Salah satu sudut Kampung Calemboh di Kabupaten Lebak, Banten, menyimpan kisah yang penuh dengan kesepian dan penantian.
Di dalam sebuah rumah panggung sederhana, seorang wanita tua bernama Nenek Sukamah menghabiskan hari-harinya seorang diri. Pada usianya yang kini menginjak 85 tahun, punggungnya menanggung kerinduan akan sosok teman hidup yang telah meninggalkannya 10 tahun lalu.
Meski memiliki sembilan orang anak, takdir membuat Nenek Sukamah berpisah dengan mereka. Anak-anaknya harus berjuang di ladang karet demi sesuap nasi. Upah mereka yang hanya Rp5.000 per hulu karet membuat rasanya tak memungkinkan bila harus merawat sang Ibu sambil memenuhi kebutuhan di rumah.
Setiap pagi, Nenek Sukamah duduk di teras rumahnya. Ia tak lagi banyak beraktivitas karena lutut yang kerap terasa nyeri.
“Cuma bisa duduk di sini, sambil berdoa,” bisiknya pelan pada diri sendiri. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menghadapi hari tua sambil bersandar pada iman.
Sesekali datang tawa riang dari cucu-cucunya, memecah kesunyian yang temani hari-hari Nenek Sukamah. Mereka datang, memeluk Nenek Sukamah, dan bermain di sekitar rumah.
Momen seperti itulah yang menjadi pelipur lara, menyelipkan kebahagiaan untuk membuatnya tetap kuat.
Kisah Nenek Sukamah adalah cerminan dari banyak lansia di pedesaan, yang harus menghadapi masa tua dengan keterbatasan. Hidup yang tak pernah menjanjikan kemudahan, namun selalu ada harapan yang menemani.

Kebaikanmu yang mewujud dalam bantuan sembako serupa harapan baru baginya. Terbitkan senyum di wajah yang kini berhiaskan keriput tanda perjuangan yang telah dilewati selama hidup.
Dengan sinergi bersama, kebaikanmu bisa lebih banyak bantu warga, tumbuhkan harapan mereka di atas keterbatasan.
