Tak kalah dengan para ulama dan cendekiawan yang kebanyakan dari kaum lelaki, perempuan juga memiliki potensi yang luar biasa dalam membangun peradaban.
Misalnya di masa kepemimpinan Nurudin Zanki, muslimah juga berperan dalam gerakan ishlah dan pembaharuan.
Ada Syaikhah Aisyah binti Muhammad al Baghdadi. Ia meraih ijazah dari Syaikh Abdul Qadir al Kilani, pendiri Madrasah al Qadiriyah, kemudian mengoptimalkan seluruh waktunya untuk membimbing kaum wanita. Syaikhah Aisyah menjadi panutan dalam pengajian, bimbingan keagamaan, ibadah, dan keshalehan.
Hal yang sama dilakukan pula oleh Syaikhah Taj an Nisa binti Fadha’il bin Ali at Takriti. Bersama suaminya, Abdurrazzaq bin Abdul Qadir al Kilani, beliau menimba ilmu di Madrasah al Qadiriyah. Setelah sekian lama belajar, ia pun menjadi seorang ulama perempuan yang aktif memberi kajian dan bimbingan. Syaikhah Taj an Nisa menekuni bidang pendidikan tersebut hingga akhir hayatnya.
Dari lingkungan Madrasah as Suhrawardiyah ada Syaikhah Khashshah al Ulama binti al Mubarak bin Ahmad al Anshari. Beliau mengajar di sebuah ribath (**pondokan sufi) khusus yang dibangun di Bab al Azj, Baghdad. Tempat tersebut difungsikan menjadi tempat pengajian ibu-ibu dan pendidikan anak-anak perempuan.
Selain mereka, masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan yang luar biasa dan memiliki andil besar. Para muslimah ini bahkan dikategorikan sebagai ulama mushlih.
Tidak hanya menjadi insan taat yang shaleh, tapi juga membawa perubahan yang baik bagi orang-orang yang berada di sekitar mereka. Gerakan ini kemudian melahirkan generasi unggulan yang membawa kejayaan Islam di masa Shalahuddin Al Ayyubi.
See? Peran perempuan pada keemasan Islam juga luar biasa. Tetap menjaga kehormatan mereka dan dapat berperan dalam mendidik generasi shaleh. Yuk ladies, jadi muslimah luar biasa seperti mereka!
