Di sudut pelosok Banten, ada seorang lelaki yang memanggul mimpi lebih berat daripada karung beras, namun tak pernah ia letakkan. Namanya Adang Hidayat. Setiap pagi, ia menunggang motor bebek tua dengan suara setengah megap, mengenakan sepatu boot lusuh, baju yang basah oleh keringat, dan tas berisi arit pemotong rumput.

Pemandangan ini bukan potret buruh kebun, tetapi kepala sekolah. Ya, kepala sekolah yang sebelum mengajar, harus lebih dulu mengarit rumput untuk ternak orang lain. Hasilnya ia gunakan bukan untuk membeli kemewahan, melainkan untuk menambal kebutuhan sekolah MTS Miftahul Ihsan 2, satu-satunya sekolah menengah di Pasir Bungur yang tak jauh dari perkampungan. MTS swasta yang dibangun sejak tahun 2003 dari dana swadaya masyarakat itu menjadi nyala di antara gelapnya keterbatasan.

Sekolah yang Jadi Tumpuan Harapan Warga di 2 Provinsi 

Sekolah ini menjadi tumpuan bagi warga di 11 kampung dan 2 provinsi, sebab letaknya yang terpelosok dan berada di daerah perbatasan antara Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dengan Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Sementara lokasi SMP Negeri dan sekolah menengah lainnya berada cukup jauh dari jangkauan warga, sehingga MTS ini pun menjadi sekolah andalan bagi warga sekitar.

Mayoritas siswa-siswi yang bersekolah di MTS Miftahul Ihsan adalah anak dari buruh tani. Sekolah ini pun tidak memungut iuran bulanan dari siswanya sebab keterbatasan finansial para wali murid. Begitupun dana bantuan dari pemerintah belum bisa sepenuhnya mencukupi kebutuhan sekolah, termasuk gaji yang layak untuk guru-gurunya.

Guru honorer di sekolah ini hanya digaji Rp 7000 saja per jam. Dan rata-rata per bulan guru cuma menerima upah di kisaran 150 ribu hingga Rp 1.200.000″, cerita Pak Adang.

Alhasil, tekad Pak Adang dan para guru dalam memberikan akses pendidikan terbaik bagi siswanya menemui banyak rintangan. Di saat banyak yang berlomba ingin menjadi kepala sekolah, para guru di MTS Miftahul Ihsan, termasuk Pak Adang, berulang kali menolaknya. Sejak 3 tahun terakhir, ia pun terpaksa mengemban amanah menjadi kepala MTS setelah sebelumnya sekolah ini terancam ditutup oleh Komite Sekolah.

Di tengah semua keterbatasan itu, Pak Adang tetap mengumpulkan keberanian membangun ruang kelas demi kenyamanan siswanya yang tiap tahun ajaran baru selalu bertambah. Ruang belajar yang tersedia saat ini hanya 2 kelas dengan total siswanya berjumlah 143 orang. Namun hal itu tak menyurutkan semangat belajar para siswa. Terbukti, keterlibatan siswa-siswinya dalam perlombaan tingkat kecamatan atau kabupaten pun tak jarang mendapat hasil membanggakan.

Tekad Pak Adang agar bisa memberikan kenyamanan maksimal bagi para murid sudah berwujud menjadi 3 bangunan kelas yang setengah jadi. Namun pembangunannya sedang mangkrak karena keterbatasan biaya.

Kini, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu sedang membutuhkan bantuan dari banyak pihak agar ruang kelas baru bisa terselesaikan. Sahabat, satu ruang kelas bukan hanya sebatas bangunan, namun jembatan masa depan. Mari berkontribusi dalam perjuangan Pak Adang memberikan kemerdekaan belajar untuk siswa-siswi di pelosok Banten dan Jawa Barat dengan donasi terbaik!

*Disclaimer:
80% dana yang terhimpun melalui program ini akan disalurkan untuk program Pembangunan Sekolah di Pelosok, 20% untuk kegiatan syiar dakwah kelembagaan, sebagaimana yang tercantum dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan.

Proses Pembangunan Ruang Kelas Baru MTs Miftahul Ihsan 2 di Banten yang Didukung Dana Kebaikanmu Masih Terus Berjalan, Kini Masuki Tahap Pemasangan Keramik

Keinginan murid-murid MTs Miftahul Ihsan 2 untuk belajar di ruang kelas baru semakin dekat untuk diraih.

Setelah satu bulan lebih pembangunan ruangan kelas kembali berjalan, sekarang prosesnya sudah sampai ke pemasangan lantai keramik. Dinding sudah berdiri dengan kokoh; atap pun sudah terpasang untuk memastikan anak-anak belajar dengan aman dan nyaman.

Masih ada beberapa tahap yang perlu dilewati, seperti pemasangan pintu, jendela, hingga pengecatan. Sehingga, ruang kelas memang belum bisa langsung dipakai ketika anak-anak mulai masuk sekolah bulan ini.

Namun, insya Allah proses pembangunan masih akan terus berjalan. Semoga Allah memudahkan setiap tahapnya ya, Sahabat. Supaya siswa MTs Miftahul Ihsan 2 di Banten bisa segera menempati kelas tersebut.

Terima kasih kembali kami sampaikan kepada Sahabat yang telah bersinergi bersama membangun ruangan kelas baru ini. Sinergi kita bersama membuka jalan agar anak-anak dapat tumbuh dan menjadi pribadi berdaya di masa depan.

Donasi Bantuan Pembangunan Ruang Kelas Baru untuk MTs Miftahul Ihsan 2 Pasirbungur Jadi Aksi Nyata untuk Sambungkan Mimpi Guru dan Siswa di Pedalaman Banten

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Setiap ikhtiar, setiap keping uang dan doa yang dikumpulkan para guru MTs Miftahul Ihsan 2; semuanya memberikan sumbangan untuk mewujudkan mimpi akan terbangunnya gedung sekolah yang layak.

Hari Kamis (4/12) kemarin, mimpi mereka selangkah lebih dekat menuju kenyataan.

Sebelumnya, progress pembangunan berjalan begitu lambat dan seringkali tersendat karena keterbatasan biaya yang hanya bersumber dari iuran para guru. Kali ini, kepedulian dari berbagai pihak melalui Sinergi Amil Zakat – Sinergi Foundation hadir dalam bentuk donasi sebesar 38 juta rupiah.

Bantuan tersebut memberikan kesempatan bagi pihak sekolah untuk menyediakan sejumlah besar material bangunan dan pekerja untuk mendorong proses pembangunan.

Kegembiraan dan antusiasme dari pihak guru dan murid terlihat begitu jelas ketika proses penyerahan donasi dilakukan. Seluruh civitas berkumpul, memadati lapangan yang basah dan berlumpur karena hujan di hari sebelumnya.

Ucapan terima kasih dan doa agar pembangunan berjalan cepat dan lancar bergema dari tiap-tiap sudut sekolah. Siswa berkumpul menyaksikan pembangunan dengan raut penasaran. Tak sabar melihat ruang kelas mereka segera berdiri kokoh.

Perasaan penuh haru tampak begitu jelas dari sang Kepala Sekolah, Adang Hidayat. Ia begitu tak menyangka akan ada orang-orang di luar sana yang peduli pada nasib sekolah kecil di pelosok Banten ini. Rasa syukur berulang kali diucapkan, mencerminkan kebahagiaan yang tak terperi.

Sahabat, sebesar itu makna bantuanmu bagi mereka; menyambung mimpi dan menerbitkan harapan. Mari lanjutkan aksi nyata kita membantu melalui sedekah terbaik.