Pendidikan yang menjadi pintu gerbang seseorang meraih cita-citanya, nyatanya tak semudah itu dinikmati. Sebab memang, pendidikan dan kemiskinan nampaknya masih juga belum berjalan rukun di tengah-tengah kita.

Pendidikan menjadi salah satu sorotan di negara ini. Ternyata masih banyak permasalahan yang terjadi di sektor pendidikan, salah satunya adalah kesulitan membayar biaya pendidikan yang mengarah pada kasus penahanan ijazah sekolah.

Sinergi Foundation mencoba menghadirkan solusi dari permasalahan pendidikan tersebut. Beberapa layanan yang dihadirkan antara lain bantuan advokasi dan partisipasi pembayaran tunggakan hutang pendidikan sekolah. Bantuan tersebut ditujukan kepada anak-anak dari keluarga dhuafa pada jenjang pendidikan SD hingga SMA.

Seperti yang dialami oleh Pak Fi’i (37), seorang tuna netra dengan segudang keahlian dan semangat yang tinggi. Ia berjuang melunasi tunggakan kuliahnya.

Motivasinya yang tinggi, membuatnya terus berjuang menempuh pendidikan. Baginya pendidikan adalah gerbang menuju kemuliaan. Pendidikan bisa mengantarkannya menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

(Foto : Pak Fi’i saat berada di kampusnya di STAI Syamsul Ulum Sukabumi)

Ia terdaftar sebagai mahasiswa semester 8 di STIP Syamsul Ulum, Kota Sukabumi. Tekad yang kuat untuk lulus sarjana, membuatnya berjuang keras menerjang keterbatasan.

Berasal dari keluarga dengan ekonomi serba pas-pasan, Pak Fi’i harus banting tulang demi bisa meraih gelar sarjana. 

Ia bekerja sebagai tukang pijat. Selain itu ia pun mengerjakan project freelance sebagai marketing online. Ia merasa harus bekerja keras demi menghidupi keluarga dan melunasi hutang kuliahnya.

(Foto : Pak Fi’i sedang melayani pijat untuk pelanggannya)

Meski dengan segala keterbatasan itu, Pak Fi’i tetap optimis. Ia juga dikenal sebagai mahasiswa aktif dan cerdas. Ia bisa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosennya.

(Foto : Aktivitas Pak Fi’i ketika kuliah online dan bekerja sebagai freelance marketing online)

“Fi’i ini mahasiswa yang pekerja keras. Kami berikan kelonggaran agar dia bisa berkuliah dari rumah secara online. Dan dia bisa menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya dari dosen”, ujar Bu Fenty Setiawati S.Ag, MA, Ketua Prodi Fakultas Pendidikan Agama Islam, STAI Syamsul Ulum, yang kini sudah berganti nama menjadi Institut K.H. Ahmad Sanusi Sukabumi.

Bu Fety pun menilai Pak Fi’i adalah pekerja keras. Ia berkeinginan kuat bisa lulus kuliah agar bisa memberikan hidup yang lebih baik juga untuk anak-anaknya.

(Foto : Pak Fi’i saat sedang berkonsultasi dengan Dosen Kaprodinya)

Sahabat,  Pak Fi’i dan jutaan siswa di Indonesia yang mempunyai latar belakang keluarga dhuafa mengalami permasalahan yang tak jauh berbeda.

Sedekah dari Sahabat bisa bantu selamatkan dhuafa yang terancam putus sekolah! Mari menjadi penyambung nafas dan pembuka pintu gerbang untuk cita-cita Agustinus dan jutaan siswa di Indonesia yang menunggak SPP sekolah!

 

 

Disclaimer : 20% Dana yang terhimpun melalui program ini, juga akan disalurkan untuk kegiatan syiar dakwah kelembagaan, sebagaimana yang tercantum dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan.

Bantuan untuk Biaya Sekolah Beri Keringanan untuk Anak yang Hidup bersama Ayah Tunggal yang Berjuang Sendiri Hidupi Keluarga

Hidup dan tumbuh besar tanpa kehadiran seorang ibu pasti terasa begitu sulit.

Sejak masih berada di kelas 1 SD, Kamaludin telah kehilangan sosok sang ibu. Bertahun-tahun, ia hanya tumbuh bersama kedua saudara kandungnya dan sang ayah yang berjuang seorang diri menghidupi keluarga.

Pak Onda, ayahnya, memikul dua tanggung jawab di rumah, yakni mencari nafkah dan menggantikan peran ibu dalam keluarga. Bertahun-tahun, ia membesarkan tiga orang anaknya tanpa kehadiran istri di sisi. Ia bekerja keras sebagai maklun pembuat sepatu untuk menghidupi anak-anaknya. Berupaya memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan untuk menopang pertumbuhan mereka dengan baik.

Tapi, penghasilan yang tak menentu membatasi Pak Onda untuk memberikan yang terbaik. Meski sebenarnya tak ingin, ia terpaksa menunggak biaya pendidikan Kamaludin.

Kamaludin pun tak pernah berani meminta, tahu betul bagaimana kerasnya upaya sang ayah. Meskipun sesungguhnya, keinginan untuk belajar dan bersekolah itu senantiasa ada.

Alhamdulillah, pertolongan datang tepat saat dibutuhkan. Rezeki untuk membayar biaya pendidikan Kamaludin Allah titipkan melalui donasi Sahabat Sinergi. Bantuan tersebut mengangkat sedikit beban yang dipikul Pak Onda, sekaligus memberikan kesempatan bagi Kamaludin untuk melanjutkan sekolah dengan tenang.

Sempat Bingung Melanjutkan Sekolah Tanpa Beasiswa, Kebaikanmu Jadi Jalan Selamatkan Mimpi dan Keinginan Fitri untuk Terus Bersekolah

Kekecewaan dan rasa bersalah mungkin memenuhi kepala Fitri Nur Aini ketika mengetahui dirinya tidak lagi menerima beasiswa. Alasannya, Fitri tergeser dari posisi ranking di kelas.

Bukan karena ia malas ataupun sengaja; Fitri selalu rajin belajar dan bekerja keras untuk mempertahankan rankingnya. Sayangnya, mungkin kali ini rezeki itu milik orang lain.

Padahal, selama menempuh pendidikan sebagai siswa kelas 1 dan 2 di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Burhan Bandung, Fitri bisa belajar tanpa beban karena adanya sokongan dana beasiswa.

Karena tidak lagi mendapat beasiswa, Fitri harus membayar biaya pendidikan yang tidak sedikit. Hatinya diliputi dilema, sebab penghasilan sang ayah yang bekerja sebagai pedagang sempol hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Bulan demi bulan berlalu. Masih tak terkumpul cukup uang untuk membayar biaya pendidikan Fitri. Sementara biaya yang tak bisa dibayar itu pun terus menumpuk dan menumpuk hingga semakin tak tergapai.

Pada akhirnya, kebaikanmu lah yang menggapai Fitri, menyelamatkan mimpi dan keinginan kuatnya melanjutkan pendidikan. Fitri terbebas dari sebagian tunggakan yang menjerat ia dan keluarganya.

Sahabat, doakan ya, supaya pendidikan Fitri lancar terus tanpa hambatan. Dan supaya ia mampu menggapai mimpinya kelak.