Sahabat, barangkali sangat aneh jika mendengar kata apartemen ikan. Apakah ikan tinggal di apartemen? Bukankah ikan tinggal di perairan seperti laut? Di artikel ini, kita akan membahasnya lebih lanjut.

Sebagai perkenalan, mari ketahui dulu bahwa Fish Bank adalah salah satu program pemberdayaan yang dilakukan Sinergi Foundation di pesisir Banyuwangi. Aktivitas pertamanya adalah membangun apartemen ikan, dan targetnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Apa Itu Apartemen Ikan Fish Bank?

Apartemen Ikan Fish Bank adalah modul berbentuk piramida yang terbuat dari batok kelapa, ijuk, dan bambu. Fungsinya adalah menciptakan ekosistem baru bagi ikan yang habitatnya kian terganggu.

Mengapa bisa menciptakan ekosistem baru? Sebab ia memang mentransplantasi karang yang bermanfaat sebagai rumah ikan agar kembali lestari. Sebab itu, bahan yang digunakan ramah lingkungan dan dibuat agar ikan-ikan mau mendekat.

Apa saja bahannya?

1. Bambu: karakter dan material bambu paling disukai oleh ikan dan terbukti tahan dengan air laut
2. Tali ijuk: Tali terkuat dari semua tali yang ada
3. Batok kelapa: teksturnya kuat dan tahan air asin, juga digunakan sebagai media transplantasi karang

Bentuk apartemen ini dibuat seperti piramida agar tidak ada sampah yang tersangkut.

Mengapa Perlu Ada Apartemen untuk Ikan? Apa Fungsinya?

Ini berawal dari keresahan para nelayan yang merasa laut tak lagi seramah dan tak sebaik dulu. Penyebabnya tentu tak lain dan tak bukan adalah manusia itu sendiri, sehingga laut dan isinya enggan berinteraksi dengan manusia.

Tatanan hidup makhluk laut sangat bergantung pada terumbu karang. Terumbu karang ibarat hutan tropis di daratan, yang jika dirusak, kehidupan di dalamnya akan terancam.

Masalahnya, manusia gemar sekali berulah. Sebanyak 80% karang di Indonesia mengalami kerusakan. Dan salah satu faktornya adalah pengeboman masif, polusi laut, manangkap ikan yang merusak terumbu, sampah dari darat, dan lain-lain.

Alhasil, ikan-ikan menjauh, mencari tempat di mana terumbu karang masih bisa ditinggali. Dan sebab itulah, secara tidak langsung, ini berdampak pada pencaharian nelayan yang bergantung pada ikan di lautan.

Di Pantai Bomo Banyuwangi, misalnya. Para nelayan setempat perlu melaut berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ke Selat Bali atau Madura demi dapat ikan. Itupun hasilnya tak seberapa.

Saling menyalahkan tentu tidak ada habisnya. Sebab itu, para nelayan di Pantai Bomo kemudian menginisiasi keberadaan rumah ikan yang bisa berfungsi seperti terumbu karang.

Sebab jika menunggu terumbu karang tumbuh kembali, sangat lama hingga 5.000 tahun. Maka dari itu, para nelayan pun membuat apartemen untuk ikan yang mereka namai pula dengan Fish Bank.

Dampak Program Ini

Program ini telah berlangsung sejak 2020, di Pantai Bomo dan Pantai Badean. Sinergi Foundation sebagai pemberdaya nelayan, menyaksikan perubahan positif dari hadirnya program ini.

Kira-kira ada sebanyak 223 orang nelayan yang merasakan manfaat program Fish Bank. Beberapa bulan setelah apartemen bagi ikan ini ditanam di laut, telur-telur ikan dan gurita menempel di rangkanya.

Selain itu, gerombolan ikan beragam warna mulai mendekat. Mulai dari kakap merah, gurita, cumi-cumi, slider, dan lainnya, sudah bisa ditangkap oleh para nelayan dan jadi pendapatan menguntungkan.

Kini, tak ada lagi nelayan Pantai Bomo yang merantau jauh meninggalkan desa. Mereka hanya perlu melaut 2-3 kilometer, untuk bisa meraup satu kwintal ikan. Masya Allah!

Sahabat, program ini berasal dari zakatmu. Yuk dukung program Fish Bank untuk nelayan-nelayan lainnya di Indonesia! Klik: bit.ly/sinergizakat

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!