Kacang, kanebo, tempat kartu e-toll diikat dengan tali plastik dan digantung di tangan sebelah kiri. Di tangan kanan, nampak beberapa bungkus masker kain turut dijajal keliling. Begitulah cara Pedagang Asongan ini bertahan hidup di tengah krisis akibat pandemi.

Sosok yang ramah dan penuh senyum itu kami temui di persimpangan lampu merah, tak jauh dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Sedang duduk beralaskan bata, disamping pedagang koran dan penambal ban.

Minggu-minggu yang berat ini dilaluinya dengan ekstra peluh. Pandemi covid-19 memang membuat semua elemen dan manusia kalangkabut. Walau tahu betul ancaman virus mematikan itu menghantuinya, namun ada ancaman lain yang tak kalah ia takuti ; bahwa keluarganya bisa tidak makan kalau tidak terus berjualan.

pedagang asongan, covid-19

Yang paling miris dari percakapan kami saat itu adalah, saat mendengarnya mengucapkan, “Sudah hampir seminggu ini cuma bisa makanin dagangan aja. Karena ya penghasilan gak ada,” ujarnya sambil tetap tersenyum, sembari menahan ketir mungkin saja.

Bapak dari 6 orang anak itu bisa menghasilkan Rp 50ribu – Rp 100ribu per hari, tentu saja sebelum musim pandemi mendera. Kini, berbagai cara untuk bertahan pun dilakukan, salah satunya dengan menjual masker kain yang baru ia coba 2 hari belakangan.

“Kalau wabah ini bakalan lama, gimana pak?” Kami bertanya. Lalu ia hanya menanggapi dengan senyum dan bilang, “Iya kayakanya bisa sampai lebaran, ya gimana atuh? Udah takdir hehe.”

Tim Sinergi Foundation menyerahkan titipan amanah donatur berupa satu paket sembako untuk beliau. Insya Allah, bantuan ini turut memberi energi bagi ia dan keluarganya dalam menghadapi pandemi ini.

Dan teruntuk para pejuang nafkah yang masih tetap harus keluar rumah, doa kami menyertai teman-teman semua. Semoga Allah cukupkan rezeki dan kesehatan untuk kita mampu berjuang melewati masa-masa tersulit ini. Aamiin

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!