Di dalam Al-Qur’an, anak yatim bukan hanya disebut sekali atau dua kali. Bahkan, kata yatim dan pembahasan tentang hak-hak mereka berulang kali hadir dalam berbagai surah. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap anak yatim bukanlah perkara sampingan, melainkan bagian penting dari ajaran Islam.

Mengapa demikian?

Salah satu alasannya adalah karena anak yatim merupakan kelompok yang sangat rentan. Mereka kehilangan sosok yang seharusnya menjadi pelindung, pencari nafkah, sekaligus tempat bersandar. Karena itulah, Allah SWT mengambil langsung peran sebagai Penjaga mereka dengan memerintahkan kaum beriman untuk memastikan hak-hak mereka tidak diabaikan.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat hingga ia dewasa.”
(QS. Al-An’am: 152)

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Allah terhadap hak anak yatim. Bahkan bukan hanya melarang mengambil harta mereka, Allah juga melarang mendekatinya dengan cara yang dapat merugikan.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

“…Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik…”
(QS. Al-Baqarah: 220)

Ayat ini mengajarkan bahwa kepedulian kepada anak yatim tidak cukup hanya berupa belas kasihan. Islam mendorong umatnya untuk benar-benar memperbaiki kehidupan mereka, mulai dari pendidikan, kesehatan, kebutuhan sehari-hari, hingga memberikan kasih sayang dan pendampingan.

Para ulama juga menjelaskan hikmah di balik besarnya perhatian Al-Qur’an kepada anak yatim.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan berbuat zalim kepada anak yatim merupakan bentuk perlindungan Allah kepada mereka yang belum mampu membela haknya sendiri. Oleh karena itu, siapa pun yang mengurus anak yatim dengan amanah telah menjalankan perintah yang sangat mulia di sisi Allah.

Sementara Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa Islam bukan sekadar melarang menyakiti anak yatim, tetapi juga memerintahkan umatnya untuk menjaga kehormatan, harta, pendidikan, dan masa depan mereka. Kepedulian kepada anak yatim menjadi ukuran nyata hadirnya keadilan dan kasih sayang dalam sebuah masyarakat.

Kemuliaan memuliakan anak yatim juga ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini.” (Lalu beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan keduanya.)
(HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi kabar gembira bahwa mendampingi anak yatim bukan hanya menghadirkan senyum di dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju kedekatan dengan Rasulullah ﷺ di surga.

Pada akhirnya, perhatian kepada anak yatim bukan sekadar tentang memberi santunan. Lebih dari itu, ia adalah bentuk ibadah, wujud syukur atas nikmat yang Allah berikan, sekaligus bukti bahwa keimanan melahirkan kepedulian kepada mereka yang paling membutuhkan.

Mungkin kita tidak mampu menggantikan sosok yang telah mereka kehilangan. Namun dengan kasih sayang, perhatian, dan dukungan yang kita berikan, kita bisa menjadi bagian dari alasan mereka kembali memiliki harapan dan tersenyum menatap masa depan.

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!