Di usianya yang baru menginjak 10 tahun, Kinara Mahendra telah memiliki impian yang begitu besar. Bukan tentang mainan baru atau liburan, melainkan sebuah cita-cita mulia untuk membahagiakan sosok yang paling berjasa dalam hidupnya.
“Aku pengen jadi sukses dan terkenal. Biar bisa biayain Ibu ke Mekkah.”
Kalimat sederhana itu keluar dari hati seorang anak yang setiap hari menyaksikan perjuangan ibunya menghadapi kerasnya kehidupan.
Saat ini Kinara bersiap memasuki kelas 3 sekolah dasar. Meski usianya masih belia, ia sudah memahami bahwa ibunya memikul tanggung jawab yang tidak ringan sejak sang ayah meninggal dunia.
“Ibu harus ngurus aku dan kakak-kakakku sambil jualan soto. Buat makan dan buat bayar utang,” cerita Kinara.
Sejak kehilangan ayah, sang ibu menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Setiap hari ia berjualan soto demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus melunasi berbagai kewajiban yang harus ditanggung.
Melihat perjuangan tersebut, Kinara memilih untuk tidak menjadi beban tambahan bagi ibunya. Ia belajar hidup sederhana dan berusaha membantu dengan caranya sendiri.
“Biar Ibu nggak keberatan, aku juga suka nabung,” ujarnya.
Bagi Kinara, membahagiakan ibu tidak hanya dilakukan melalui kata-kata. Ia bertekad menunjukkan rasa cintanya dengan belajar sungguh-sungguh di sekolah.
“Aku cuma pengen Ibu seneng dan bangga. Makanya aku rajin belajar dan kumpulin banyak prestasi. Nilaiku bagus dan aku sering dapet ranking kedua.”

Semangat belajar itu tetap ia jaga meski perlengkapan sekolah yang dimilikinya sudah jauh dari kata layak. Sepatu yang mulai robek dan tas yang telah usang bukan alasan baginya untuk berhenti mengejar prestasi.
“Biarpun sepatu dan tasku udah robek, aku nggak mau maksa Ibu beli. Aku tau cari uang susah banget.”

Alih-alih meminta, Kinara justru lebih sering memanjatkan doa agar Allah SWT melapangkan rezeki ibunya.
“Kalau rezeki Ibu lancar, aku bisa beli perlengkapan sekolah.”
Kisah Kinara menjadi potret perjuangan banyak anak yatim dan dhuafa di Indonesia. Di tengah berbagai keterbatasan ekonomi, mereka tetap memelihara semangat belajar dan menyimpan harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Melalui program Ceriakan Yatim, Sinergi Foundation mengajak masyarakat untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak seperti Kinara. Dukungan yang diberikan akan membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah yang layak, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih nyaman dan percaya diri.
Setiap bantuan yang disalurkan bukan sekadar menghadirkan tas, sepatu, atau perlengkapan belajar baru, tetapi juga menjadi bukti bahwa masih banyak orang baik yang peduli terhadap masa depan anak-anak yatim dan dhuafa.
Mari bersama menjadi bagian dari perjalanan mereka meraih cita-cita. Ulurkan kepedulian terbaik melalui s.id/ceriakanyatim, agar semakin banyak anak yang dapat terus belajar, berprestasi, dan menjemput masa depan yang lebih cerah.
