Setiap orang pastilah mendamba bisa melaksanakan shalat secara khusyuk. Namun pada praktiknya, saat shalat pastilah ada gangguan. Mulai dari memikirkan pekerjaan, pekerjaan ruamh yang belum dituntaskan, hingga perihal menu masakan untuk keluarga.
Padahal melaksanakan shalat bukan sekadar ibadah yang dikerjakan guna menggugurkan kewajiban semata. Jika dilaksanakan dengan khusyuk dan tulus ikhlas, shalat juga bisa menjaga kita dari perbuatan tercela.
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman, “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al ‘Ankabut : 45)
Orang yang selalu mengingat Allah, di dalam hatinya akan tumbuh muraqabah. Yakni perasaan meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi, melihat, mendengar dan mengetahui semua sepak terjangnya setiap saat, setiap tarikan nafas dan setiap kejapan mata (Ibnu Al Qayyim).
Perasaan inilah yang kemudian akan selalu menjaga kita dari akhlak yang buruk, karena merasa Allah selalu ada di dekat kita.
Syaikh ‘Abdur Rahman As Sa’diy Rahimahullah mengatakan, “Sisi dimana shalat mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar adalah selama seorang hamba mendirikan shalat dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, kekhusyu’annya maka hatinya akan bercahaya dan menjadi suci, menambah keimananan, menguatkan rasa ingin mendapatkan kebaikan, meminimalisir atau meniadakan keinginannya untuk berbuat keburukan… Inilah maksud dan buah yang paling agung dari shalat.” (Lihat Taisri Karimir Rohman hal. 1317/VI terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA)
Pun dengan melaksanakan shalat secara khusyuk, menurut Imam Ibnu Katsir ada manfaat dan faidah yang besar. Dari shalat yang khusyu’ dalam membawa seorang mukmin untuk merasakan kemanisan iman dan menjadikan shalatnya sebagai qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) baginya.
Masya Allah.. Sahabat, yuk kita koreksi lagi ibadah shalat kita. Insya Allah dengan membenahi shalat dapat meningkatkan ketakwaan dan kualitas hidup kita.
Source: DBS
