah terhadap ujian tersebut maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam hadis lain Rasulullah SAW menegaskan, “Tidak ada musibah yang menimpa umat Islam hingga sekecil duri menusuknya, melainkan Allah Azza wa Jalla akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedua: Segera Intropeksi diri (Bermuhasabah)

Selain mengharap pahala dibalik musibah yang menimpa, kita juga perlu bermuhasah terhadap apa yang telah kita lakukan. Sebab, boleh jadi gempa atau tsunami merupakan bagian dari teguran Allah terhadap amal kita selama ini. Sejatinya, semua musibah yang terjadi di alam ini, berupa gempa, banjir, tsunami dan sebagainya tidak lain disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS. Asy-Syuura: 30)

Makanya kita bisa melihat betapa para salaf shalih begitu takut saat musibah terjadi. Bahkan Rasulullah SAW sendiri mencontohkan demikian. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!”

Demikian juga dengan Khalifah Umar bin Khattab, Ketika gempa melanda kota Madinah, beliau berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!” 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Demikian para salah mencontohkannya. Ketika musibah terjadi, Selain bersabar dan mengaharap magfirah dari Allah, kita juga patut bermuhasabah. Melihat-lihat kembali apa yang pernah kita lakukan sehingga musibah itu Allah Ta’ala turunkan di atas kita. Sehingga dengan seperti itu, kita selalu dekat dengan petunjuk dan ridha dari Allah Ta’ala.

Dikutip dari: www.kiblat.net

Berbagi & Bersinergi untuk Manfaat Tiada Henti

Masukan Email Anda

untuk mendapatkan informasi berkala.

×
Assalamualaikum! Silahkan Tinggalkan Pesan anda di sini dan kami akan segera merespon pesan anda segera.