Hidup seorang diri tanpa keluarga di sisi, apa lagi yang harus dikejar selain ilmu dan sebanyak-banyaknya amal shaleh?
Keyakinan itu lah yang menemani hidup Bu Iroh setiap harinya. Di usia 58 tahun, tak banyak yang ia harapkan. Yang diinginkannya sekadar hidup cukup dan batin yang tenang.
Selain berjualan tisu di Antapani, Bu Iroh mengisi hari-harinya dengan mendatangi setiap kajian yang mampu dijangkaunya. Termasuk Kajian Sinergi yang tak pernah ia lewatkan. Setiap bulan, disediakannya waktu untuk datang dan mengumpulkan ilmu yang diberikan penceramah di Kajian Sinergi.
Meski harus berjalan kaki selama satu jam dari tempat tinggalnya di Terminal Cicaheum ke Masjid Ad-Da’wah, semangat Bu Iroh untuk mempertebal keimanannya tak pernah surut.
Pada kesempatan Kajian Sinergi hari Sabtu (21/6) lalu pun, ia terlihat hadir. Seolah tak pernah penuh dahaganya terhadap ilmu agama.
Bantuan sembako yang didapatnya setelah mengikuti Kajian Sinergi hanya dianggapnya sebagai tambahan, bukan alasan utama ia hadir saat kajian. Tapi, rasa syukurnya tetap melimpah setiap kali menerima sembako.

Baginya, bantuan tersebut sangat berarti untuk menyambung hidupnya di masa tua. Apalagi, satu-satunya sumber pendapatan yang ia miliki hanyalah dari berjualan tisu, yang tentu saja tak mampu menopang kebutuhan hidupnya.
“Berterima kasih sekali, buat donatur-donatur. Biar bermanfaat, sama ibu didoakan, biar tambah banyak rezekinya,” ucap Bu Iroh dengan penuh rasa syukur.
