Perjalanan Rasulullah dari Ka’bah ke Baitul Maqdis (isra’), kemudian berlanjut dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha (mi’raj) hanya dengan waktu 1 malam pada tanggal 27 Rajab, bukanlah sekadar perjalanan biasa.
Perisiwa luar biasa ini merupakan proses penyempurnaan risalah shalat 5 waktu yang akan diterima Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam secara langsung.
Pun peristiwa ini menurut Syekh Dr Raghib as Sirjani dalam makalahnya “Al Isra wa al Mi’raj Durus wa Ibar”, dapat diposisikan sebagai motivasi untuk kembali memperteguh komitmen keagamaan seorang hamba.
Karena jika dipikirkan secara logika, memang apa yang terjadi pada Rasulullah nampak tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa berpindah dari Ka’bah hingga langit ketujuh dalam semalam?
Namun di sinilah peran iman, sehingga kita terhindar dari keraguan. Sebagaimana dinukilkan Ibn Katsir dalam Tafsir Al Quran al Azhim, sepakat atas kebenaran Isra Mi’raj.
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al Isra: 1)
Sahabat, pun dari perjalanan Rasulullah ini, kita banyak melihat tanda-tanda keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala. Mulai dari perjalanan Rasulullah hingga penggambaran Arsy, tempat Allah menyambut Rasulullah dengan shalawat.
Semoga kita diberi hidayah untuk senantiasa memperbaiki shalat sebelum ajal mendekat, aamiin.
