Tahun kesembilan hijrah. Politik umat Islam saat itu tengah berada dalam perkembangan yang amat baik. Rasulullah mengirimkan sejumlah utusan untuk menyampaikan surat pada raja-raja yang dikenal bangsa Arab. Namun, pergolakan terus terjadi. Sebagai strategi Romawi yang tak puas dalam Perang Mu’tah terdahulu, mereka mencoba menyerang wilayah-wilayah umat Islam.

Sebab itu, Rasulullah pun menyeru jihad, mengajak umat untuk turut serta dalam ekspedisi menuju Tabuk. Sebuah wilayah di utara Hijaz, nun sejauh 778 mil dari Madinah, yang merupakan daerah kekuasaan Romawi. Sang Nabi pun mengabarkan pada para sahabat terkait rencana melaksanakan peperangan di tempat yang amat jauh itu.

Akan tetapi, untuk melawan Romawi, Rasulullah membutuhkan bala tentara yang amat banyak. Maka tak heran, ketika seruan jihad dikumandangkan, kaum muslimin dari seluruh pelosok negeri berbondong-bondong memadati Madinah. Semua orang melengkapi diri dengan perlengkapan perang seperti baju besi, pedang, panah, tombak, unta, kuda dan lain lain.

“Barang siapa yang mempersiapkan Jaisyul ‘Usroh (Perang Tabuk), untuknya surga!” seru Rasulullah. Ia pun mengajak umat Islam menginfakkan harta mereka guna bekal pasukan dalam perjalanan jauh menuju medan perang.

Tersebutlah, seorang fakir bernama Ulbah bin Zaid yang merana mendengar sabda Rasulullah itu. Panas dingin tubuhnya sebab rasa cemas menggelayut. Ia khawatir tidak dapat berkontribusi dalam perang ini. Apalah daya, ia hanya seorang laki-laki miskin yang tidak memiliki harta benda untuk diinfakkan. Tercenunglah ia menatapi kesibukan muslimin berlomba-lomba mengambil peran.

Di Masjid Nabawi, Ulbah melihat Abu Bakar datang dengan gagah menyedekahkan uang sebanyak 4000 dirham untuk perang. Rasulullah bertanya: “Apa yang engkau sisakan kepada keluargamu?”

Abu Bakar menjawab: “Aku tinggalkan Allah beserta Rasul-Nya”. Rasulullah pun menjawab: “Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku seperti harta Abu Bakar.”

Lalu datang pula sahabat mulia Utsman bin Affan membawa 1000 dinar. Kala diserahkan, Rasulullah berkata pada Utsman, “Tidak ada yang membahayakan Usman dengan apa yang dia perbuat setelah ini.”

Tak hanya kedua manusia mulia itu. Ulbah melihat pula Umar bin Khattab membawa separuh hartanya, juga Abdurrahman bin Auf yang menyedekahkan 200 uqiyah perak. Pun, sahabat-sahabat lain yang tak tergolong kaya turut pula menyerahkan infak sesuai dengan apa saja yang mereka miliki. Ulbah menelan ludahnya. Getir dan sesak, karena tak mampu menyedekahkan apapun.

Kesedihannya itu membayangi Ulbah. Bahkan hingga gelap menaungi Madinah, Ulbah tak mampu memejamkan mata sekejap pun. Resah dipikirkannya perkara ini, hingga bolak-balik tubuh Ulbah di atas tikar lusuh. Gelisah, tak bisa tidur. Guna menghilangkan gundah hati itu, Ulbah beranjak mengambil wudhu.

Dalam ketenangan malam, dicurahkannya seluruh isi hati pada Sang Pemilik Langit dan Bumi. Bersujud seraya tak henti air matanya mengalir di kedua pipi. Tak henti ia berdoa, menumpahkan betapa inginnya ia turut andil dalam jihad di Perang Tabuk. Berperan menegakkan agama-Nya.

“Ya Allah, tidak ada yang dapat aku infakkan sebagaimana yang lainnya telah berinfak. Seandainya aku memiliki seperti yang mereka punya, aku akan lakukan untuk-Mu, demi jihad di jalan-Mu. Yang aku punya hanya kehormatan, kalau Engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah bahwa semua kehormatanku telah aku sedekahkan malam ini untukMu!” jerit Ulbah pilu. Diulang-ulangnya doa itu dengan sedu sedan.

Ketika fajar menjelang, Ulbah datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama Rasulullah. Usai beribadah, Sang Nabi bertanya pada para sahabat: “Siapa yang tadi malam telah bersedekah? Hendaklah ia berdiri.”

Para sahabat terdiam, tak ada satu pun dari mereka yang berdiri. Begitu pula dengan Ulbah, yang tak merasa dirinya bersedekah. Namun rupanya, telah sampai kabar dari Jibril kepada Rasulullah. Allah SWT tak menyia-nyiakan sujud simpuh hamba-Nya. Sang Nabi menghampiri Ulbah bin Zaid.

“Bergembiralah Ulbah. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima. Allah mencatat tangisanmu sebagai sedekah.” kata Rasulullah.

Ulbah terperanjat. Haru memenuhi dadanya. Padahal, Ulbah hanya melakukan apa yang ia mampu: menangis manakala dirinya tak semampu sahabat mulia lain yang begitu dermawan. Tak pernah ia kira, menangis di penghujung malam dengan penuh perasaan menyesali diri karena tak mampu berinfak, adalah termasuk bersedekah.

Demikianlah kisah Ulbah bin Zaid menginspirasi kita semua. Ia menjadi representasi dari para sahabat yang ingin berbagi, namun ia tak banyak memiliki apa-apa untuk dibagi. Dan Allah SWT mendengar rintihan mereka, memberikan solusi kepada para sahabat agar mereka tetap bersedekah meski bukan dalam bentuk uang.

Dalam riwayat lain, sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami puasa. Mereka bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki, sedangkan kami tidak mampu bersedekah (karena miskin).”

Rasulullah SAW pun bersabda, “Bukankah Allah telah memberimu jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah. Setiap tahlil adalah sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, dan setiap jimak kalian terhadap isteri adalah sedekah,”

Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya itu berpahala?” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika hal itu disalurkan dengan jalan yang haram? Bukankah baginya dosa? Demikian pula jika disalurkan dengan jalan yang halal, maka baginya berpahala.” (HR Muslim)

(agh)

Assalamualaikum, Sinergi Foundation!