Program Waqf Integrated Farm (WIF) mulai dirintis sekitar tahun 2019 di Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang. Ada banyak kisah yang bisa di ketengahkan selama keberjalanannya, baik itu suka atau duka, tantangan dan kebutuhan di sana.
Tak kalah menarik, mengangkat kisah para punggawa WIF yang dengan setia dan loyal menjalani program ini. Sahabat, inilah kisah Kang Faisal, salah seorang pendamping, yang menggawangi pogram WIF sejak pertama kali digulirkan ke tengah-tengah masyarakat.
Bernama lengkap, Ma’ruf Faisal Jaenuri, seorang amil Sinergi Foundation yang ditugaskan berada di Subang. Dipilihnya Kang Faisal, sapaan karibnya, juga bukan tanpa alasan. Sebagai lulusan D-3, IPB jurusan peternakan menjadi salah satu pertimbangannya.
“Sebelum di SF, saya pernah bekerja di salah satu peternakan ayam pada 2015. Juga di peternakan sapi dan domba, di tahun 2016 sampai 2019. Dengan pengalaman tersebut, mudah-mudahan menjadi bekal yang cukup untuk menerima amanah di sini,” akunya.
Kang Faisal sendiri, melihat WIF sebagai suatu program yang bagus dan menarik. Menurutnya, keunggulan dari WIF itu adalah pemberdayaan, dengan menyebarkan bibit domba kepada masyarakat. Selain itu, WIF dinilai dapat menjadi solusi bagi permasalahan peternakan dari hulu sampai hilirnya, karena mengusung konsep terintegrasinya.
“Selama menggawangi program WIF, saya mendapatkan banyak ilmu baru. Karena bisa belajar kepada orang-orang di WIF yang juga ahli di bidang peternakan dan pertanian. Seperti Abah Taryat dan Ustaz Miftah,” katanya.
Di program WIF ini, Kang Faisal memiliki tugas utama menjaga kesehatan hewan. Selain memberikan pakan bernutrisi, dia juga ditugaskan untuk memberikan obat anti parasit setahun sekali. Pengalamannya yang banyak, membuat dirinya tidak kesulitan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu semua.
“Saya lebih fokusnya di kesehatan dan mengontrol kondisi domba. Selain itu, membantu bersih bersih, cek lahan rumput, termasuk kontrol temen temen pekerja di sini,” ungkapnya.
Selama lebih dari tiga tahun bertugas, Kang Faisal tidak menampik ada banyak tantangan sulit yang harus ia jawab. Yakni tentang pembuatan sistem Standar Operasional Prosedur (SOP), peraturan, dan kontrak kerja. Atau mengenai pembenahan manajemen pemeliharaan.
Belum lagi, lanjutnya, jika berbicara tentang persaingan harga dan mencari pasar untuk penjualan domba. Menurutnya itu menjadi kesulitan tersendiri di program ini.
“Tapi yang terpenting, program ini memiliki jangkauan manfaat yang begitu luas bagi masyarakat. Ditambah, saya juga kerasan bekerja di Sinergi Foundation. Saya pikir di sini bukan hanya bekerja saja, tapi ibadah juga tetap diperhatikan, tutupnya. ()



