Kehidupan yang penuh cobaan telah mengajarkan Ibu Dian Marliyah arti kekuatan. Rasa asam pahit yang sering ia telan, mengajarkannya hakikat tawakal dan syukur.
Mendidik dengan kesabaran. Adalah bahasa jiwa dari seorang ibu yang dikaruniai anak berkebutuhan khusus (anak yang spesial).
“Jika ditanya, bagaimana caranya bisa bertahan dengan semua ujian ini, saya hanya bisa menjawab tawakal dan sabar,” kata Ibu Dian, salah satu penerima manfaat bantuan dari Sinergi Pelayanan Masyarakat (SPM).
Ibu Dian mengakui, sebelas tahun membesarkan Dinda, anak ketiganya yang menderita Cerebral Palsy bukan tanpa air mata. Ia bercerita, tidak sedikit anak-anak tetangga yang suka mengolok-olok dinda, dengan mengatakan wajahnya menakutkan.
“Saya hanya bisa menegur atau terkadang juga diam dengan semua perkataan tersebut. Akan tetapi di dalam hati saya, sebenarnya menangis. Bukan keinginan Dinda, menjadi seperti ini,” katanya.
Dian meneruskan, sabar yang dimaksud, bukan pasrah tanpa usaha. Namun tetap berikhtiar mengupayakan kesembuhan sang anak.
“Harapan saya sederhana, bisa terus membersamainya hingga ajal menjemput,”
