Dari Desa Maparah, Harapan Itu Tumbuh

Di sebuah sudut tenang di Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, berdiri sebuah asrama sederhana bernama Istana Yatim. Tempat ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah rumah bagi anak-anak yatim dari keluarga dhuafa yang sempat berada di titik rawan: terancam putus sekolah, kurang bimbingan, dan minim dukungan.

Istana Yatim hadir karena satu keresahan: bagaimana nasib anak-anak ini jika tak ada yang memeluk masa depan mereka?

Bukan Hanya Tempat Tinggal

Di sini, anak-anak tidak hanya diberi tempat berteduh. Mereka dibina akhlaknya, dikuatkan nilai keagamaannya, dan didampingi agar tetap bertahan bahkan berprestasi di sekolah formal.

Hilmi adalah salah satunya. Dulu, ia belum bisa mengaji. Hari ini, ia sudah lancar membaca Al-Qur’an, rajin sholat berjamaah, dan tumbuh jadi pribadi yang lebih percaya diri. Perubahan itu nyata. Tapi perjalanan ini belum selesai.

  (Hilmi Abdul Halim, santri binaan Istana Yatim)

Kami Butuh Dukungan Sahabat

Jumlah anak yang ingin bergabung terus bertambah. Sayangnya, kapasitas asrama saat ini sangat terbatas.

Ruang belajar sempit. Tempat istirahat belum ideal. Fasilitas belum memadai untuk menampung lebih banyak anak dengan nyaman dan layak.

Kami berikhtiar ingin memperluas bangunan agar lebih banyak anak yatim bisa mendapatkan kesempatan yang sama:
👉 Pendidikan yang terjaga
👉 Pembinaan akhlak yang kuat
👉 Lingkungan yang aman dan suportif

(Pembangunan ruang baru asrama Istana Yatim sedang berlangsung)

Satu Kontribusi, Satu Masa Depan

Mungkin bagi Anda ini hanya satu donasi. Bagi mereka, ini bisa jadi alasan untuk tetap sekolah. Alasan untuk terus bermimpi. Alasan untuk percaya bahwa mereka tidak sendiri.

Mari ambil bagian dalam perluasan Istana Yatim. Mari hadirkan ruang yang lebih luas untuk harapan yang lebih besar.

Klik tombol Donasi Sekarang dan jadilah bagian dari perubahan mereka!

*Disclaimer:
80% dana yang terhimpun melalui program ini akan disalurkan untuk program Anak Yatim, 20% untuk kegiatan syiar dakwah kelembagaan, sebagaimana yang tercantum dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan.
[icon_timeline][icon_timeline_item time_title=”Tak Ingin Bebani Sang Nenek yang Sudah Renta, Reyhan Bertahan dengan Sepatu yang Sudah Kurang Layak Pakai hingga Terima Sepatu Baru dari Kebaikanmu”]

Tak semua anak cukup beruntung untuk tumbuh di bawah asuhan ayah dan ibu yang penuh kasih. Reyhan, seorang siswa kelas 1 SMK, punya cerita sendiri soal ini.

Barangkali, tidak ada ingatan yang tertinggal di kepala Reyhan tentang sosok ayah dan ibunya. Ayahnya pergi sejak Reyhan masih berada dalam kandungan, sementara sang Ibu merantau ke Jawa demi pekerjaan ketika Reyhan berusia 1 tahun dan tidak pernah kembali.

Sosok yang menemani dan menopang dirinya tumbuh hingga saat ini adalah sang nenek. Dengan usia yang sudah semakin lanjut dan fisik yang semakin renta, sang nenek terus bekerja sebagai buruh cuci dan setrika. Semua permintaan pekerjaan diambilnya tanpa memedulikan kondisi tubuh.

Bagi sang nenek, Reyhan bukanlah sekadar tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya. Reyhan adalah kebanggaannya. Prestasi Reyhan di sekolah, perilaku baiknya sehari-hari, sudah cukup menjadi alasan bagi Nenek untuk terus berjuang.

Apalagi, Reyhan tidak begitu saja meninggalkan neneknya berjuang seorang diri. Seringkali, Reyhan berusaha meringankan beban sang nenek dengan bekerja membersihkan makam di Taman Makam Pahlawan.

Reyhan tak banyak mengeluh, sepatu yang sudah robek dan tak lagi layak pakai pun terus dikenakannya karena tak ingin membebani neneknya.

Hingga kebaikan menghampirinya dalam bentuk bantuan sepatu dan buku tulis baru. Kebaikan yang lahir dari aksi nyata Sahabat untuk meringankan perjuangan Reyhan dan anak-anak lain yang kesulitan.

Sahabat, kamu juga bisa berpartisipasi untuk melahirkan kebaikan.

[/icon_timeline_item][/icon_timeline]